Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Kabar Gembira


"Mas, apa sudah ada kabar tentang perempuan yang mengaku-ngaku sebagai pacar kak Al?" Tanya Gitta saat melihat sang suami tengah mengotak atik ponselnya.


"Ada, dan kamu akan terkejut mendengarnya." Jawab Ken sambil menoleh sebentar ke arah sang istri.


Gitta langsung duduk dari rebahannya. Dia menatap wajah wajah sang suami sambil menggoyang-goyangkan lengannya.


"Katakan Mas, siapa perempuan itu? Aku jadi penasaran siapa dia dan apa motifnya." Kata Gitta semakin menempel pada tubuh sang suami.


Ken menoleh kembali pada sang istri sebelum menjawabnya.


"Dari penyelidikan om Arya, ternyata dalang dibalik kekacauan ini adalah Nurhadi, paman Vita. Lala itu sebenarnya adalah teman Risa, anak paman dan bibinya Vita. Dia dibayar untuk melakukan sandiwara itu agar Vita gagal menikah dengan Al." Kata Ken


"Apa?! Jadi paman Vita sendiri dalang dari semua ini. Lalu, apa motifnya Mas?" Tanya Gitta.


"Untuk motifnya masih belum diketahui. Ini om Arya juga masih mendesak Lala, perempuan yang mengaku-ngaku sebagai pacar Al yang juga sedang mengandung anaknya." Kata Ken.


"Apakah Vita sudah tahu masalah ini Mas?" Tanya Gitta.


"Belum, om Arya hanya memberitahuku dan daddy untuk masalah ini."


"Lalu, apa yang harus kita lakukan Mas?" Tanya Gitta.


"Sayang, kita tidak ada hubungannya dengan masalah ini. Ini permasalahan keluarga Al dan Vita. Kita hanya berusaha membantu untuk mengumpulkan bukti. Selebihnya, biar mereka sendiri yang menyelesaikannya."


"Aku sudah memberitahukan hasil penyelidikan om Arya kepada Al. Dua hari lagi, om Andreas akan dipindahkan ke rumah sakit di Jakarta. Biar Al dan keluarganya sendiri yang akan menyelesaikan masalah ini." Kata Ken.


Gitta hanya menganggukkan kepala mengerti setelah mendengar penjelasan Ken.


"Lalu, untuk foto itu bagaimana Mas?" Tanya Gitta.


"Itu bukan foto Al. Hanya bentuk rambutnya saja yang kebetulan mirip punya Al. Jika dilihat secara teliti, pada foto itu si laki-laki mempunyai tato di bawah bahu sebelah kanan. Karena foto diambil dari sisi kiri, jadi tato itu tidak terlihat dengan jelas. Apalagi pencahayaan di foto itu juga sangat minim." Jawab Ken.


Gitta mengambil ponsel sang suami dan segera melihat kembali foto yang telah dikirim oleh Vita kemarin.


"Iya benar Mas. Ini seperti gambar tato ya, sayang pencahayaannya tidak begitu jelas." Kata Gitta.


"Iya. Jadi, tidak mungkin Al akan memiliki tato pada tubuhnya. Bisa dikuliti langsung oleh om Andreas." Kata Ken.


Gitta mengangguk sambil mengembalikan ponsel suaminya. 


"Lalu, apa yang harus aku katakan pada Vita, Mas? Aku tidak ingin dia kenapa-napa. Aku takut pamannya akan berbuat hal yang aneh-aneh kepadanya." Kata Gitta dengan wajah sedihnya.


Ken menoleh untuk menatap wajah Gitta. Di usapnya pipi sang istri.


"Cukup kamu memberi tahu Vita agar dia dan ibunya lebih berhati-hati dengan pamannya. Tidak usah menceritakan apapun selain itu. Ini bukan wewenang kita untuk menjelaskan semuanya. Biar nanti Al dan keluarganya yang akan menjelaskannya." Kata Ken.


Gitta mengangguk mengiyakan perkataan suaminya. Ken tersenyum melihat sang istri menuruti perkataannya. Ken hendak berusaha meraup Gitta ke dalam pelukannya. Namun, saat tubuhnya mendekat, Gitta langsung mendorongnya agar menjauh.


"Iihhh, mas Ken bau banget sih. Mandi dulu gih, dari pagi belum mandi juga." Jawab Gitta sambil beringsut mundur.


"Ah masa aku bau sih Yang?" Tanya Ken sambil menciumi kaos dan lengannya.


"Iya, bau banget. Sudah, mas Ken mandi dulu. Aku mau siapkan makan malam." Jawab Gitta sambil beranjak berdiri dari tempat tidur. Ken juga segera berdiri dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Malam itu, mereka makan malam dengan menu makanan seadanya. Setelah makan malam, Gitta juga menelepon sahabatnya, Vita untuk memberitahu agar berhati-hati terhadap pamannya.


Pagi itu, udara pagi terasa cukup dingin. Genangan air sisa hujan semalam pun masih membekas di tanah. Matahari pagi juga sepertinya enggan menampakkan diri pagi itu. 


Gitta yang sudah siap dengan sarapan paginya segera berjalan menuju kamar tidurnya untuk membangunkan sang suami. Ken yang tidur kembali setelah sholat subuh itu akan sangat malas bekerja di hari senin jika tidak di bangunkan.


Ceklek.


Gita membuka pintu kamarnya. Dia mengedarkan pandangannya di seluruh kamar, tapi tidak menemukan sang suami. Syukurlah, sudah bangun. Batin Gitta.


Gitta segera beranjak menuju tempat tidur dan merapikannya. Belum selesai dia merapikan tempat tidur, terdengar suara pintu kamar mandi dibuka. Gitta menoleh untuk melihat sang suami yang telah keluar dari kamar mandi. Betapa terkejutnya dia saat mendapati sang suami masih dalam keadaan acak-acakan.


Rambut Ken masih acak-acakan, boxer semalam juga sedikit basah di bagian bawahnya, kaos tipis yang biasa dipakainya kini sudah terlepas dan disampirkan pada bahu kirinya. Wajah Ken juga terlihat seperti menahan sesuatu.


"Astaghfirullah Mas, itu kenapa muka kucel banget. Aku kira sudah mandi tadi." Kata Gitta sambil berjalan menghampiri sang suami. "Mas Ken sakit?" Tanya Gitta.


Ken menggeleng pelan sambil berjalan kembali menuju tempat tidur. Dia segera merangkak naik dan merebahkan diri kembali disana.


"Nggak sakit, tapi ini mual banget. Rasanya mulutku nggah enak sayang." Jawab Ken sambil memejamkan mata.


Gitta menempelkan punggung tangannya pada dahi Ken. Namun, dia tidak merasakan perubahan suhu pada tubuh Ken. Suhu tubuh mereka sama.


"Mas Ken mau sarapan? Aku ambilkan." Kata Gitta.


Ken kembali menggeleng. Dia masih menutup matanya.


"Aku nggak mau makan sayang." Jawab Ken.


Gitta menghembuskan nafas beratnya. Ken memang sangat rewel jika sedang tidak enak badan. Dulu, saat awal-awal menikah, Gitta sangat kewalahan dengan tingkah suaminya. Ken selalu meminta ditemani di atas tempat tidur. Bahkan, Ken dengan entengnya meminta selalu dipeluk oleh Gitta sepanjang hari. Gitta sangat malu pada mommy saat itu. Namun, mommy yang sudah sangat hafal dengan sikap Ken bisa memakluminya. Dia memang sudah terbiasa begitu sejak kecil jika sedang sakit.


"Mas Ken mau makan apa? Aku buatkan." Kata Gitta.


Seketika Ken membuka kedua matanya. Entah mengapa matanya tiba-tiba berbinar saat mendengar Gitta menawarinya makanan pilihannya.


"Aku mau makan bakso pedas mang Jupri." Kata Ken dengan penuh semangat.


"Hhhaaa?! Yang benar saja Mas, ini masih jam enam lewat. Bakso mang Jupri buka baru jam sebelas siang." Kata Gitta tidak percaya.


Ken yang mendengar jawaban Gitta langsung merengut. Entah mengapa gejolak di dalam perutnya kembali lagi. 


Dia menutup mulutnya dan segera berlari menuju kamar mandi. Gitta yang melihatnya segera menyusul sang suami. Gitta memijat tengkuk Ken dan menghapus peluh yang muncul pada dahi sang suami.


Ken rasanya ingin mengeluarkan semua isi yang ada di perutnya. Namun, karena dia masih belum sarapan, jadi tidak ada yang keluar lagi.


"Sayang, perutku nggak enak sekali rasanya. Mual." Jawab Ken sambil berkumur.


Gitta merasa sangat kasihan melihat sang suami seperti itu. Dia menuntuk Ken kembali ke tempat tidur.


"Aku buatka wedang jahe ya Mas, agar perutnya lebih hangat." Kata Gitta setelah membantu Ken kembali ke tempat tidur.


Gitta segera menuju dapur untuk membuatkan wedang jahe suaminya. Saat sedang berkutat di dapur, Gitta mendengar suara mommy Retta dari depan memanggil namanya.


"Aku di dapur Mom." Kata Gitta sedikit berteriak.


Tak lama kemudian, mommy terlihat berada di belakang Gitta sambil membawa sebuah semangka.


"Semangka dari mana Mom?" Tanya Gitta saat melihat sang mertua memasukkan semangka ke dalam kulkas.


"Itu tadi daddy kamu lari pagi pulang-pulang bawa semangka. Katanya di depan komplek ada bapak-bapak yang jual semangka. Karena banyak yang beli jadi daddy kamu ikut beli." Kata mommy. Gitta yang mendengarnya hanya menganggukkan kepalanya mengerti.


"Sedang buat apa?" Tanya mommy.


"Ah, ini buat wedang jahe Mom. Mas Ken sedang tidak enak badan. Perutnya nggak enak, mual katanya." Jawab Gitta sambil menuangkan air ke dalam gelas.


Seketika Retta membulatkan mata dan mulutnya setelah mendengar jawaban Gitta.


"Dimana sekarang suami kamu?" Tanya mommy penuh semangat.


"Eh, ada di kamar Mom." Jawab Gitta. Setelah itu, mommy langsung berbalik dan berjalan sangat cepat menuju kamar sang putra. Gitta yang melihatnya merasa heran.


Setelah selesai membuatkan wedang jahe, Gitta berniat membawanya ke dalam kamar. Namun, saat dia keluar dari dapur, dia melihat daddy Vanno juga berjalan memasuki rumah.


"Pagi Dad." Sapa Gitta.


"Pagi. Mommy kamu kesini?" Tanya daddy.


"Ah iya. Mommy ada di kamar mas Ken." Jawab Gitta.


Vanno mengerutkan dahinya. Dia menatap wedang jahe yang di bawa sang menantu.


"Wedang jahe? Untuk siapa?" Tanya daddy Vanno.


"Oh, ini untuk mas Ken, Dad. Peutnya nggak enak dari pagi, mual-mual katanya." Jawab Gitta.


Daddy sama terkejutnya seperti mommy setelah mendengar jawaban Gitta.


"Aku ke atas dulu." Kata daddy sambil ngeloyor pergi menuju kamar Ken.


Gitta yang melihatnya merasa heran. Bagaimana tidak, kedua mertuanya bertingkah aneh pagi itu. Apa mungkin karena mengkhawatirkan sang putra. Batin Gitta. Setelahnya, dia segera membawa wedang jahe buatannya ke kamar.


Dilihatnya mommy dan daddy berdiri di depan pintu kamar mandi. Bisa dipastikan Ken ada di dalamnya, melihat tempat tidur itu telah kosong. Gitta meletakkan wedang jahe buatannya di atas nakas, kemudian berbalik menemui Retta dan Vanno.


"Mas Ken di dalam Mom?" Tanya Gitta.


"Iya. Suamimu mommy suruh mandi. Awalnya menolak, tapi akhirnya mau mandi saat mommy bilang mau mandikan dia. Hahahaha." Kata mommy.


Gitta hanya menggelengkan kepalanya setelah mendengar jawaban sang mertua.


"Git, kamu siap-siap juga gih. Kita ke dokter setelah ini." Kata mommy.


Gitta hanya bisa mengangguk mengiyakan. Untung saja tadi pagi dia langsung mandi setelah selesai memasak. Gitta segera mengganti bajunya dengan dress sederhana dan menyiapkan baju juga untuk Ken. Setelah semua siap, mereka berempat segera menuju rumah sakit untuk periksa. Tepatnya, memeriksakan Gitta.


Mommy menduga jika Gitta tengah hamil muda. Mengingat dulu Vanno juga mengalami hal yang sama seperti yang di alami oleh Ken. Namun, Gitta masih belum menyadari hal itu.


Dan, disinilah mereka berempat berada. Saat ini, mereka semua telah berada di dalam ruangan praktik dr. Evita, dokter kandungan yang juga merupakan putri dari dr. Yudith.


Gitta sudah berbaring di brankar pasien dengan dr. Evi dan seorang perawat berada di sampingnya. Mommy juga sangat antusias berdiri di samping kiri brankar Gitta. Sementara Vanno dan Ken tengah menunggu di depan meja dokter tersebut.


"Alhamdulillah Bu Retta, anda akan segera mendapatkan cucu. Menantu anda tengah mengandung. Usia kandungnnya sudah mencapai enam minggu." Kata dr. Evi.


Retta langsung memeluk Gitta saat itu juga. Dia merasa sangat bahagia saat mengetahui sang menantu tengah mengandung. Begitu juga dengan Gitta. Ada rasa hangat dalam dadanya. Tak hentinya rasa syukur selalu dibisikkan dihati.


Vanno dan Ken tak kalah bahagiannya. Mereka sangat bahagia mendengar kabar itu. Setelahnya, dr. Evi memberikan beberapa vitamin untuk dikonsumsi Gitta dan juga pereda mual untuk Ken. 


"Selamat boy, kamu akan jadi young and hot daddy. Jaga istri dan calon anak kamu dengan baik. Ingat, jangan menggoda Gitta lagi mulai saat ini. Usia kandungannya masih sangat muda, kamu harus bisa bersabar untuk tidak menyerangnya. Kecuali,..." Daddy Vanno melirik ke arah Retta dengan tatapan jahilnya. Rupanya dia ingat saat awal kehamilan sang istri. Rettalah saat itu yang selalu menggodanya.


Retta yang mengerti tatapan mata Vanno langsung mendengus kesal.


"Itu bukan mauku juga Mas. Itu maunya Ken." Dengus mommy Retta.


"Lhah, memang aku mau apa Mom?"



Mungkin begitu kali ya, Ken saat acak-acakan bangun tidur



Sama ini nahan pusing dan mual



Gitta mah always haply 🤗



Mau bangun tidur sampai tidur lagi 🤭


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Hayo, kira-kira Ken mau apa ya?