
Ken yang mendengar teriakan Gitta dari dalam mobil, mengurungkan niatnya mengambil peralatan untuk mengganti ban mobilnya dan segera masuk ke dalam mobil. Dilihatnya Gitta tengah memukul-mukul sesuatu sambil mengibas-ngibaskan bajunya.
"Mas Ken, ada tawon yang masuk tadi ke dalam mobil. Aduh ini bagaimana." Kata Gitta dengan paniknya.
Ken Menyalahan lampu kendaraannya dan berusaha membantu Gitta mencari tawon yang menyerangnya. Dan benar saja, ada sekitar empat atau lima tawon yang beterbangan di dalam mobil. Ken hendak membuka pintu mobil lebar-lebar agar para tawon itu segera keluar. Namun, Gitta langsung berteriak karena ternyata tengkuknya sudah disengat oleh tawon tadi.
"Aahhhhh aduuhhh duuuhh aaahhh, ini sakit Mass, aduuhh, periihhh. Cepat lepas Mas." Kata Gitta ditengah-tengah teriakannya.
Ken berusaha mengambil tawon yang menyengat tengkuk Gitta dan segera membuangnya. Nasib sial bagi Gitta, karena setelah tengkuknya mendapat sengatan dari tawon, entah bagaimana caranya ada tawon yang sudah menyelinap masuk kedalam bajunya dan menyengat bagian dadanya, tepat di atas balon tiupnya sebelah kiri.
"Aaahhhh ini lagi. Aduuhhh Maasss, masuk Mas, buesaarrr. Aaahhh aduuhhh periihhh, sakiitt."
Gitta berteriak sangat kencang karena merasakan sakit. Secara refleks dia melepas dua kancing kemeja depannya untuk mengusir tawon yang mencoba meletuskan balon tiupnya. Ini mah ada-adanya author saja, masa iya balon bisa meletus gara-gara tawon. 😂😂
Ken masih melongo saat melihat balon tiup Gitta terekspose dengan sempurna. Matanya bisa melihat seolah-olah kedua balon tiup itu akan melompat keluar dari wadahnya. Gitta masih belum menyadari apa yang dilakukannya. Dia masih berteriak-teriak kesakitan.
Ken yang tersadar segera memberanikan diri mengambil tawon yang sedang nangkring dengan pedenya di atas sana. Ken segera membuang tawon itu dan berusaha mengusir kawanan tawon yang masih ada di dalam mobil. Hal itu membuat mobil Ken menjadi bergoyang-goyang.
Gitta yang merasakan sakit pada tengkuk dan dadanya hanya bisa meringis memperhatikan Ken yang saat ini tengah memukul tawon yang berada di bawah kakinya. Saat sedang fokus untuk mengusir tawon, terdengar suara ketukan pada pintu mobilnya. Gitta yang tersadar segera merapikan pakaiannya dan begitu juga dengan Ken yang segera mendudukkan dirinya dan menoleh menatap pintu mobil.
Ken terkejut saat melihat empat orang bapak-bapak yang sepertinya tengah ronda malam tersebut berdiri disamping mobil Ken. Ken segera membuka pintu mobil dan keluar untuk menemui bapak-bapak itu.
"Apa yang kalian lakukan disini? Kalian mau berbuat mesum hah?" Kata seseorang yang membawa senter.
"Hhaaahh, apa maksud bapak-bapak ini?" Tanya Ken kebingungan.
"Alaahh, nggak usah menyangkal ya. Apa coba tadi yang kalian lakukan di dalam mobil hah?" Bentak laki-laki yang ping muda.
"Kami tidak melakukan hal-hal yang tidak senonoh Pak." Kata Ken mencoba menjelaskan. "Kami…"
Belum sempat Ken meneruskan penjelasannya sudah dipotong oleh bapak yang paling tua.
"Nak, sebaiknya kalian ikut kami ke balai desa. Kita akan bicarakan ini semua dengan para warga." Kata bapak-bapak yang paling tua.
Ken yang masih bingung hanya bisa menurut. Dia pikir nanti di balai desa dia akan bisa menjelaskan semuanya. Ken dan Gitta digiring ke balai desa setempat oleh bapak-bapak tadi.
Setelah sampai di balai desa, ternyata disana sudah menunggu beberapa perangkat desa yang memang sudah dikabari sebelumnya. Setelah itu, Ken dan Gitta sudah berusaha menjelaskan dengan keras namun mereka tidak mempercayainya.
"Maaf Nak, bukan kami tidak mempercayai apa yang kalian katakan. Namun, alasan-alasan seperti itu sudah sering sekali kami dengar. Asal kalian tahu, sebelum ini sudah berkali-kali terjadi hal seperti ini."
"Mereka tertangkap basah sedang berbuat yang tidak-tidak di desa kami. Banyak para pasangan muda yang beralasan macam-macam, seperti ban bocor, mampir untuk buang air kecil, mobil mogok, dan sebagainya. Nak, kami hanya tidak ingin desa kami terkena sial dengan banyaknya para pasangan muda yang melakukan hal aneh-aneh di desa kami. Kami masih memegang adat di sini." Jelas seorang perangkat desa.
Ken dan Gitta saling pandang setelah mendengar penjelasan para perangkat desa tersebut. Mereka merasa lelah dan menyerah menjelaskan kejadian sebenarnya kepada bapak-bapak yang ada di depannya.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan Pak?" Tanya Ken. Dia berpikir, mungkin dia akan disuruh untuk membayar sejumlah denda.
Pak Asep, kepala desa, menjawab pertanyaan Ken. "Kalian harus menikah!"
Duuuaaarrrr.
Bagai disambar petir disaat hujan gerimis seperti ini. Ken dan Gitta langsung terlonjak kaget.
"Apa?! Menikah?!" Teriak Ken dan Gitta bersamaan.
Mereka benar-benar terkejut mendengar perkataan pak Asep. Bagaimana mungkin mereka akan menikah. Ini jaman apa, hanya gara-gara ban mobil kempes dan tawon sehingga mengharuskan mereka untuk menikah. Ken benar-benar tidak habis pikir dengan pemikiran para laki-laki di depannya ini.
Sementara Gitta, dia masih terlihat terkejut sambil memegangi dadanya yang nyeri. Dia memandang Ken dengan tatapan tidak meminta penjelasan. Ken berusaha menolak permintaan mereka, namun hal itu sama sekali tidak berguna. Ken dan Gitta tidak mempunyai pilihan lain selain menyetujui permintaan para tetua desa.
Sekilas cerita tentang asal usul Gitta.
Gitta tidak tahu siapa kedua orang tuanya. Dari kecil, dia sudah tinggal di panti asuhan hingga berusia lima tahun. Saat dia berusia lima tahun, Gitta diadopsi oleh seorang janda yang kaya. Dia wanita yang sangat baik dan sangat menyayangi Gitta. Hingga Gitta berusia enam belas tahun, sang ibu yang sudah mengadopsinya meninggal dunia karena penyakit kanker yang menggerogotinya. Awalnya Gitta diasuh oleh keluarga kakak angkat ibu asuhnya. Paman dan bibi angkatnya ini memperlakukan Gitta lumayan baik. Namun, setelah Gitta berumur delapan belas tahun dan harta warisan sang mendiang ibu asuhnya telah jatuh ke tangan paman dan bibinya, Gitta di usir dari rumah. Dia hanya dibekali satu buah mobil yang kemudian dijualnya untuk biaya kuliah dan biaya hidupnya. Hingga akhirnya dia bertemu dengan Retta dan Arini.
Hingga menjelang subuh, Retta dan Vanno datang. Mereka langsung berangkat begitu menerima telepon dari Ken. Seketika Retta langsung memeluk Gitta yang tengah tidur bersandar di sebuah kursi panjang di ujung balai desa tersebut dengan berselimutkan jaket Ken. Dia merasakan badannya mulai panas. Ken yang melihat hal itu langsung mendengus kesal.
"Mom, aku ini anaknya lho. Kok yang dipeluk Gitta." Kata Ken yang duduk di sebelah Gitta.
Retta menoleh menatap Ken dengan tatapan tajam. "Ini semua gara-gara kamu. Kamu nyicil apa saja tadi pada Gitta hingga badannya panas begini?" Tanya Retta. Ken hanya melongo mendapati pertanyaan Retta.
Sementara itu, Vanno tengah berbicara dengan para perangkat desa. Vanno dan Retta bersepakat akan menikahkan Ken dan Gitta hari itu juga secara agama. Mendengar keputusan para orang tua, Ken dan Gitta hanya bisa pasrah.
Setelah sholat subuh, Ken didampingi oleh Vanno dan beberapa perangkat desa tersebut melakukan prosesi ijab qobul di mushola desa dekat balai desa tersebut. Retta dan Gitta yang melihatnya semakin terharu. Retta merasa sangat bahagia, si antartikanya telah menikah. Meskipun dengan cara seperti ini. Sedangkan Gitta, merasakan campur aduk. Dia masih bingung dengan kejadian yang dialaminya ini.
Setelah semua selesai, serta mobil Ken juga sudah diperbaiki dan mendapatkan bahan bakar, Vanno dan keluarganya segera pamit. Mobil Ken dikendarai oleh sopir Vanno. Sementara mobil yang dibawa oleh Vanno, saat ini tengah di supiri oleh Ken.
Mereka berempat membawa Gitta ke klinik untuk mendapat perawatan karena suhu badannya terasa panas. Retta dengan penuh kasih sayang menunggui Gitta yang tengah mendapat perawatan. Sementara Vanno dan Ken menunggu di luar.
"Dad, daddy dan mommy percaya kalau Ken tidak melakukan hal aneh-aneh dengan Gitta kan?" Tanya Ken was-was pada daddynya.
Vanno menoleh menatap wajah khawatir Ken. "Tentu saja kami percaya kepadamu Nak, kami yakin kamu tidak akan melakukan hal aneh-aneh." Jawab Vanno sambil mengacak-acak rambut Ken.
Mendengar jawaban daddynya, seketika Ken merasa sangat lega.
"Thanks, Dad," jawabnya sambil tersenyum.
"Tapi, daddy tidak percaya kepadamu akan satu hal." Lanjut Vanno.
Deg.
Ken merasa khawatir dengan apa yang akan dikatakan oleh daddynya.
"Apa itu Dad?" Tanya Ken khawatir.
"Daddy tidak percaya kamu tidak tergoda dengan squishy Gitta. Hahahahaha." Kata Vanno sambil tertawa dengan keras.
Bugh.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Sudah triple up ya hari ini,
Mohon dukungannya ya,
Author gembengan lho jika tidak didukung 🥺🥺