Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Eksekusi Landasan 2


Kali ini, Al sudah mulai memegang kendali. Dirinya dan Khanza sudah benar-benar polos. Tinggal ekaekusi terakhir, Al sudah mulai bersiap-siap untuk mendarat pada landasan pacu. Sekali, dua kali, tiga kali, masih keluar jalur. Khanza yang sudah geram karena tidak sabar menunggu pendaratan yang masih belum tepat sasaran.


"Aiiisshhh Kak, kenapa lama sekali sih. Keburu landasannya pegal nungguin ini." Kata Khanza gemas.


"Sebentar Sayang, ini masih berusaha." Kata Al sambil masih berusaha di bawah sana.


"Ambil senter gih Kak." Kata Khanza.


Al mendongak menatap wajah sang istri yang sudah penuh oleh peluh.


"Untuk apa?" Tanya Al.


"Untuk nerangin landasan lah, biar kelihatan dan cepat mendaratnya. Kelamaan sekali kalau nungguin. Atau jangan-jangan nanti, Aaaaarrrggghhhhh….," Belum sempat Khanza menyelesaikan perkataannnya, Al sudah mulai aktif di bawah sana. Dia sudah menemukan landasan pacu yang akan sering dikunjunginya nanti.


"Aduuuhhh duuuhhh Kakk, iyaaa, aduuuhhh, iyaaa." Racau Khanza sambil mencengkeram lengan Al dengan kerasnya.


"Tahann sebentar Sayanghh," kata Al sambil melanjutkan aktivitasnya.


"Aduuuhhhh Kak, iyaaa, aduuhhh." Racau Khanza.


Al menghentikan aktivitasnya dan masih memandangi wajah istrinya.


"Ini dilanjut atau berhenti?" Tanya Al bingung. Pasalnya dari tadi Khanza terus meracau aduh, iya, aduh, iya terus. Dia merasa bingung mau berhenti atau lanjut.


Khanza membuka matanya saat mendengar pertanyaan sang suami. Nafasnya masih memburu dan tersengal-sengal.


"Sudah kepalang tanggung kenapa harus berhenti. Lanjut terus Kak." Kata Khanza sambil menggerak-gerakkan di bagian bawah sana.


"Eh, eh, sebentar aduuhh, sebentar." Al kebingungan karena posisinya tidak nyaman untuk dirinya.


Karena terlalu lama menunggu, Khanza akhirnya meminta mengambil alih kendali hingga selesai permainan. Keduanya terkapar lemas di atas tempat tidur dengan nafas memburu saat sama-sama sudah melepaskan semua dorongan yang mendesak dalam tubuh mereka. 


Huh huh huh huh huh


Suara nafas mereka bersahut-sahutan seolah hendak saling berebut oksigen. Al menoleh menatap wajah Khanza yang kelelahan di sampingnya. Dia memiringkan badannya untuk mengusap peluh yang membanjiri pelipis dan dahinya.


"Terima kasih Sayang." Kata Al sambil menghujami pucuk kepala Khanza. Khanza tersenyum hangat membalas perlakuan sang suami dan melingkarkan tangannya untuk memeluk tubuh polos Al.


"Sama-sama Kak." Jawab Khanza dengan mata mengantuk. Al tidak tega melihat sang istri yang kelelahan.


"Kamu capek? Atau mau part lanjutan?" Tanya Al menggoda.


Khanza mencubit pinggal Al dengan gemas.


"Aku masih capek Kak. Lagipula, landasan juga masih sakit ini. Ukuran 'gada' nggak kira-kira. Besok-besok di setting dulu lah sebelum mendarat lagi." Kata Khanza.


"Memangnya gituan di setting, dikira AC pendingin ruangan gitu." Gerutu Al.


"Hehehe, maaf Kak. Bercanda doang. Habisnya, masih sakit Kak, membengkak ini rasanya. Aku nggak tahu jika rasanya sesakit dan senyeri ini." Kata Khanza sambil meringis saat dirinya bergerak sedikit saja.


Al yang merasa tidak enak pun lansung memeluknya.


"Maaf, aku tidak tahu jika itu sangat menyakitkan sekali. Aku janji besok akan pelan-pelan." Kata Al sambil mengusap-usap punggung Al.


"Besok ada part lanjutan Kak?" Tanya Khanza dengan polosnya.


"Iya dong. Mana mungkin landasan hanya dipakai sekali, nggak ada rumusnya itu." Dengus Al.


Khanza mencebikkam bibirnya. Dia memang sangat tahu tentang hal itu. Tapi, rasa khawatir jika besok dia akan mengalami hal yang sesakit itu lagi masih membuatnya berpikir ulang. Al yang menyadari kekhawatiran Khanza tersenyum sambil memberikan kecupan pada bibir sang istri.


"Aku tidak akan memintanya jika kamu masih kesakitan. Aku akan menunggu saat sudah tidak terasa sakit lagi." Al.


Seketika Khanza tersenyum dan mengeratkan pelukannya.


"Terima kasih Kak. Terima kasih sekali lagi." Jawab Khanza.


Setelahnya, mereka tidur terlelap. Rasa lelah yang mereka rasakan membuat mereka cepat tertidur.


Sementara di rumah utama, daddy Vanno tengah ngobrol dengan mommy. Mereka juga baru saja melakukan olah raga malam. Daddy menyesap jus jeruknya dan mengembalikan gelasnya pada nakas yang ada di sampingnya.


"Yang, kira-kira apa yang harus aku lakukan?" Kata daddy sambil memberikan kecupan pada pucuk kepala mommy.


"Kenapa bertanya seperti itu. Ya mas Vanno dong yang harus berangkat." Gerutu mommy.


Daddy Vanno mendengus kesal mendengar jawaban mommy.


"Aku nggak mau berangkat ke sana sendirian Yang. Iya kalau cuma sebentar. Ini di dua kantor cabang, dan pastinya akan sangat lama menyelesaikan masalahnya nanti." Jawab daddy.


"Kamu mau mengajakku Mas?" Tuduh mommy.


Daddy Vanno hanya mengangguk sambil tersenyum nyengir.


"Ya, lebih baik kan begitu. Aku pasti akan lebih bersemangat buat menyelesaikan masalah yang ada di sana nanti jika kamu ikut." Kata daddy.


Mommy mendengus kesal setelah mendengar jawaban daddy.


"Selalu saja seperti itu alasannya." Gerutu mommy. Pasalnya, daddy memang selalu mengajak mommy jika sedang ada urusan ke luar negeri jika harus memerlukan waktu berminggu-minggu. Apalagi ini di dua kantor cabang yang berada di dua negara berbeda.


"Kamu kan tau jika ini tidak penting, aku tidak akan turun tangan sendiri kan." Kata daddy.


Mommy mengerti benar dengan hal itu. Mau tidak mau, mommy akhirnya mengiyakan untuk ikut daddy ke luar negeri. Tapi, dengan catatan hanya sampai dua minggu. Mommy tidak mau meninggalkan Gitta yang sedang mengandung calon cucunya terlalu lama.


Keesokan harinya, Ken sedang bersiap-siap untuk ke kantor. Gitta membantu Ken untuk menyiapkan keperluannya pagi itu seperti biasanya. 


"Daddy dan mommy jadi ke luar negeri Mas?" Tanya Gitta sambil membawakan kemeja Ken.


"Kemungkinan iya. Ada masalah di dua kantor cabang. Dan tidak mungkin jika daddy tidak mengajak mommy." Jawab Ken sambil terkekeh geli mengingat kelakuan sang daddy.


Gitta memukul lengan Ken dengan gemas.


"Nggak usah ngetawain orang, kamu sendiri juga seperti itu." Gerutu Gitta.


Ken mencebikkan bibirnya sambil memakai kemejanya.


"Biarin. Aku kan juga punya istri." Jawab Ken. "Eh, apa benar semalam Khanza buka landasan?" Tanya Ken.


Gitta mendengus kesal mendengar jawaban sang suami.


"Mana aku tahu Mas. Kemarin lusa memang bilangnya begitu. Lalu, mommy semalam juga bilang jika Khanza kemarin seharian ada di kantor mommy untuk memgambil baju dari Ezz Collection." Jawab Gitta sambil memasangkan dasi pada leher sang suami.


"Ah, aku berharap jika Al berhasil melakukannya. Dia tipe orang yang sangat sulit berdekatan dengan perempuan, seperti aku." Kata Al.


"Ccckkk, seperti mas Ken apanya. Hoaks, itu. Jika mas Ken sulit berdekatan dengan perempuan, lalu bukti di dalam perutku ini apa?" Tanya Gitta.


"Hehehe, itu kan pengecualian. Sama istri sendiri memang harus begitu dong." Jawab Ken sambil menghujami Gitta dengan beberapa kecupan pada wajahnya.


"Aiisshhhh, sudah ah Mas." Kata Gitta sambil mendorong tubuh Ken.


Ken menjauhkan tubuhnya sambil menatap tajam wajah sang istri.


"Awas saja kamu merengek meminta aku pulang seperti kemarin siang." Kata Ken sambil mendengus kesal. 


Bagaimana tidak, kemarin dirinya tengah meeting dan tiba-tiba Gitta meneleponnya sambil menangis terisak-isak meminta dia pulang. Ken yang panik segera meminta izin sang daddy untuk pulang. Namun, apa yang di dapatnya saat sampai di rumah? Gitta langsung menyerangnya saat itu. Apakah Ken marah? Ya jelaslah. Jelas tidak, mana ada dirinya marah untuk hal seperti itu. Tentu saja dia menerimanya dengan pasrah.


Gitta yang mendengarnya hanya menggigiti bibir bawahnya. Dia khawatir jika dirinya menginginkan suaminya seperti siang kemarin. Ken yang melihat wajah khawatir Gitta merasa tidak enak hati. Ken melingkarkan kedua tangannya pada perut Gitta.


"Maafkan aku. Aku hanya bercanda. Jika kamu menginginkan sesuatu, hubungi aku segera. Aku akan usahakan segera datang." Kata Ken sambil mencium pipi Gitta.


Gitta menoleh untuk menatap wajah sang suami. Entah mengapa tiba-tiba hatinya merasa menghangat. Matanya tetasa mengembun dengan air mata menganak sungai. Dia merasa sangat bahagia diperlakukan seperti itu oleh sang suami. Seketika muncul keinginan yang kuat pada dirinya. Gitta berbalik dan melingkarkan kedua tangannya pada leher sang suami.


"Kalau aku menginginkannya sekarang boleh?" Tanya Gitta.


"Hhhaaaahhh?!"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Maaf, baru selesai ngetik. Siang masih harus mengurus kerjaan.


Beerapa part lagi menjelang akhir ya, tapi tetap ada extra partnya. Untuk informasi karya baru, silahkan follow ig othor @keenandra_winda


Terima kasih