Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Bibit Unggul


Vanno benar-benar kewalahan menerima serangan dari Retta. Entah kenapa semakin bertambah usia, istrinya semakin saja membuatnya tambah tergila-gila. Bahkan, hal itu juga yang membuat Vanno memutuskan untuk memindahkan pusat bisnis GC yang ada di Dubai ke Jakarta dan Singapura. Dia benar-benar tidak bisa jauh dari sang istri.


Vanno yang sudah bisa menebak sikap istrinya yang agresif itu pasti karena ada maunya.


Retta yang masih menahan napasnya hanya menggelengkan kepalanya. Dia tidak menjawab permintaan Vanno. Hingga pendakian yang kesekian kalinya telah berhasil mereka taklukkan. Vanno merebahkan dirinya di samping tubuh polos Retta. Mereka berebut oksigen akibat tindakan mereka. Deru napas mereka masih terdengar memburu.


Retta menggeser tubuhnya yang masih terbalut selimut mendekat ke arah suaminya yang juga masih berusaha mengatur napasnya.


"Mas, kenapa sih aku tidak boleh hamil lagi?" Tanya Retta sambil memeluk tubuh suaminya dari samping. "Gini ini kita hanya tinggal berdua. Ken lebih sering keluar kota, sedangkan Khanza diajak mommy ke Surabaya. Kita ngapain dirumah berdua Mas," rengek Retta.


Vanno yang sudah sangat hafal dengan rajukan istrinya hanya bisa memeluk dan mengusap rambut istrinya dengan lembut. Tak lupa juga dia menghujami pucuk kepala istrinya itu berkali-kali.


"Ya, kita bisa adu lemas di atas ring ini kalau dirumah berdua kan," kata Vanno dengan entengnya.


Mendengar jawaban sang suami, Retta mendaratkan cubitan pada lengan suaminya sambil memanyunkan bibirnya. Melihat istrinya tengah ngambek, buru-buru Vanno membujuknya.


"Sayang, sudah berapa kali aku bilang kan, aku tidak ingin membuat kamu kesakitan lagi. Saat melihat perjuanganmu melahirkan Khanza aku benar-benar seperti ikut meregang nyawa. Rasanya seperti nyawaku ikut terbetot keluar. Jadi, aku mohon jangan merengek lagi ya," kata Vanno lembut kepada istrinya.


Retta yang sudah sering mendengar alasan sang suami hanya bisa pasrah. 


"Lalu, sekarang lihatlah. Kita hanya berdua di rumah yang besar ini. Kita kan hanya berdua Mas, aku ingin ada anak kecil berlarian di rumah ini, suara tangis dan tawanya pasti akan menghangatkan rumah ini." Rengek Retta lagi.


"Kita minta saja Ken untuk segera menikah dan membuatkan cucu untuk kita." Jawab Vanno dengan enteng.


Retta yang mendengarnya langsung mencubit perut Vanno. "Kamu ini Mas, dikira mudah menikahkan itu si antartika hah?" Kata Retta geram. "Muka judes banget, cuek, irit banget ngomongnya pula. Lagian, dia kok mewarisi sifat kamu semua sih Mas, tambah parah lagi." Lanjut Retta.


Vanno yang masih meringis mengusap perutnya yang dicubit Retta, langsung berbalik menghadap sang istri. Dia tersenyum cukup bangga dengan perkataan istrinya.


"Sudah pasti dong, bibit unggul ini." Kata Vanno bangga.


Retta yang mendengarnya hanya bisa memutar bola matanya dengan jengah. "Ccckkk, bibit unggul apanya, yang ada juga gesrek akut." Jawab Retta kesal.


"Eh, jangan salah. Aku nggak gitu ya." Kata Vanno memasang mode ngambek.


"Nggak salah apanya. Sudah jelas-jelas itu yang ada di dalam otak kamu isinya ho oh-ho oh melulu Mas. Awas saja jika sampai menurun ke Ken." Ancam Retta.


Vanno yang tidak terima pun langsung menatap ke arah Retta.


"Yyee, siapa juga yang merunkan omes ke Ken. Coba kamu ingat-ingat dulu waktu hamil, siapa yang ngebet banget ngajakin ho oh-ho oh melulu?" Tanya Vanno. "Kamu lupa ya, bahkan dulu selama dua hari aku kamu larang pergi ke kampus hanya untuk tiduran di atas tempat tidur. Mommy juga bahkan geleng-geleng kepala melihatnya." Lanjut Vanno.


Retta yang mengingatnya menjadi sangat malu. Wajahnya terasa sangat panas. Kedua pipinya terlihat merona setelah mendengar perkataan Vanno. Dia sendiri juga sangat bingung mengapa dulu saat hamil Ken, dia begitu agresif. Bahkan, hanya dengan mengingatnya saja sudah membuat dirinya malu.


Melihat istrinya yang tengah malu, Vanno segera memindahkan tubuhnya hingga berada di atas Retta. Retta yang kaget melihat aksi dadakan sang suami langsung mendelik.


"Mau apa kamu Mas?" Tanya Retta khawatir. Pasalnya, dia sudah sangat capek kehabisan tenaga setelah beberapa pendakian yang mereka lakukan beberapa saat yang lalu. 


Vanno yang melihat khawatiran Retta semakin tersenyum lebar. "Mau balas dendam karena dulu aku selalu kamu serang saat hamil Ken." Jawab Vanno sambil menaik turunkan kedua alisnya.


Retta mendengus kesal mendengarnya. "Bukannya kamu dulu juga ikut senang dan menikmatinya ya," ejek Retta.


Retta mendorong tubuh suaminya agar bergeser dari atasnya. "Sudah ah Mas, minggir sana gih." Pinta Retta sambil mendorong tubuh Vanno. 


Vanno hanya bisa pasrah mendapati dirinya di dorong oleh sang istri.


Sementara di tempat lain, Ken mengedarkan pandangannya menatap sekeliling bumi perkemahan tersebut. Dia meneguk secangkir kopi yang sedari tadi menemaninya. Ken menoleh menatap tenda Gitta yang sudah tertutup rapat. Ken mengeratkan jaketnya agar udara dingin tidak ikut membelai kulit tubuhnya.


Ken melirik jam yang ada di ponselnya. 01.24 dini hari. Ken berusaha beranjak dari posisi duduknya untuk beristirahat. Besok pagi, pukul 05.00 dia harus sudah berada di spot foto yang sudah direncanakan.


Ketika Ken sudah beranjak hendak memasuki tendanya, Gitta tiba-tiba keluar dari dalam tendanya. Ken mengernyitkan dahinya saat melihat Gitta berdiri beberapa langkah di depannya.


"Ada apa?" Tanya Ken saat melihat Gitta seperti ragu hendak mengucapkan sesuatu.


"Eehhmm, bisa minta tolong?" Tanya Gitta.


"Apa?"


"Aku ingin ke toilet. Bisa minta tolong antarkan sebentar. Aku sudah tidak tahan." Kata Gitta sambil menundukkan kepalanya. Dia berusaha keras untuk menahan malunya meminta tolong kepada Ken. Namun, karena dia sudah tidak bisa menahan keinginannya untuk buang air kecil, dia memberanikan diri untuk meminta tolong kepada Ken.


Ken yang melihat Gitta seperti menahan sesuatu, tidak tega untuk menolaknya. Dia mengangguk mengiyakan permintaan Gitta.


Gitta merasa sangat senang mendengarnya. Segera dia mengambil sepatunya dan memakainya dengan terburu-buru. Ken hanya mengamati tingkah Gitta yang terburu-buru itu. Setelahnya, dia berjalan menuruni undakan yang berada tak jauh dari tendanya berdiri. Sementara itu, Gitta mengekorinya dari belakang agak jauh, karena banyak ranting disana.


Saat melewati tenda paling ujung, terlihat beberapa orang laki-laki berada di dekat pohon sambil merokok. Mereka menoleh menatap Ken yang sedang lewat. Mereka belum menyadari keberadaan Gitta yang berada di belakang Ken. Namun, saat Gitta lewat di dekat mereka, salah satu dari mereka menyeletuk dengan lumayan keras.


"Astaga, ada cewek seksi membawa balon tiup."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Kira-kira apa yang akan dilakukan Ken ya?


Diam


Marah


Mendelik tajam


Menyanyikan lagu Nissa Sabyan hhhmmm