Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 52


Retta yang belum menyadari maksud Vanno segera mendongak menatap manik mata sang suami.


"Bercocok tanam?" tanya Retta. "Mas Vanno ingin menanam apa di sini?" lanjutnya sambil mengernyitkan dahi.


"Tanam bayi" jawab Vanno


Bugh. Retta memukul punggung Vanno dengan tangannya.


"Enak saja mas Vanno ngomongnya. Emang dikira tanaman apa," sungut Retta. "Lagian mas, ini masih sakit tau. Rasanya aneh, seperti ada yang mengganjal" lanjut Retta.


Vanno mengecup pucuk kepala Retta dengan lembut. "Maaf sayang jika membuat kamu jadi tidak nyaman. Tapi, tenang saja. Nanti akan terbiasa juga kok." Kata Vanno.


Vanno dan Retta memutuskan untuk kembali masuk ke dalam villa. Retta segera menuju dapur untuk membuat makan siang. Dia baru tahu jika Vanno meminta pak Andi dan istrinya tidak usah ke Villa hari itu. Jadi, Retta akan memasak siang itu.


Sementara Vanno, dia segera menghubungi daddynya untuk menanyakan langkah apa yang harus dilakukannya. Vanno juga menghubungi beberapa sahabatnya untuk meminta bantuannya.


Sekitar satu jam kemudian, Retta sudah selesai memasak sup ayam kesukaan Vanno. Dia segera menyiapkan makannya di atas meja makan. Retta segera mencari suaminya dan mengajaknya makan siang.


Retta melihat Vanno tengah tertidur di sofa teras samping. Dia tertidur sambil bersandar dan masih memegang ponsel di tangan kanannya.


Retta tersenyum sambil berjalan perlahan mendekati sang suami. Dia masih merasakan sedikit nyeri di bagian bawahnya. Retta memandang wajah suaminya yang tengah terlelap di sofa. Dia mencondongkan badannya hingga berada di depan wajah sang suami. Retta mendekatkan bibirnya pada bibir Vanno. Cup. Retta memberikan kecupan singkat pada bibir Vanno.


Ketika hendak beranjak, Vanno malah menahan tengkuk Retta dengan kuat. Alhasil, mereka kembali beradu bibir dengan ganasnya. Tangan Vanno yang satunya menarik pinggang Retta hingga membuatnya terjatuh menimpa tubuh Vanno. Seketika Retta berteriak.


"Maasss!" teriak Retta.


"Sekarang sudah berani mencuri-curi kesempatan ya, hhmm" kata Vanno sambil tersenyum menatap wajah Retta yang tengah memerah karena menahan malu.


"Maasss ih, jangan gini ah. Malu jika ada yang lihat," jawab Retta sambil berusaha menghindar dari pelukan Vanno.


Bukannya melepas pelukannya dari tubuh Retta, Vano malah mengeratkan pelukannya. "Biarin, sudah sah ini. Yang lain biar iri"  kata Vanno sambil memberikan kecupan di seluruh bagian wajah Retta.


"Iiihh maasssh, geli tau!" berontak Retta. "Emang mas Vanno kira ini dunia milik berdua apa, terus yang lain ngontrak gitu?" sungut Retta.


"Biarin" jawab Vanno sekenanya.


Retta mengerucutkan bibirnya sambil mencubit paha Vanno. "Auuwwhhh. Sakit ini Ta." Vanno melotot. " Kamu sengaja mau menggoda Vj, ya?" kata Vanno sambil tersenyum smirk.


Retta bergidik melihat senyuman Vanno. "Nggak, nggak Mas. Aku cuma mau ngajak makan siang" kata Retta gelagapan.


Vanno memandang Retta sebentar sebelum beranjak berdiri. "Yasudah, ayo kita makan. Setelah ini aku akan memakan kamu." Kata Vanno sambil menaik turunkan alisnya. 


Retta membulatkan matanya dengan lebar. Bagaimana mungkin mas Vanno akan memakannya lagi. Bagian bawahnya saja masih sedikit nyeri. Batin Retta.


Vanno tersenyum melihat ekspresi Retta yang terlihat khawatir. Dia mengecup pucuk kepala Retta dengan lembut. "Tenang, aku akan pelan-pelan" katanya sambil menarik Retta menuju meja makan untuk makan siang. Retta menurut ketika tangannya ditarik oleh Vanno.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


Like, komen dan vote


Terima kasih