
Dan, sebuah suara terdengar dari pengeras suara yang menggema di hall tersebut.
"Kepada para tamu undangan semua, dimohon untuk menundukkan kepala. Agar kedua pengantin baru tidak malu melanjutkan kegiatannya. Demikian informasi yang dapat saya sampaikan, atas perhatiannya disampaikan terima kasih." Ken mengembalikan mikrofon tersebut kepada mc acara resepsi pernikahan Al dan Khanza.
Para tamu undangan yang semula terdiam untuk mendengarkan pengumuman dari Ken, seketika menoleh menatap pelaminan. Bukannya menundukkan kepala seperti permintaan Ken, mereka malah menatap kedua mempelai yang hendak khilaf itu.
Al dan Khanza yang mendengar hal itu pun langsung tersadar. Mereka langsung menegakkan tubuhnya dan menggeser tubuh hingga saling menjauh. Ambyaaarrrr semua. Sungguh malu, itu yang Al dan Khanza lakukan saat itu. Suara kekehan dari tamu pengunjung pun masih menggema. Beruntung saat itu jadwalnya dikhususkan untuk keluarga Al dan Ken. Jadwal untuk kolega bisnis dan para sahabat akan dijadwalkan dua jam kemudian.
Al dan Khanza sungguh sangat malu saat itu, apalagi para keluarga yang memberikan ucapan selamat pun tak henti-hentinya menggoda mereka. Wajah Al dan Khanza pun sudah sangat merah. Hal yang dapat mereka lakukan hanya menundukkan kepala.
Jam demi jam sudah berlalu, rangkaian acara pernikahan pun sudah dilewati. Seluruh anggota keluarga sudah mulai beranjak meninggalkan tempat acara sejak pukul delapan malam tadi. Hanya ada keluarga inti yang masih berada di hotel tersebut.
Saat ini, Ken sedang berjalan menuju kamar Al. Dia baru saja mengantarkan Gitta kembali ke kamar. Gitta terlihat sangat kelelahan mengingat saat ini usia kandungannya sudah memasuki usia enam bulan. Ken tahu saat ini Al masih berada di dalam kamar yang ditempatinya kemarin karena dia harus melepaskan semua pakaian pengantin yang masih dipakainya, sekaligus membersihkan diri.
Ken membuka pintu kamar Al. Dia langsung nyelonong masuk ke dalam kamar. Ken masih mendengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi. Ken meyakini jika Al sedang mandi. Dia menunggu Al sambil merebahkan diri di sofa. Tubuhnya juga terasa sangat letih. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika dulu dia dan Gitta melakukan acara resepsi pernikahan, bisa dipastikan akan dua kali lipat lelahnya.
Ceklek
Pintu kamar mandi terbuka. Al sudah keluar dengan menggunakan celana tidur panjang dan kaos tipis yang agak basah terkena tetesan air dari rambut basahnya. Kedua tangannya menggosok-gosok rambutnya dengan handuk kecil.
Al yang melihat Ken tengah bersandar di sofa kamarnya sambil memejamkan mata, segera beranjak menuju tempat tidur dan mengambil bantal di sana. Al segera menimpuk wajah Ken dengan bantal yang baru saja di ambilnya.
Bugh
Ken yang mendapat kejutan dadakan dari Al langsung terkejut. Dia menoleh dan mendelik ke arah Al.
"Ccckkk, apa-apaan sih lo?" Gerutu Ken.
"Lo itu yang apa-apaan. Gila apa kasih pengumuman seperti itu saat tamu undangan lagi banyak banget. Malu tau. Untung saat itu yang hadir masih keluarga, bagaimana jika kolega bisnis dan rekan sejawat gue, bisa hancur muka gue." Gerutu Al.
"Gampang, nanti oplas." Jawab Ken dengan entengnya. "Lagian ya, lo ngadi-ngadi juga sih. Sudah tahu itu masih di pelaminan banyak orang, eh masih mau main serobot saja." Lanjut Ken.
"Ya, mana gue ingat. Bawaannya pengen serobot langsung saja." Kilah Al.
"Ya sabar dulu kali. Lagian, lo juga harus tahan dulu beberapa hari juga kan." Kata Al.
"Hhhmmm. Iya, gue tahu. Sejak kemarin Khanza sudah kasih tahu gue jika dia sedang halangan. Mungkin tiga atau empat hari lagi baru selesai." Jawab Al sambil berjalan mengambil air minum dan berjalan menuju single sofa yang ada di dekat Ken.
"Baguslah jika lo sudah tahu." Kata Ken. "Ehm, lo sudah ketemu daddy?" Tanya Ken.
"Iya, sudah. Tadi habis makan malam kita sudah ngobrol." Jawab Al yang sudah paham maksud pertanyaan Ken.
Ken mengangguk-anggukkan kepalanya setelah mendengar perkataan Al. Dia sedikit menggeser tubuhnya hingga menghadap Al.
"Al, gue tahu lo banget. Gue juga tahu lo orang yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Sebagai seorang kakak, gue hanya bisa minta tolong lo jaga adik gue baik-baik. Jangan sampai lo kecewakan dia. Jangan buat dia nangis. Jika dia salah, tegur dia. Tunjukkan dimana salah dia dan kasih tahu apa yang seharusnya dia lakukan. Jangan diemin dia, karena dia nggak akan kuat jika di diemin. Jika suatu saat lo sudah nggak sayang lagi sama adik gue, gue minta lo bilang ke gue. Gue sendiri yang akan jemput adik gue pulang." Kata Ken.
Al yang mendengar perkataan Ken tersenyum sambil mengangguk.
"Lo tenang saja Ken. Gue berjanji akan jaga Khanza dengan baik. Dia sudah menjadi tanggung jawab gue sekarang. Tadi, daddy Vanno juga sudah memberikan banyak wejangan ke gue. Gue paham, Khanza adalah putri dan adik perempuan lo satu-satunya. Gue hanya minta terus doakan gue dan Khanza agar bisa melewati semua ujian rumah tangga di kemudian hari."
"Gue tahu, kami masih harus banyak belajar menyesuaikan diri. Banyak hal yang masih harus kami pelajari dari diri kami masing-masing. Tapi gue berharap, kami bisa saling terbuka untuk itu." Jawab Al.
Ken mengangguk mengiyakan. Dia cukup yakin dan percaya dengan sahabatnya itu. Ken sudah mengenal Al sejak kecil. Jadi, dia sudah cukup tahu dengan sifat dan karakternya.
"Dasar, itu otak semakin gesrek saja setelah menikah." Gerutu Al yang masih dapat didengar oleh Ken.
"Tentu saja, aku sudah merasakan nikmatnya kue keju yang empuk, lumer, kenyal, mentul-mentul,...." Belum selesai Ken melanjutkan perkataannya, Al sudah melempar bantal ke belakang kepala Ken.
"Sudah balik kamar lo sana. Jangan meracuni otak kepala gue dengan otak gesrek lo." Gerutu Al.
"Hahahaha. Selamat tersiksa." Kata Ken sambil melanjutkan langkah menuju pintu kamar Al. Dia harus segera kembali ke kamarnya.
Sementara itu, Al segera meraih ponselnya. Ada dua pesan dari Khanza yang ternyata memberitahukan bahwa dia sudah menunggu di kamar pengantin.
Deg
Seketika keringat dingin Al mulai keluar. Dia sedikit gugup setelah membaca pesan Khanza itu. Namun, Al berusaha segera menghilangkan kegugupannya itu. Al berjalan keluar kamar untuk menuju kamar pengantin yang ada satu lantai di atas kamar tidurnya.
Setelah keluar dari lift, Al segera menuju kamar pengantinnya. Dadanya bergemuruh hebat. Kedua tangannya mendadak basah. Keringat dingin pun juga tak tahu malunya muncul tiba-tiba pada kedua pelipisnya. Al berjalan menuju kamar tersebut dengan jantung yang bertalu-talu hebat.
Sementara di dalam kamar, Khanza tak kalah gugupnya. Meski dia tahu malam ini dan beberapa malam ke depan dia tidak akan melakukan malam seperti yang dinantikan para reader semua, tapi dirinya tetap merasa gugup. Jantungnya juga tak bisa diajak kompromi. Bahkan, mungkin jika ada mikrofon yang didekatkan ke jantungnya akan terdengar suara detak jantung yang berpacu hebat disana. Ya elah lebay thor. Biarin.
Khanza duduk di ujung tempat tidur sambil meremas kedua tangannya. Hal itu kebiasaan yang sering dilakukan Khanza jika sedang gugup. Tak lama kemudian, terdengar suara ketukan pintu. Jantung Khanza berdetak semakin cepat setelah mendengarnya. Namun, dia harus segera beranjak berdiri dan membukakan pintu. Khanza yakin itu adalah Al.
Ceklek
Pintu terbuka. Khanza melihat Al tengah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ka-kak Al. Mari masuk Kak." Kata Khanza sambil menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah Al.
Al berjalan masuk melewati pintu kamar tersebut sementara Khanza segera menutup dan mengunci pintu. Belum sempat Khanza berbalik dia sudah merasakan tubuhnya ditarik oleh Al.
Brughh
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Suara apaan itu ya?🤔
Mohon dukungan like, comment dan vote ya. Biar othornya semangat.
Untuk part iya-iyanya othornya masih bingung, up disini atau di aplikasi sebelah. Othor e takut kena report lagi 😭😭
Untuk informasi karya baru atau update terbaru, bisa di lihat di ig othor ya @keenandra_winda akan ada info disana
Thank you 🤗