Mendadak Istri

Mendadak Istri
Extra Part 11


Kemudian, netra mata pak Wisnu beralih pada Gitta yang tengah berdiri di samping Ken. Seketika raut wajah terkejut tampak pada wajah pak Wisnu.


"Gitta?! Kamu Gitta kan?!" Tanya pak Wisnu terkejut.


Gitta yang juga terkejut langsung mengerutkan keningnya. Sementara Ken langsung menoleh menatap Gitta dan pak Wisnu bergantian. Ken menatap Gitta sambil menaikkan alisnya. Dia seolah bertanya kepada Gitta apa dia kenal dengan pak Wisnu? Gitta yang sudah memahami maksud Ken pun langsung menggelengkan kepalanya.


"Pak Wisnu kenal istri saya?" Tanya Ken beberapa saat kemudian sambil menatap wajah pak Wisnu penasaran.


Sontak pak Wisnu menatap Ken dengan mata dan mulut membulat sempurna. Dia masih terkejut setelah mendengar perkataan Ken.


"Gitta istri anda Pak?!" Tanya pak Wisnu tak kalah terkejutnya.


"Iya, Pak. Ini Gitta, istri saya. Kalau boleh saya tahu, bagaimana anda mengenal Gitta?" Tanya Ken.


"Saya adalah sahabat dari orang tua kandung Gitta." Jawab pak Wisnu dengan penuh keyakinan. Ada kilatan bahagia pada wajahnya. 


Sontak saja Ken dan Gitta yang mendengarnya sangat terkejut. Terlebih lagi Gitta. Dia sangat terkejut mendengar perkataan pak Wisnu. Selama ini dia memang tidak mengetahui keberadaan orang tuanya. Bahkan, dia menganggap orang tuanya sudah meninggal. 


Namun, setelah mendengar perkataan pak Wisnu barusan, seketika ada perasaan menghangat pada hatinya. Dia merasa seolah telah pulang. Dia sangat ingin mengetahui siapa keluarganya.


"Apa maksud anda, pak Wisnu? Benarkah anda mengetahui siapa orang tua saya?" Tanya Gitta penuh harap.


Pak Wisnu mengangguk mengiyakan sambil tersenyum. Entah mengapa wajahnya juga tampak berbinar bahagia.


"Iya. Saya sangat mengenal keluarga kamu." Jawab pak Wisnu sambil tersenyum. 


Namun, belum sempat beliau menjelaskan, terdengar suara dering ponselnya. Pak Wisnu segera merogoh sakunya dan mengambil ponselnya. Dia terlihat mengamati id penelepon sebelum menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


Ken dan Gitta terlihat tidak sabar saat menunggu pak Wisnu menjawab panggilan telepon tersebut. Hingga kemudian, mereka sedikit cemas saat melihat perubahan ekspresi wajah pak Wisnu. Dari yang semula sangat bahagia, sekarang menjadi terlihat cemas.


Ken dan Gitta saling pandang. Gitta mencengkeram lengan Ken dengan keras. Wajahnya terlihat khawatir.


Setelah beberapa saat kemudian, pak Wisnu terlihat sudah selesai menerima panggilan teleponnya. Dia segera mematikan ponselnya dan berbalik menghadap Ken dan Gitta.


"Maaf pak Ken, saya harus segera kembali ke rumah sakit. Istri saya ngedrop lagi." Kata pak Wisnu. Beliau kemudian mengambil dompetnya dan memberikan kartu namanya kepada Ken. "Ini kartu nama saja. InsyaAllah setelah kondisi istri saya sudah membaik, saya akan menceritakan semua yang saya ketahui kepada anda berdua." Lanjut pak Wisnu.


Ken segera menerima kartu nama tersebut. Setelah itu, pak Wisnu segera pamit undur diri.


Gitta masih memikirkan perkataan pak Wisnu tentang orang tuanya. Harapan yang dulu pernah pupus, sekarang muncul lagi. Ken yang melihat Gitta masih sibuk dengan lamunannya pun menoleh.


"Sudah, jangan dipikirkan dulu. Kita tunggu pak Wisnu menjelaskan semuanya. Aku yakin jika pak Wisnu mengetahui sesuatu." Kata Ken sambil mengusap-usap bahu Gitta. Sesekali dia juga menghadiahi pucuk kepala Gitta dengan beberapa kecupan.


Gita menoleh menatap wajah Ken. Wajahnya masih menyiratkan rasa penasaran sekaligus khawatir. Dia khawatir jika kenyataan yang akan didengarnya tidak sesuai dengan angan-angan yang ada dibenaknya.


Sementara di Jakarta, Khanza tengah menyiapkan sarapan untuk sang suami. Dia sudah mulai bisa memasak. Dengan bantuan bi Ros, Khanza belajar memasak. Khanza ingin bisa memasak makanan sendiri untuk sang suami dan anak-anaknya kelak.


Di dalam kamar, Al masih bergelung dibawah selimut. Semalam dia pulang larut karena banyak sekali yang harus dia kerjakan di rumah sakit.


Setelah selesai menyiapkan sarapan, Khanza segera beranjak ke kamar untuk membangunkan sang suami. 


Ceklek


Khanza membuka pintu kamar. Dia berjalan mendekati tempat tidur dimana sang suami masih bergelung dibawah selimut.


"Mas, bangun gih. Sarapan dulu." Kata Khanza sambil menggoyang-goyangkan lengan Al.


"Hhhmmm." Al masih tidak membuka matanya.


"Iihhh, kok nggak bangun sih. Nggak mau nyoba makanan yang dibuat istrinya ya?" Kata Khanza sambil mengerucutkan bibirnya.


Al yang mendengar perkataan istrinya pun mencoba membuka matanya. Dia terlihat benar-benar masih mengantuk. Al berusaha tersenyum sambil menatap wajah sang istri.


"Siapa bilang tidak mau, nanti pasti di makan. Sekarang makan yang ada di depan mata saja dulu ya." Kata Al sambil menarik lengan Khanza hingga jatuh menimpanya. Al langsung mendekap tubuh Khanza. Dia menelusupkan wajahnya pada ceruk leher sang istri.


"Mmaaassss Al ih." Teriak Khanza sambil berusaha melepaskan diri dari pelukan Al. Namun, usahanya tanpak sia-sia.


Kini, tangan Al bahkan sudah memegang kaos sang istri. Tanpa menunggu lebih lama lagi dia menariknya hingga ke atas. Khanza pun merasa kaget. Belum sempat dia berteriak, namun bibirnya sudah di bungkam oleh bibir Al.


Hhhmmpphhh emmpphhh 


"Maaasssmmppphhh, emmppohhh. Maaaas." Kata Khanza. Dia berhasil mendorong wajah sang suami.


"Sarapan pagi, Yang." Kata Al dengan tatapan sayunya.


"Sudah aku siapkan di meja makan, Mas. Masa iya sarapan di sini." Kata Khanza sambil berusaha meraih kaos yang tadi berhasil di lepas sang suami. Namun, Al menghentikannya.


"Aku mau sarapan ini." Kata Al sambil menyentuh bagian sensitif Khanza. Khanza yang mendapat perlakuan dari sang suami hanya bisa menggigit bibirnya. 


Rangsangan yang diberikan Al tidak sampai disitu saja. Dia sudah mulai bergerilya di lembah dan gunung yang menghanyutkan walau tanpa air.


Dan benar saja. Khanza langsung terbakar tapi bukan oleh api. Segera dia mendorong sang suami hingga terlentang di atas tempat tidur dan menindihnya.


"Aku sudah memasakkan sarapan untukmu di meja makan tapi kamu memilih sarapan ini. Tahu begitu sejak sehabis subuh tadi aku buka dasar saja disini, Mas." Kata Khanza sambil menatap wajah sang suami.


Al tersenyum mendengarkan perkataan sang istri. Tangannya terangkat ke punggung Khanza dan segera melepas kacamata yang menutupi bagian favoritnya itu. Byar, mata Al langsung berbinar. Hilang sudah rasa ngantuknya. 


Khanza yang melihat sang suami masih diam tak bergeming langsung mengerucutkan bibirnya. 


"Jika masih di anggurin aku bungkus lagi nih." Gerutu Khanza.


Al yang mendengar gerutuan sang istri pun tak menyia-nyiakan kesempatan. Hap, lahap hap hap hap hap. 🤔


"Aauuhhhhh aaahhhhh iissshhh kenceng bangethh sih maasshhh auuuhhh, awasshhh rusak pabrik nutrisi anak kamuh nanti. Aauuhhh aaahhhhh." Racau Khanza.


Permainan mereka tak berhenti sampai situ. Hingga hampir jam delapan mereka masih adu lemas di atas ring empuk. Suara dering ponsel Khanza sempat beberapa kali menginterupsi aktivitas memeras keringat mereka di pagi hari itu. Hingga Khanza dan Al sama-sama berteriak tertahan sebagai puncak sarapan pagi mereka.


"Maaasshhhh!"


"Sayaangggg!" 


Setelahnya mereka sama-sama ambruk terlentang dengan sisa-sisa tenaga yang mereka miliki. Napas saling memburu seolah saling berebut oksigen terdengar di kamar tidur tersebut.


Hah hah hah huh huh huh


Bersamaan dengan itu, ponsel Khanza kembali berdering. Dengan sisa-sisa tenaga yang dimilikinya, Khanza meraih ponsel tersebut. Dilihatnya id pemanggil pada layar ponselnya.


"Mama?" Gumam Khanza. Dia buru-buru menggeser ikon berwarna hijau tersebut.


"Kemana saja sih, lama banget." Kata suara di seberang sana.


"Maaf Ma, tadi kami 'sarapan', hehehe." Jawab Khanza sambil terkekeh geli.


"Sarapan apa sih lama banget. Hampir satu jam mama menelepon nggak di angkat. Kamu sama Al ada acara hari ini?"


"Eh, sebentar." Khanza menoleh menatap sang suami dan bertanya dengan gerakan bibir. Al menggelengkan kepalanya pertanda mereka tidak memiliki rencana weekend ini. "Nggak ada acara, Ma. Memangnya ada apa Ma?" Tanya Khanza.


"Nanti ikut mama. Ada cucu sahabat mama yang baru melahirkan. Mereka sudah menikah selama dua belas tahun belum dikaruniai momongan. Alhamdulillah sekarang mereka sudah punya momongan. Mungkin kamu bisa belajar dari mereka." Kata mama.


"Belajar buat momongan, Ma?" 


"Dasar anak Vanno. Itu pikiran di cuci dulu sana gih. Mama tunggu nanti siang di rumah sama suami kamu. Assalamualaikum."


Tut. Mama mengakhiri panggilan tersebut.


"Waalaikumsalam." Jawab Khanza sambil terkekeh geli.


Al yang melihat sang istri terkekeh geli merasa bingung. Dia menggeser tubuhnya hingga miring menghadap sang istri.


"Ada apa, Yang? Kenapa tertawa?" Tanya Al.


"Hehehe, nggak ada apa-apa Mas. Tadi hanya godain mama." Jawab Khanza sambil terkekeh geli.


"Kamu ini, selalu saja bercanda." Kata Al sambil menarik Khanza kembali ke dalam pelukannya.


"Iihh, apaan sih Mas. Gerah ini, lepas ih." Elak Khanza sambil berusaha melepaskan pelukan Al.


"Nanti ah, Yang. Nambah boleh?" Tanya Al sambil menaik turunkan alisnya dan mulai menggesek-gesekkan bagian bawah tubuhnya yang sudah mulai aktif lagi.


"Iihhh, apaan sih ini, Mas. Kok mulai nakal lagi sih, tadi sudah bersin berkali-kali juga." Protes Khanza.


"Nambah lagi, dong." Pinta Al sambil ndusel-ndusel.


"Sarapan dulu Mas. Nanti siang di ajak mama ke rumah sahabatnya. Siapa tahu kita bisa belajar semoga bisa cepet dapat momongan." Jawab Khanza.


"Belajar buat ho-oh ho-oh, Yang? Aku kan sudah ahli ngadon." Kata Al.


"Iya, sudah Ahli. Tapi memanggangnya masih kurang. Sudah ah, mau mandi terus sarapan. Lapar aku Mas." Rengek Khanza.


"Iya, iya. Ayo mandi, lalu sarapan." Jawab Al sambil beranjak berdiri.


Khanza yang melihatnya pun langsung mengerutkan keningnya.


"Lho, mas Al mau kemana? Mau ikut mandi, terus terjadi lagi hal yang dipikirkan para reader?" Kata Khanza sambil merengut.


Al tetsenyum melihat tingkah sang istri.


"Enggah. Aku hanya mau mandi dan segera sarapan. Aku juga sudah lapar, Yang." Kata Al sambil berusaha mengangkat tubuh sang istri.


Mereka akhirnya mandi bersama dan tidak terjadi hal seperti yang diharapkan para reader, karena sudah terlalu capek dan lapar. Setelahnya, mereka segera sarapan untuk mengisi tenaga mereka.


Sementara di Surabaya, Gitta masih memikirkan perkataan pak Wisnu. Mereka sudah sampai di rumah mama. Ken yang melihat sang istri masih terlihat sedih, langsung mendekatinya setelah menidurkan baby Z.


"Kenapa sedih begitu ih. Kasihan pabrik baby Z nanti tidak dapat memproduksi asupan gizinya dengan baik lho." Kata Ken.


Gitta merengut memandang wajah Ken.


"Apaan sih Mas. Aku hanya sedang memikirkan perkataan pak Wisnu, Mas." Kata Gitta.


Ken menghembuskan napas beratnya. Dia sudah bisa memprediksi hal itu.


"Iya, aku tahu. Tapi, kita harus bersabar menunggu. Tidak mungkin kan kita memaksa pak Wisnu untuk bercerita. Beliau sedang kesusahan, istrinya kambuh. Setidaknya, kita bisa bersimpati dengan hal itu." Kata Ken.


Gitta mengangguk mengiyakan. Mau tidak mau, dia menuruti perkataan sang suami.


"Baiklah. Aku akan mencoba bersabar Mas. Semoga apa yang akan di ceritakan pak Wisnu membawa kabar baik untuk ku nanti." Jawab Gitta.


"Untuk kita." Koreksi Ken.


Gitta tersenyum sambil mengangguk. Dia beranjak berdiri sambil memberikan kecupan singkat pada pipi kanan Ken.


"Main goda-gida ih. Mau kemana?" Tanya Ken sambil menahan tangan Gitta.


"Goda apaan sih, Mas. Mau mandi ini." Jawab Gitta.


"Bareng deh. Biar irit." Kata Ken sambil beranjak berdiri.


"Irit apaan sih Mas, yang ada tambah boros air nanti. Kamu maunya dinyalakan terus showernya. Adem, Mas." Protes Gitta sambil mengerucutkan keningnya.


"Ya sudah. Agar irit, nanti nyemplung saja." Jawab Ken sambil menarik lengan Gitta. Namun, belum sempat Ken melangkah, terdengar bunyi sebuah pemberitahuan pesan pada ponsel Ken.


Ken segera mengambil dan membuka pesan tersebut.


Pak Ken, bisa temui saya bersama Gitta pada hari Senin saat makan siang? Saya akan menceritakan siapa orang tua Gitta. ~ Wisnu Adian


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Sudah di tambahkan lagi ya, bisa dibaca dr awal.


Mohon like, komen dan votenya ya, agar othor ada temannya


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru bisa follow ig othor @keenandra_winda


Terima kasih