Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 62


Axcell yang mendengar suara orang berbicara di ruang bawah segera turun ke lantai satu. Dia menemukan Hansen dan Vanno tengah berdiskusi. Axcell berjalan mendekati kedua orang tersebut dan segera menarik kursi yang ada di samping tv pada ruangan tersebut.


"Bagaimana?" tanya Axcell ketika sudah berada di samping Vanno dan Hansen.


Vanno menghembuskan napas berat sebelum menjawab. "Kemungkinan ini ulah Angela lagi," katanya. "Aku tidak akan tinggal diam lagi jika dia masih terus berbuat ulah. Sudah cukup kecelakaan kemarin menimpaku. Aku tidak akan membiarkan dia menyentuh keluargaku lagi." 


Axcell mengusap bahu Vanno sambil berusaha menenangkan sahabatnya itu. Namun, tangan Axcell langsung segera ditepis oleh Vanno. 


"Ayo berangkat sekarang," kata Vanno sambil beranjak berdiri. "Aku tidak mau menunggu terlalu lama. Aku tidak mau terjadi apa-apa dengan Retta" lanjutnya sambil berjalan keluar.


Hansen dan Axcell segera mengikuti Vanno dari belakang. Mereka sangat hafal dengan sifat Vanno yang tidak ingin dibantah jika menyangkut hal-hal yang membahayakan keluarganya.


Hansen mengambil alih kemudi kendaraan milik Vanno. Dia sangat yakin jika anak bosnya ini akan sangat sulit berkonsentrasi dalam menyetir. Sementara Axcell, dia lebih memilih untuk mengendarai kendaraannya sendiri. 


Ketika kendaraan yang ditumpangi Vanno sudah hampir sampai perbatasan, sebuah panggilan dari nomor tak dikenal kembali menggetarkan ponsel Vanno. Hansen melirik ke arah Vanno. 


"Nomor baru lagi?" tanya Hansen pada Vanno.


"Iya. Apa harus aku jawab?" Vanno balik bertanya.


"Tunggu sebentar," Hansen mengambil gadgetnya dan mengetikkan sesuatu di sana. Setelah beberapa saat Hansen menoleh ke arah Vanno. "Silahkan di jawab, usahakan mengulur waktu selama mungkin" kata Hansen.


Vanno mengangguk dan segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut. 


"Hallo" kata Vanno ketika sambungan telepon sudah terhubung.


Hening


Hening


Hening


"Hallo, siapa ini?" tanya Vanno.


"Ehheemm" suara seorang laki-laki. "Sepertinya, tuan muda ini sangat tidak sabar, ya" jawab sebuah suara sambil terkekeh.


Vanno mengernyitkan dahinya. Dia berusaha mengingat dimana dia mendengar suara yang sangat familiar itu. 


"Sabar tuan muda, tidak perlu tergesa-gesa" jawab laki-laki itu.


"Apa yang kamu inginkan?"


"Anda bertanya apa yang aku inginkan?" tanya laki-laki itu lagi. Hahahaha, terdengar suara tawa laki-laki itu menggema di seberang sana.


"Kenapa kau tertawa!" bentak Vanno.


Hansen sempat terlonjak kaget mendengar suara Vanno. Dia menoleh ke arah Vanno sambil memberi isyarat untuknya agar lebih tenang. Vanno harus bisa mengulur waktu agar para anak buah Hansen bisa melacak lokasi keberadaan orang tersebut. Vanno mendengus kesal tetapi tetap mengikuti petunjuk Hansen.


"Apa maumu?" tanya Vanno dengan suara lebih lembut.


"Hhhmmmm. Bisa juga ternyata tuan muda ini berkata lembut" kata suara di seberang sana sambil terkekeh geli.


Vanno menggertakkan giginya sambil mengepalkan tangan. Dia berusaha keras untuk tidak mengumpat dan mengeluarkan kata-kata kasar.


"Tentu saja aku bisa" kata Vanno berusaha mengulur waktu. "Aku akan bicara sopan pada orang yang layak dan patut untuk dihormati," lanjutnya.


"Ya, ya, ya. Terserah tuan muda saja" sahut laki-laki itu lagi.


Hansen melirik notifikasi di gadgetnya yang memberitahukan jika lokasi penelepon sudah ditemukan. Vanno yang paham dengan hal itu segera mengangguk kepada Hansen.


"Katakan apa maumu!" kata Vanno dengan tegas.


"Hahahaha… Mauku?" tanya laki-laki itu dengan suara meremehkan sambil terus tertawa. "Anda yakin bisa memenuhi semua keinginanku?" lanjutnya.


.


.


.


.


.