
Khanza begitu terkejut setelah mendengar bisikan sang kakak ipar. Pipinya langsung merona setelahnya. Entah mengapa dia merasa sangat malu hanya dengan mendengarnya.
"A-apa harus seperti itu Kak?" Tanya Khanza. Dia masih tidak percaya jika harus melakukannya. Pasalnya dia benar-benar merasa malu.
"Nggak harus seperti itu juga sih. Tapi, jika melihat sikap Al, tidak ada salahnya kan kamu memulainya lebih dulu. Tinggal bagaimana nanti dia menanggapi usaha kamu." Jawab Gitta sambil mengerling ke arah Khanza.
Khanza masih memandang kakak iparnya sambil membayangkan apa yang akan dilakukannya nanti. Dia membayangkan bagaimana dirinya akan melakukan hal yang seperti dikatakan oleh kakak iparnya itu. Rona merah kembali muncul pada wajahnya.
"Hhhmmm, akan aku coba kak. Tapi, aku masih halangan. Mungkin besok baru selesai." Kata Khanza.
Gitta kembali mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti. Setelah itu, mereka kembali melanjutkan obrolannya. Khanza begitu antusias saat mengetahui calon keponakannya berjenis kelamin laki-laki. Dia sudah mulai membayangkan bagaimana imutnya keponakannya itu.
"Aku sudah tidak sabar menanti kelahirannya Kak. Semoga saja sifatnya tidak seperti kak Ken." Kata Khanza.
Seketika Gitta menoleh menatap wajah sang adik ipar. Bagaimana mungkin sifat Ken tidak menurun ke putranya. Ini kan anaknya, jadi kemungkinan besar dia akan mewarisi sifat sang daddy. Batin Gitta.
"Eh, kenapa tidak boleh mirip dengan kakak kamu?" Tanya Gitta.
"Kak Ken itu omes banget deh Kak. Masa iya kak Gitta rela anaknya jadi omes seperti kak Ken." Jawab Khanza.
Gitta hanya melongo mendengar jawaban sang adik ipar. Lhah, memang Khanza nggak gitu ya, batin Gitta. Dia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.
Khanza berada di rumah mommy hingga hari menjelang sore. Dia segera pulang saat Al mengiriminya pesan singkat bahwa dirinya akan segera pulang.
Setelah sampai di rumah, Khanza segera membersihkan diri dan membantu bi Ros untuk menyiapkan makan malam. Tak berapa lama kemudian, terdengar suara kendaraan Al memasuki garasi rumah mereka. Khanza segera menyambut kedatangan sang suami.
"Assalamualaikum." Al mengucapkan salam sambil membuka pintu utama rumah mereka.
Khanza berjalan menghampiri sang suami dan segera mengulurkan tangan untuk mengecupnya. Dia sudah terbiasa melihat kebiasaan itu dari mommy dan kakak iparnya.
"Waalaikumsalam. Kok lama Kak?" Tanya Khanza sambil mengambil alih barang bawaan sang suami.
"Iya, tadi mampir sebentar ke rumah om Diaz. Ada titipan buat kamu, itu." Jawab Al sambil menunjuk paper bag yang tengah di pegang oleh Khanza.
Khanza yang sejak tadi masih tidak memperhatikan apa saja yang tengah dia bawa, langsung menundukkan kepalanya.
"Apa ini Kak?" Tanya Khanza.
"Entahlah. Aku juga tidak tau apa isinya. Tadi, tante Mira yang memberikannya." Jawab Al sambil berjalan menuju kamar tidur mereka.
Khanza mengekori sang suami menuju kamar tidur. Dia segera meletakkan barang bawaannya dan segera menyiapkan baju ganti untuk sang suami. Setelahnya, Khanza segera melanjutkan untuk menyiapkan makan malam mereka.
Tak berapa lama pun Al sudah turun dengan menggunakan baju rumahan yang sudah di siapkan oleh Khanza. Sebuah kaos putih dengan celana pendek hitam terlihat membalut tubuh Al.
Khanza terlihat menata makan malam di atas meja dengan bantuan bi Ros. Al langsung menuju meja makan saat mendengar sang istri tengah berbicara dengan bi Ros.
"Masak apa malam ini?" Tanya Al.
Khanza menoleh saat menyadari sang suami tengah berdiri di dekatnya. Dia tersenyum saat melihat sang suami sudah terlihat segar.
"Ini masakan bi Ros, Kak. Aku belum begitu bisa masak. Aku hanya membuat telur gulung itu saja tadi." Jawab Khanza.
Al tersenyum setelah mendengar jawaban sang istri.
"Tidak apa-apa. Belajar pelan-pelan saja. Nanti, lama-lama juga bisa bisa." Kata Al membesarkan hati sang istri agar tidak bersedih hati.
Khanza tersenyum mendengar perkataan sang suami.
"Iya Kak. Aku tetap akan berusaha belajar kok. Aku ingin nanti suami dan anak-anakku makan makanan hasil masakanku sendiri." Jawab Khanza.
Al tersenyum bahagia melihat sang istri begitu antusias belajar memasak. Setelahnya, Al dan Khanza segera menyantap makan malam mereka.
Setelah selesai, Khanza segera membereskan meja makan. Sementara Al segera pergi ke teras depan. Dia melihat ada pos ronda tak jauh dari rumahnya. Al berniat untuk pergi menemui para petugas jaga di sana. Namun, langkahnya terhenti saat sang istri memanggilnya dari dalam rumah. Al segera bergegas untuk menghampiri Khanza.
"Kak, kita ke rumah pak RT dulu yuk. Ini tadi aku sudah mampir membeli kue buat buah tangan ke sana. Kita belum kenalan dengan pak RT kan." Kata Khanza.
Al tersadar jika mereka memang belum kenalan dengan tetangganya, khususnya pak RT. Dia segera bergegas mengganti baju dan celananya. Tidak mungkin kan dirinya akan bertamu ke rumah pak RT hanya dengan menggunakan celana pendek.
Setelah berganti baju, Al dan Khanza bergegas pergi ke rumah pak RT yang berjarak empat rumah dari rumah mereka. Beruntung bagi Al dan Khanza bahwa pak RT ada di rumah malam itu. Al dan Khanza di sambut hangat oleh pak RT dan juga istrinya. Mereka saling memperkenalkan diri dan mengobrol santai setelahnya.
Al dan Khanza segera pamit undur diri saat dirasa sudah cukup lama mereka bertamu di rumah pak RT. Mereka langsung pulang setelahnya. Al masih memandang pos ronda yang terletak tak jauh dari rumahnya.
"Di rumah masih ada makanan Yang?" Tanya Al.
Khanza menoleh menatap wajah sang suami.
"Makanan buat apa Kak?" Tanya Khanza.
"Buat aku bawa ke pos ronda, sekalian mau kenalan dengan bapak-bapak yang ada di sana." Jawab Al.
Khanza pun mengangguk mengerti.
"Kalau makan malam sudah tidak ada Kak, tapi di rumah ada kue seperti yang tadi kita bawa ke rumah pak RT. Kakak mau bawa?" Tanya Khanza.
"Iya, boleh. Dari pada datang dengan tangan kosong." Kata Al.
Al dan Khanza buru-buru kembali ke rumah. Khanza segera menyiapkan kue yang akan di bawa Al ke pos ronda. Setelah semuanya siap, Al segera berangkat menuju pos ronda. Sementara Khanza segera pergi menuju kamar tidurnya untuk membersihkan diri.
Setelah membersihkan diri, Khanza segera merangkak menuju tempat tidur. Dia akan mulai mempersiapkan diri dengan mencari semua kebutuhan yang diperlukannya untuk kegiatan iya-iya.
Khanza tahu jika kewajiban seorang istri adalah memenuhi kewajibannya terhadap suami. Berhubung dia sedang berhalangan dan akan selesai esok hari, Khanza sudah mulai mempersiapkan dari sekarang untuk kegiatan esok malam. Dia memutuskan untuk mengikuti saran kakak iparnya, meskipun dia merasa malu saat masih membayangkannya.
Hingga gampir satu jam kemudian, Khanza masih mengotak-atik ponselnya saat Al masuk ke dalam kamar mereka.
"Belum tidur?" Tanya Al sambil berjalan menghampiri sang istri.
Khanza menoleh menatap wajah Al yang tengah berjalan ke arahnya.
"Belum. Aku kan menunggu kakak." Jawab Khanza.
"Ya sudah, aku ganti baju dulu." Jawab Al sambil berjalan menuju ruang ganti.
Khanza masih mengikuti langkah kaki Al dengan ekor matanya. Entah mengapa irama jantungnya masih belum normal saat malam hari bersama Al. Jantungnya terasa ikut lomba lari marathon hingga berdegub sangat kencang.
Tak berapa lama kemudian, Al sudah keluar dari ruang ganti. Dia sudah memakai kaos dan celana kolor seperti kebiasaannya selama ini. Sementara Khanza, dia juga sudah memakai baju tidur berkerah dngan lengan di atas siku. Sementara untuk celananya lumayan pendek jika dipakai oleh Khanza. Namun, tidak mengapa. Toh dia juga memakainya saat bersama sang suami.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Malam ini. tidak ada adegan cicil mencicil seperti yang diharapkan reader ya. Ditahan dulu ya, persiapan untuk iya-iya Al dan Khanza di mulai besok.
Jadi, mohon dukungan like, komen dan vote ya. Biar othor nggak merasa sendiri.
Jangan dibuli ya, othor gembengan lho 🥺🥺