
"Mengapa harus menjadi pacar jika bisa menjadi istri?"
"Hhhaaaahhh?!" Khanza begitu terkejut saat mendengar perkataan Al baru saja. Mulutnya masih melongo dengan mata membesar. Otaknya seketika sudah travelling ke acara ijab qobul dan honeymoon dengan Al.
Al yang melihat ekspresi terkejut Khanza langsung berdecak kesal. Baginya, Khanza selalu membuat dia merasa cengo sendiri.
"Ccckkk. Itu segera dihapus ilernya Za." Kata Al menginterupsi otak Khanza yang sudah travelling kemana-mana.
Khanza yang mendengar godaan Al langsung mengangkat tangannya untuk mengusap bibirnya. Namun, dia tidak merasakan apa-apa di sana, karena memang tidak ada air liur di sana. Khanza yang merasa dikerjai oleh Al langsung merengut dan memukul lengan Al.
"Kak Al godain aku ih." Gerutu Khanza sambil memukuli lengan Al dengan gemas.
"Aduuhh duuhhh Za, kok dipukul sih." Kata Al sambil berusaha menghindari pukul dan cubitan Khanza.
"Biarin. Kak Al nyebelin ih." Kata Khanza sambil masih terus menggoda Al.
Namun, kegiatan yang dilakukan Khanza seketika terhenti saat mendengar suara seseorang berdehem menginterupsi kegiatannya. Khanza dan Al langsung menoleh ke arah luar jendela mobil yang sudah terbuka sejak tadi.
"Ehem, sepertinya mommy melewatkan sesuatu nih?" Goda mommy Retta.
Seketika Khanza dan Al membenahi posisi duduknya. Mereka terlihat salah tingkah dengan sikap mereka baru saja. Khanza segera menoleh menatap Al untuk mengucapkan terima kasih.
"Ehm terima kasih kak Al sudah mengantar sampai rumah." Kata Khanza.
"Iya."
"Aku turun dulu." Kata Khanza sambil beranjak turun dari mobil Al.
Setelah berpamitan kepada Retta, Al segera menjalankan kembali mobilnya meninggalkan kediaman Khanza.
Khanza masih memperhatikan mobil yang dikemudikan Al hingga berbelok di jalan raya. Dia bahkan tidak menyadari jika sang mommy masih berada di sampingnya sambil memandangi dirinya.
"Mau mommy dan daddy lamarkan kak Al nya?" Goda mommy.
"Ho oh, mau." Jawab Khanza masih belum menyadari perkataannya. Namun, seketika dia menutup mulutnya dan menoleh menatap sang mommy yang tengah tersenyum memperhatikannya.
"Iihhhh, mommy apaan sih. Khanza kan perempuan. Harusnya Khanza yang di lamar dong." Gerutu Khanza sambil menghentak-hentakkan kakinya masuk ke dalam rumah. Dia merasa malu telah termakan godaan mommynya.
Sementara Al, yang mengemudikan mobilnya menuju rumah tak henti-hentinya mengusap wajahnya dengan gusar. Dia merutuki mulutnya yang telah keceplosan bicara. Entah mengapa jika dirinya berada di dekat Khanza, otaknya seolah kosong, blong. Al terus menggeleng-gelengkan kepalanya untuk menghilangkan bayangan Khanza dari otaknya.
Beberapa hari berlalu, Ken dan daddy sudah pulang kembali. Mereka sudah beraktifitas seperti biasanya. Mommy juga sudah mulai aktif lagi di butiknya. Sementara Khanza lebih banyak menemani Gitta di rumah. Meskipun begitu, dia masih sering ikut kakak atau daddynya bekerja. Kebiasaan dari dulu yang masih sulit dihilangkan.
Hari itu, Al tengah bertugas di IGD rumah sakit. Saat jam makan siang, dia segera beranjak ke kantin rumah sakit. Dia harus segera mengisi perutnya yang sudah meronta-ronta minta asupan makanan. Setelah mendapatkan tempat duduk di dekat jendela yang menuju taman, Al segera memesan makan siang beserta minumannya. Dia memainkan ponselnya sambil menunggu pesanannya datang.
Saat Al masih konsentrasi memainkan ponselnya, seseorang tiba-tiba datang menghampirinya. Dia menyapa Al hingga membuat Al mengalihkan fokusnya.
"Dokter Al, boleh saya bergabung di sini?"
Al menoleh menatap si empunya suara sesaat, kemudian tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
"Tentu. Silahkan dokter Rangga." Jawab Al. Ya, orang yang menyapa Al adalah Rangga.
Setelah mendapatkan izin dari Al, Rangga segera mengambil posisi duduk tepat di depan Al. Ternyata dia sudah memesan makanan dan hanya tinggal menunggu diantar.
Al dan Rangga masih terdiam. Sebenarnya mereka saling kenal, namun tidak terlalu dekat. Hanya saling sapa saat kebetulan bertemu.
"Dokter Al, boleh saya bicara sesuatu yang ehm, agak private?" Tanya Rangga.
Al mengernyitkan keningnya. Dia masih belum bisa menebak ke arah mana pembicaraan yang diinginkan oleh Rangga. Namun, segera Al mengangguk mengiyakan.
"Silahkan dokter Rangga." Jawab Al.
"Ehm, seberapa lama anda mengenal Khanza?" Tanya Rangga secara langsung. Dia memang bukan tipe orang yang suka berbasa basi terlebih dahulu.
Seketika Al bisa menebak ke arah mana maksud Rangga setelah mendengar pertanyaannya.
"Sebenarnya, saya sahabat kakak Khanza, Ken. Kami sudah bersahabat sejak masih berada di sekolah dasar. Jadi, saya sudah mengenal Khanza sejak dulu, jika itu yang dokter Rangga maksudkan." Jawab Al.
Rangga mengangguk-anggukkan kepalanya. Belum sempat dia menyahuti perkataan Al, pesanan makan siang mereka sudah datang. Mereka memutuskan untuk menyantap makan siang terlebih dahulu sambil sesekali ngobrol ringan.
Setelah semua pesanan makan siang mereka habis, mereka masih belum beranjak. Masih ada waktu sekitar dua puluh menit lagi sebelum jam istirahat mereka habis.
"Dokter Al, boleh saya tanya sesuatu lagi?" Tanya Rangga.
"Silahkan." Jawab Al sambil menyesap minumannya.
"Apa anda punya hubungan khusus dengan Khanza?" Tanya Rangga.
"Maksud dokter Rangga?" Tanya Al memastikan.
Rangga terlihat menghembuskan nafas beratnya sebelum menjawab.
"Sebelumnya, saya minta maaf kepada anda dokter Al. Jujur, saya mempunyai perasaan terhadap Khanza. Sebenarnya, sejak dia menjadi tetangga saya saat di Surabaya, saya sudah mulai menyukainya. Namun, saya selalu menyembunyikannya karena saat itu saya berfikir jika Khanza masih sekolah. Lagi pula, saya bisa bisa mendekatinya nanti saat sudah bekerja."
"Ternyata apa yang saya rencanakan tidak dapat terwujud. Sejak saya kuliah, kami lost contact. Kami bahkan sama sekali tidak pernah saling bertukar kabar. Terakhir kali saya kembali ke Surabaya, saya mendapat kabar jika Khanza sudah kembali ke Jakarta. Saat itu, saya sangat bahagia karena kemungkinan bertemu dengannya akan sangat mudah. Namun, hal itu tidak semudah yang dibayangkan. Harapan itu kandas sudah." Kata Rangga.
Al lumayan terkejut mendengar penuturan Rangga.
"Maksud dokter Rangga?" Tanya Al.
"Setelah saya lulus, saya langsung bekerja di rumah sakit ini. Saya mendapat kemudahan dalam pekerjaan saya. Ternyata itu tidak kebetulan. Pemilik rumah sakit ini, dokter Winar meminta saya untuk menikah dengan putrinya, dokter Clarissa." Jawab Rangga.
Al begitu terkejut mendengar penjelasan Rangga. Ternyata dugaannya selama ini benar adanya. Dokter Rangga sudah bertunangan dengan dokter Clarissa.
"Jadi, rumor yang beredar jika dokter Rangga sudah bertunangan itu benar adanya?" Tanya Al.
Rangga mengangguk membenarkan sambil menyunggingkan senyum tipisnya. Dia terlihat tidak begitu antusias.
"Saya tidak memiliki kekuatan untuk menolaknya dokter Al." Kata Rangga sambil tersenyum sinis. "Anda beruntung bisa memiliki keinginan atas diri anda sendiri." Lanjutnya.
Al hanya mengangguk mendengar penuturan Rangga. Dia sedikit prihatin dengan apa yang disampaikan oleh yang ada di depannya ini.
"Dokter Al, saya hanya berharap anda bisa membahagiakan Khanza. Jangan buat dia menangis dan kecewa. Dia anak yang ceria dan penuh semangat. Segera ikat dia sebelum terlambat." Kata Rangga dengan senyum terkembang. Dia terlihat tulus saat mengatakannya.
Entah angin apa yang merasuki Al sehingga dia mengangguk mengiyakan.
"Dokter Rangga, boleh saya tanya sesuatu?" Kini giliran Al yang memberanikan diri untuk bertanya.
"Silahkan. Kita masih punya waktu sekitar lima menit lagi." Jawab Rangga.
"Apakah anda yang mengirim pesan langsung untuk Khanza pada akun sosial medianya dengan menggunakan akun ge_azz?" Tanya Al. Entah mengapa dia tiba-tiba teringat dengan perkataan Khanza waktu itu.
Seketika Rangga sedikit terkejut mendengar pertanyaan Al.
"Ah, anda mengetahui hal itu rupanya. Ternyata Khanza benar-benar bisa terbuka dengan anda dokter Al." Kata Rangga beberapa saat kemudian sambil tersenyum tipis. "Benar, dokter Al. Saya lah yang mengirimi pesan itu. Tapi anda tidak perlu khawatir. Saya tidak punya maksud jahat kepada Khanza. Saat itu, saya berniat untuk menjalin komunikasi dengannya. Namun, takdir berkata lain. Saya harus ikhlas melepaskannya dengan anda. Anda sangat beruntung dokter Al." Lanjut Rangga sambil tersenyum. Kali ini senyuman tulus yang dapat ditangkap oleh Al.
Setelahnya, Rangga segera beranjak dari tempat duduknya dan diikuti oleh Al. Mereka harus kembali karena jam istirahatnya sudah habis.
Rangga berlalu lebih dulu karena dia harus ke gedung utama rumah sakit tersebut. Sementara Al, masih bertugas di IGD. Mereka berpisah di pintu utama kantin.
Saat Al hendak menaiki menuju ke bagian IGD, dia tak sengaja bertemu dengan dokter Winar, pemilik rumah sakit tersebut. Al segera menyapa dokter paruh baya tersebut.
"Selamat siang Dok." Sapa Al.
"Ah, selamat siang juga dokter Al. Ehm, bisa ikut saya sebentar dokter Al?" Kata dokter Winar.
Al mengernyitkan keningnya bingung. Namun, dia segera mengangguk mengiyakan. Al mengikuti dokter Winar menuju ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian, Al dan dokter Winar sudah berada di ruangan dokter Winar.
"Silahkan duduk dokter Al." Kata dokter Winar.
"Terima kasih Dok." Jawab Al sambil mendudukkan diri di depan dokter Winar.
"Ehm, langsung saja dokter Al. Saya tidak bisa mengganggu jadwal kerja anda lama-lama." Kata dokter Winar yang segera di angguki oleh Al.
"Sebenarnya…"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf di potong dulu ya, othor e ngantuks bin lemes jarine ngetik
Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote.
Thank you.