
"Aku akan membantu kakak memilihkan kado ulang tahun, tapi bersama daddy dan mommyku, itu!" Kata Ken sambil menunjuk Retta yang sudah berdiri di belakang Rasya.
Rasya begitu terkejut mendengar perkataan Ken. Dia segera menoleh menatap Retta yang tengah berdiri di belakangnya. Rasya segera menoleh menatap Vanno.
"Apa maksudnya ini Van?" Tanya Rasya.
Vanno mencebikkan bibir bawahnya mendengar pertanyaan Rasya. "Kamu sudah dengar tadi. Mereka anak-anak dan istriku." Jawab Vanno. "Sorry. Kami nggak bisa nemenin kamu." Kata Vanno sambil beranjak pergi dan menarik lengan Ken. Retta juga melakukan hal yang sama pada Khanza dan beranjak pergi mengikuti Vanno.
Sementara Rasya, dia masih terlihat tidak percaya. Benarkah Vanno sudah menikah dan mempunyai anak sebesar itu? Gumam Rasya.
Dia merasa sangat penasaran dengan Vanno. Rasya segera mengambil ponselnya dan segera menghubungi seseorang.
"Hallo, lo dimana?" Tanya Rasya setelah berhasil menghubungi seseorang.
"......"
"Temui gue di cafe biasa. Ada yang ingin gue ingin tanyakan tentang Vanno." Kata Rasya.
"......"
"Oke, gue kesana sekarang." Klik. Rasya menutup teleponnya.
Rasya masih mengamati kepergian Vanno dan keluarganya. Dia benar-benar tidak habis pikir. Bagaimana mungkin Vanno sudah menikah. Dan kenapa jika menghadiri acara penting, Vanno sering ditemani oleh Tora? Kenapa bukan oleh istrinya? Banyak pertanyaan yang berkelebat di kepalanya. Dia harus memastikan kebenarannya.
Rasya segera beranjak dari tempatnya. Dia hendak pergi ke cafe untuk menemui seseorang. Rasya terlihat terburu-buru hingga melupakan tujuan awalnya datang ke mall tersebut untuk membeli kado ulang tahun sang papa.
Setelah sekitar empat puluh menit kemudian, Rasya sampai di sebuah cafe. Dia terlihat memperhatikan sekeliling untuk mencari seseorang. Setelah mendapatkan apa yang dicari, Rasya segera menghampirinya.
"Sudah lama?" Tanya Rasya setelah mendudukkan diri di depan Renata. Ya, dia adalah Renata, teman kuliah Vanno dulu yang sangat terobsesi dengan Vanno. Namun, dia lebih memelih mundur karena tahu siapa Vanno sebenarnya.
"Belum, ini juga baru sampai." Kata Renata. "Mau pesan apa?"tanya Renata kepada Rasya.
"Minum saja deh, terserah." Jawab Rasya. Renata segera memanggil waiter yang berada di dekatnya dan segera memesankan minuman untuk Rasya. Setelah selesai, Renata segera beralih kepada Rasya.
"Apa yang mau lo ketahui tentang Vanno?" Tanya Renata to the point.
Rasya mengangguk. "Apa benar Vanno sudah menikah? Lo kan pernah satu kampus dengannya." Tanya Rasya.
Renata mengangguk mengiyakan. "Iya benar gue satu kampus dengannya dulu. Dan benar juga Vanno sudah menikah. Bahkan dia sudah mempunyai anak." Jawab Renata.
Rasya begitu terkejut. "Bagaimana mungkin. Berapa sih usia Vanno, dia seperti masih dua puluh sekian. Sudah gedhe lagi anaknya." Dengus Rasya.
Renata menatap wajah Rasya sebelum menjawab. "Vanno dan istrinya sama-sama jalan dua puluh sembilan tahun. Mereka seumuran. Mereka menikah saat semester dua kelas dua belas. Jadi, wajar saja jika anaknya sudah sebesar itu sekarang." Jelas Renata.
Informasi yang disampaikan Renata begitu mengejutkan bagi Rasya. Dia masih sangat sulit menerima kenyataan jika Vanno sudah menikah dan sudah memiliki anak.
Setelah pesanan mereka datang, Renata masih memperhatikan tingkah Rasya.
"Apa lo berpikir mau menggoda Vanno?" Tebak Renata.
Rasya menoleh mendengar pertanyaan tersebut. "Jika kesempatan itu datang, aku tidak akan mungkin melewatkannya kan?" Jawab Rasya sambil tersenyum.
Bukannya kaget, namun Renata malah menertawakannya. Rasya yang kesal karena suara tawa Renata mengundang perhatian banyak orang langsung mendelik ke arahnya. Mendapat tatapan mengancam dari Rasya, Renata pun berusaha menghentikan tawanya.
"Kenapa malah menertawakanku?" Ketus Rasya.
Renata menggelengkan kepala sebelum menjawab. "Lo sudah kenal Vanno berapa lama sih?" Bukannya menjawab Renata malah balik bertanya.
Renata tersenyum tipis saat mendengar jawaban Rasya. "Lo belum tahu siapa Vanno sebenarnya." Jawab Renata. "Dulu, gue sempat sangat terobsesi dengan Vanno saat masih kuliah. Namun, setelah gue tahu siapa Vanno sebenarnya, gue pilih mundur. Siapalah gue bisa membobol benteng keluarga Geraldy." Lanjut Renata sambil menyesap minumannya.
Rasya masih bingung mendengar perkataan Renata. "Geraldy? Apa maksudnya?"
Renata kembali menatap wajah Rasya. "Gue tahu keluarga lo kaya, tapi pengaruh yang dimiliki keluarga lo tidak sebanding dengan GC." Kata Renata. "Vanno adalah putra tunggal keluarga Geraldy. Jadi, bisa dipastikan dia adalah pewaris utama Gelardy Corp." Lanjutnya.
Rasya begitu terkesiap mendengarnya. Dia begitu terkejut mendengar informasi yang disampaikan Renata.
"Jadi, Vanno adalah pewaris utama GC?" Tanyanya. "Kenapa kami bahkan sama sekali tidak mengetahuinya."
Renata menggelengkan kepalanya sambil tersenyum kecut. "Itulah seberapa besar pengaruh GC. Vanno memang mempunyai perusaan sendiri di bidang arsitektur, terlepas dari GC. Dan, memang tidak banyak yang tahu dengan hal itu. Bahkan, setahuku, banyak orang yang sebenarnya tidak ada yang tahu siapa pemilik GC. Mereka selalu bekerja di balik layar." Kata Renata.
Rasya yang mendengarnya pun hanya bisa pasrah. Menurutnya, terlalu mustahil baginya menggapai Vanno. Belum lagi Vanno yang terlihat sangat cuek dengan para perempuan. Dan sebaliknya, Vanno terlihat sangat hangat kepada keluarganya. Rasya hanya bisa meluruhkan bahunya sambil menyandarkan punggungnya pada kursi.
Renata yang melihat sahabatnya tengah pupus harapan berusaha mengalihkan perhatiannya.
"Sudah, jangan memikirkan Vanno lagi. Nanti malah akan menyakiti diri sendiri. Masih banyak laki-laki single lain yang bisa kamu dapatkan. Doni juga masih setia menunggu lho," kata Renata sambil tersenyum berusaha mencairkan suasana.
Rasya menatap ke arah Renata. "Cccckk apaan sih lo. Gue nggak suka sama Doni." Elak Renata. Dan, percakapan kembali mengalir pada keduanya setelah itu.
Sementara itu, Vanno dan keluarganya sudah sampai di rumah dan tengah membuka boneka pesanan Khanza.
"Dad, ini bonekanya tidak bisa di bawa masuk ke dalam kamar." Gerutu Khanza kecil pada sang daddy.
Vanno dan Retta yang tengah berada di dapur segera menoleh. Benar saja, boneka Khanza sebesar itu tidak akan muat jika di bawa masuk ke dalam kamarnya.
"Sayang, bonekanya di letakkan di ruang keluarga saja ya, biar tidak sesak di dalam kamar." Kata Vanno dari dapur.
Ya, rumah mereka memang minimalis. Tidak sebesar rumah utama keluarga Geraldy. Vanno dan Retta benar-benar ingin menikmati kehidupan yang nyaman bagi keluarga kecilnya. Tidak terlalu terbebani dengan mengurusi banyak hal, termasuk perabotan rumah tangga.
Khanza yang mendengar jawaban dari Vanno hanya bisa mencebikkan bibirnya. Dia terlihat tidak senang mendengarnya.
"Kalau begitu, daddy buatkan satu kamar lagi buat boneka ya, yang buesaarr. Biar dia bisa punya kamar tidur sendiri. Kalau tidur di luar kasihan Dad, tidak ada yang peluk dan menghangatkan. Biasanya juga daddy bilang begitu jika terkunci di luar kamar oleh mommy." Kata Khanza dengan polosnya.
Glek.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Masih adakah yang menunggu?
Setelah ini, akan dilanjutkan dengan cerita tentang Ken dewasa ya, semoga suka
Jangan lupa dukungannya buat Ken dan keluarganya ya, like, comment dan vote
*Part halu akan dimulai setelah ini, 🤭🤭