
Adzan subuh membangunkan Retta dari tidur lelapnya. Dia menggeliat di bawah selimut yang masih menutupi tubuh polosnya. Retta masih belum menyadari keadaan tubuhnya yang masih polos di bawah selimut tersebut.
Ketika dia berusaha membalikkan tubuhnya, dia merasa sakit dibagian bawah sana. Terasa aneh. Retta mengingat pergulatannya dengan Vanno semalam. Dia menutup mulutnya sambil berusaha berbalik menghadap Vanno yang tengah tertidur di sampingnya.
Mata Retta langsung membesar begitu mengetahui Vanno juga tengah tertidur dengan tubuh yang masih polos. Retta segera menarik selimut agar menutupi tubuh polos mereka.
"Maass, bangun. Subuh ini" kata Retta sambil menggoyang-goyangkan lengan Vanno. Sedangkan Vanno hanya menggeram sambil merapatkan selimutnya tanpa membuka mata.
"Maaasss, ayo bangun. Sudah subuh ini," kata Retta lagi. "Aku butuh bantuan ke kamar mandi, Mas" lanjut Retta.
Vanno membuka mata dan menoleh kepada Retta. Dia mengucek matanya sambil menguap. "Sudah subuh ya?" tanya Vanno.
"Iya, ayo bantu aku ke kamar mandi Mas, sakit ini" bujuk Retta.
Vanno mengangguk dan segera turun dari ranjang. Seketika Retta membuang muka karena malu melihat tubuh polos Vanno.
"Ma-mas pakai baju dulu dong. Malu tau." kata Retta.
"Bajuku hilang, ndak tahu kemana. Sudah, sini aku bantu. Lagian, semalam kamu juga sudah melihat, bahkan merasakannya kan," goda Vanno.
Blush.
Wajah Retta semakin panas. Dia benar-benar merasa malu.
Vanno dengan telaten membantu Retta membersihkan diri. Vanno mencuri-curi kesempatan menjahili Retta di kamar mandi.
"Mas, ini kapan selesainya mandi jika begini terus?" kata Retta sambil memanyunkan bibirnya.
Retta benar-benar geram dibuatnya. Bagaimana tidak, berulang kali Retta selesai membilas rambut nya dengan air, sekarang malah ditambahi sampo lagi oleh Vanno. Begitu juga dengan Retta yang sudah selesai membilas tubuhnya dengan air, Vanno malah menuangkan dan menggosokkan sabun cair ke atas tubuh Retta.
Retta memukul lengan Vanno pelan untuk menghentikan kejahiliannya. Vanno malah tertawa mendapat pukulan dari Retta. Lima menit kemudian, mereka segera menyelesaikan mandinya dan segera melaksanakan sholat subuh berjamaah.
Setelah selesai, Vanno merebahkan diri di tempat tidur lagi dengan bertelanjang dada. Badannya masih terasa lelah. Retta berjalan ke arahnya dengan pelan. Dia masih merasakan sakit di bagian bawahnya.
"Mas, kemarin mommy memberikan salep pereda sakit ditaruh di mana?" tanya Retta sambil mengguncang lengan Vanno. "Rasanya sakit mas, bengkak ini" lanjut Retta.
Seketika Vanno menoleh menatap Retta. Dia benar-benar lupa dengan keadaan Retta. Vanno segera beranjak dari tidurnya dan melangkah menuju laci meja di samping pintu kamar. Dia mengambil salep yang diberikan sang mommy untuk meredakan sakit dibagian bawah tubuh Retta.
Bagaimana mungkin mas Vanno akan membantu mengobati bengkak di bagian bawahku, bisa-bisa malah membangunkan singa tidur. Batin Retta.
Melihat Retta yang ketakutan, Vanno beranjak mendekatinya dan berjongkok di depan lutut Retta. "Sudah, nggak usah khawatir aku akan menyerangmu lagi sekarang. Aku kasihan jika melihatmu kesakitan seperti ini" kata Vanno. "Sini, aku bantu. Biar cepat sembuh" lanjut Vanno.
Melihat kesungguhan Vanno, Retta akhirnya menurut. Dia segera membuka ****** ********. Vanno hanya bisa menelan ludah dengan kasar melihat ladangnya ada di depan mata. Dia berusaha mati-matian untuk tidak menyerang Retta.
Vanno segera mengobati bagian bawah Retta. Dia tidak mau berlama-lama agar tidak tergoda lagi. Setelah selesai, Vanno mengembalikan obat tersebut ke dalam laci. Ketika berbalik, Retta benar-benar terkejut menyadari punggung Vanno yang penuh dengan cakaran.
"Mas!, it-itu punggung kamu habis dicakar drakula?" teriak Retta.
note:
Bagi yang bertanya kenapa part 46-48 hilang, maaf reader semua, hal itu disebabkan karena ada yang mereport cerita ini. Padahal cerita ini sudah aku up sejak september. Jadi, othor bukan menyengaja skip, karena memang ada orang yang melaporkan. Terima kasih.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
Like, komen dan vote.
Jika berkenan silahkan mampir di ceritaku satunya