
Setelah sekitar satu jam Vanno dan Retta berada di dalam kamar mandi, akhirnya mereka keluar juga. Vanno sudah membantu Retta untuk memakai baju. Saat ini Retta sudah berada di atas tempat tidur, setelah Vanno membopongnya. Rambutnya yang basah juga sudah dililit oleh handuk. Sedangkan Vanno sendiri masih memakai celana pendek dan bertelanjang dada. Sebuah handuk masih bertengger di atas kepalanya.
Ketika Vanno membantu memasangkan infus Retta pada tiang infus, terdengar suara ketukan pintu. Vanno menoleh dan segera beranjak untuk membuka pintu.
Ceklek.
Setelah pintu terbuka, Vanno melihat ada dua orang yang sangat dikenalnya berdiri sambil bersandar pada dinding di depan ruang perawatan Retta. Ya, mereka adalah Axcell dan Neo, sahabat Vanno. Melihat Vanno yang bertelanjang dada dan rambut masih basah membuat Neo langsung berkomentar.
"Lo habis ngapain sih Van, lama bener," gerutu Neo sambil menerobos masuk untuk menemui Retta. Vanno yang dilewati Neo dan Axcell hanya memutar bola matanya dengan jengah.
Setelah melihat Retta, seketika Neo dan Axcell menghentikan langkah. Neo segera menoleh ke arah Axcell untuk meminta penjelasan. Sementara Axcell hanya mengendikkan bahunya. Neo akhirnya berbalik untuk meminta penjelasan Vanno.
"Jadi, selama lebih dari setengah jam kami berdua menunggu lo di depan kamar, kami menunggu lo berdua sedang ena-ena?" tanya Neo dengan kesal.
Vanno hanya diam tidak menjawab. Dia dengan santainya mengambil kaos yang ada di dalam almari dan memakainya. Sementara itu, Neo masih menunggu jawaban dari Vanno.
Setelah selesai memakai kaosnya, Vanno berjalan mendekati Retta. "Memangnya kenapa, kami kan sudah menikah," jawabnya santai.
Neo yang kesal karena harus menunggu lama orang sedang kikuk-kikuk pun segera mengomel. "Meskipun sudah menikah, harusnya lo itu bisa menahan diri Van. Retta sedang sakit. Lo benar-benar keterlaluan memaksa Retta untuk melayani lo," kata Neo sambil mendudukkan diri di sofa dekat tempat tidur Retta. Sedangkan Axcell lebih memilih duduk pada sofa bed di dekat dinding.
Vanno mendengus kesal mendengar ocehan Neo. Sedangkan Retta sudah merasa sangat malu. Wajahnya terasa sangat panas. Jika dia bisa melihat wajahnya sendiri, bisa dipastikan dia akan sangat malu karena wajahnya memerah.
"Lo apa-apain sih, bukan gue yang minta, Retta yang minta itu sama gue," jawab Vanno. "Sebagai suami yang baik, tidak ada salahnya kan mengabulkan permintaan istri," lanjutnya.
Mendengar jawaban Vanno, wajah Retta menjadi semakin panas. Entah seperti apa warna wajahnya kali ini. Retta membayangkan wajahnya sudah seperti kepiting rebus yang mengepul mengeluarkan asap. Dia benar-benar malu.
Retta menenggelamkan wajahnya pada belakang bahu kanan Vanno. Dia benar-benar tidak berani memandang wajah Neo dan Axcell.
Bagaimana bisa mas Vanno bilang jika itu keinginanku. Salah siapa yang mulai menggodaku. Awas saja jika mas Vanno sampai bicara lagi yang tidak-tidak. Aku akan mogok tidak membuka tiket untuk gua lokal, batin Retta.
"Sudah, jangan membahas itu lagi. Kalian nggak lihat ini Retta jadi malu," kata Vanno.
"Salah sendiri, kikuk-kikuk di rumah sakit," jawab Neo. "Harusnya di rumah sakit itu berobat, istirahat biar cepet sehat dan pulang. Lha ini, malah neko-neko" lanjut Neo.
Belum sempat Vanno menjawab, terdengar suara ketukan pintu. Vanno segera menoleh dan beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu.
Ceklek.
"Siapa ya?" tanya Vanno.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa kasih dukungan ya, like, vote dan komen 🤗🤗
Biar tambah semangat up agar cepat end
Cerita baru sudah menunggu 😉😉