Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Membongkar 2


Seketika tubuh paman Vita semakin lemas. Tak hanya dirinya, tetapi sang istri dan putrinya, Sabrina pun merasakan hal yang sama.


"To-tolong jangan pecat saya, Tuan. Saya tidak punya pekerjaan lagi. Saya harus menghidupi keluarga saya." Kata paman Vita memelas.


Ken yang sudah sangat geram dengan sikap paman Vita langsung mendengus kesal.


"Kamu masih memikirkan nasib keluargamu sekarang. Apa kamu memikirkan nasib keluarga kamu saat kamu menggelapkan dana perusahaan hah? Kamu pernah memikirkan akibatnya? Aku kira tidak sama sekali." Kata Ken. Dia kembali menatap wajah paman Vita dengan tatapan tajamnya.


Paman Vita beserta anak istrinya sangat takut. Mereka menunduk malu dengan apa yang dikatakan Ken ada benarnya.


"Surat pemecatan itu berlaku mulai besok. Jadi, segera bereskan semua barang-barangmu dan angkat kaki dari rumah itu. Tinggalkan juga semua fasilitas yang kamu ambil dari perusahaan di sana." Kata Ken.


Buk.


"Itu uang pesangon untukmu. Meskipun kamu dipecat, kami masih memberikan pesangon untuk biaya hidup kalian selama beberapa bulan kedepan. Gunakan uang itu sebaik-baiknya." Lanjut Ken.


Paman Vita segera mengambil amplop itu. Dia segera berdiri dan mengucapkan maaf kepada Ken sekaligus mengucapkan terima kasih. Paman Vita segera beranjak menyuruh anak dan istrinya untuk mengikuti dirinya. Namun, sang anak pun menolak.


"Pa, kenapa kita harus pergi dari sini sih?" Protes Sabrina. Dia masih tidak terima dengan sikap Lala yang membocorkan rahasia mereka.


Paman Vita yang sudah kepalang malu hanya bisa menggeram sambil menatap wajah sang putri dengan tajam


"Papa bilang pulang, ya pulang! Kita sudah tidak ada urusan di sini!" Kata paman Vita menarik lengan putrinya dengan keras sambil melangkahkan kakinya.


"Auuww, sakit Pa!" Protes Sabrina.


"Sudah diam!" Hardik sang papa. Dia berhenti sebentar sambil menoleh menatap wajah sang istri. "Ikut pulang sekarang, Ma!" Katanya.


Seketika sang istri yang tengah bingung pun segera terlonjak kaget. Dia buru-buru berdiri dan segera berjalan mengikuti suaminya tanpa menoleh ke arah Vita dan ibunya. Sementara Vita dan ibunya yang melihat hal itu hanya bisa membulatkan mata dan mulutnya.


Setelah paman Vita berserta anak dan istrinya pergi, Vita dan ibunya kembali tersadar bahwa ada tamu lain di rumahnya. Ibu Vita segera mempersilahkan para tamunya untuk segera duduk. Sementara Vita, dia masih menatap tajam pada Gilang. Dia tidak tahu apa hububgannya dengan keberadaan sang kekasih disana.


"Ehemm, sebelumnya, saya mau minta maaf tante, karena kedatangan kami kesini membuat keributan di rumah tante. Maksud kedatangan saya kesini untuk menjelaskan bahwa kejadian kemarin tidaklah benar." Kata Al.


"Ini, adalah Lala," kata Al sambil menunjuk perempuan di sampingnya. "Dia adalah sahabat Sabrina. Dia terpaksa melakukan kebohongan kemarin karena dia di iming-imingi uang untuk pengobatan ibunya." Kata Al.


"Iya tante, Vit. Maafkan saya. Saya terpaksa melakukannya karena terdesak. Saya membutuhkan biaya untuk pengobatan ibu saya. Sabrina yang mengetahui hal itu langsung memanfaatkannya. Dia dan papanya menyusun rencana untuk menggagalkan rencana perjodohan kalian. Mereka tidak ingin keluarga kalian bahagia Vit." Kata Lala.


Vita dan ibunya lagi-lagi dibuat terkejut. Mereka saling pandang, sebelum membuka suara.


"La-lalu foto itu juga merupakan hasil rekayasa?" Tanya Vita.


"Iya. Itu semua hasil rekayasa. Kami membuatnya seolah-olah itu memang aku dan Al. Kebetulan, ada seorang teman kami yang memiliki bentuk tubuh dan rambut hampir mirip dengan Al, jadi mereka pun membayarnya." Kata Lala.


Vita dan ibunya menghembuskan nafas lega. Mereka sebenarnya juga tidak percaya jika Al melakukan hal tersebut.


Setelahnya, Vita menoleh menatap tajam kepada Gilang. Gilang yang di tatap seperti itu menjadi salah tingkah. Sementara Al, yang melihat Vita tengah mengintimidasi Gilang segera menengahi.


"Maaf tante, sebenarnya maksud kedatangan kami kemari selain untuk menjelaskan permasalahan sebenarnya, juga ingin menyampaikan sesuatu. Saya pribadi memohon maaf untuk tidak melanjutkan perjodohan ini. Saya hanya bisa menganggap Vita sebagai seorang teman, tidak lebih dari itu. Selain itu, selama kurang lebih dua tahun ini, Vita juga sudah mempunyai seorang kekasih, Gilang." Kata Al sambil menoleh ke arah Gilang.


Ibu Vita seketika menatap wajah putrinya. Beliau tidak menyangka jika sang putri menyembunyikan hal ini kepadanya.


"Benar itu Vit?" Tanya ibu Vita.


Vita hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"I-iya Bu. Maafkan Vita menyembunyikan semua ini dari ayah dan ibu. Vita hanya tidak mau kalian kecewa. Vita ingin membuktikan jika dengan tinggal di kosan, Vita juga bisa bertanggung jawab terhadap kuliah Vita. Vita tidak ingin ayah dan ibu berpikiran macam-macam tentang Vita." Jawab Vita sambil menunduk. Dia benar-benar tidak berani memandang wajah ibunya.


"Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Sayang. Ibu dan ayah tidak akan pernah memaksa kamu untuk menerima perjodohan ini jika kamu jujur kepada kami saat itu." Kata ibu Vita sambil mengusap punggung sang putri dengan lembut.


Vita membalas pelukan sang ibu dengan mata berkaca-kaca. Dia sama sekali tidak berpikir jika ayah dan ibunya sangat legowo jika dia memberitahu bahwa dirinya sudah mempunyai kekasih. 


"Maafkan Vita, Bu. Vita yang salah karena tidak jujur dengan ibu. Vita berjanji mulai saat ini tidak akan menyimpan rahasia apapun lagi pada ibu." Kata Vita.


Seketika ibu melepaskan pelukannya dan mengangguk sambil tersenyum pada Vita. Setelahnya, Vita segeta menoleh kembali menatap Gilang. Dia masih belum mengerti kenapa Gilang ada di sana.


Mengerti dengan tatapan Vita, kali ini giliran Ken yang berbicara.


"Sebenarnya begini Vit, kemarin saat om Arya mencari tahu keberadaan Lala, om Arya bertemu dengan Dewa. Nah, Dewa ini adalah sahabat Gilang yang kebetulan saat itu sedang bersamanya. Om Arya memberitahukan masalah ini dan mereka bersedia membantu hingga berhasil menemukan Lala."


"Berhubung semua rencana juga sudah di susun dengan baik, kami meminta Gilang untuk ikut kemari. Sekalian bisa langsung melamar kamu, kan?" Kata Ken.


Seketika Gilang dan Vita langsung tersedak air liurnya sendiri. Mereka benar-benar terkejut saat Ken mengatakan hal itu. Gilang benar-benar merutuki mulut lemes Ken. Benar kata Vita, dia pernah menceritakan jika Ken sangat cablak sekali semenjak menikah dengan Gitta. Mulutnya jadi lemes mengeluarkan kata-kata ajaib bin bikin jantungan.


Bukan Gilang tidak mau melamar Vita, namun tidak secepat ini juga. Tidak mungkin jika dia melamar Vita tanpa adanya persiapan. Apalagi saat ini dia hanya memakai kaos putih dan celana jean. Dia juga tidak menyiapkan cincin atau apapun sebagai bentuk pengikat.


Gilang dan Vita masih menatap Ken dengan tatapan kesalnya. Sementara Ken yang ditatap oleh mereka hanya bisa tersenyum nyengir.


"Santai dulu mbak dan mas bro. Aku kan sudah berbaik hati untuk menyampaikan maksud kalian secara tersirat. Jadi, seharusnya kalian bersyukur kan. Kalian bisa sekalian minta ijin untuk segera menikah." Kata Ken dengan entengnya.


Al yang duduk di samping Ken segera memukul bahu Ken. Sementara Ken langsung meringis.


"Itu mulut lemes banget sih kalau ngomong. Emang bisa dadakan seperti ini mau lamaran. Yang benar saja Ken." Kata Al yang menjadi ikutan kesal.


"Ya, maksudku kan biar cepet Al. Siapa tahu nanti jika ditunda-tunda terus Vitanya akan dibawa lari, kasihan Gilang dong." Jawab Ken.


Gilang sedikit tersentak dengan jawaban Ken. Ada benarnya juga perkataan Ken. Jika dia tidak bergerak cepat, bisa-bisa dia akan kalah start. Dan, Gilang tidak mau hal itu terjadi. Jadi, dengan segala keberanian dia berniat ingin menyampaikan lamarannya kepada Vita dan ibunya, meskipun tanpa persiapan. Dia memberanikan diri untuk menyampaikan maksud hatinya. 


"Ehmm, Vita, tante, sa-saya…" 


"Asseekkk, gue suka ini."



Kania Alvita Putri



Gilang Pramudya


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Lhah, itu mulut siapa yang lemes gitu 🙄