Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 83


Vanno yang mulai memahami maksud dokter Yudith langsung panik seketika. "Apa yang harus aku lakukan Dok?" tanyanya.


"Solo karir, hahahaha" jawab dokter Yudith sambil tertawa.


Vanno hanya bisa mendengus kesal. Dia benar-benar tidak menyangka jika dokter yudith bisa menjadi orang yang sangat menyebalkan.


"Dokter benar-benar menyebalkan," kata Vanno sambil mencebikkan bibirnya.


Melihat Vanno yang tengah kesal, dokter Yudith segera menghentikan tawanya. Dia kembali menegakkan punggungnya sambil melepas kacamata yang sejak tadi bertengger di atas hidungnya.


"Bukannya tidak boleh kalian melakukan hubungan suami istri Van, tapi kalian harus benar-benar berhati-hati," kata dokter Yudith menjelaskan kepada Vanno. "Jika mengingat kamu anak Evan, aku jadi sedikit khawatir tentang hal itu. Daddy kamu itu memiliki naf*su yang sangat besar. Mommy kamu bahkan sampai kewalahan di awal-awal pernikahan mereka. Namun, lama-kelamaan mommy kamu sudah bisa mengimbangi permainan daddy kamu,"


Dokter Yudith menempelkan punggungnya pada kursi sebelum melanjutkan lagi ceritanya. "Aku yakin jika kamu tidak jauh berbeda dengan daddy kamu untuk hal yang satu itu," kata dokter Yudith melanjutkan penjelasannya.


Vanno yang memahami maksud dokter Yudith segera mengangguk. Vanno ingin menanyakan sesuatu kepada dokter Yudith, namun suara seorang perawat mengagetkannya.


"Maaf Dok, mbak Rettanya sudah siuman," kata perawat dari balik pintu.


Vanno yang mendengarnya segera beranjak pergi meninggalkan dokter Yudith. Dia segera pergi untuk menemui sang istri. Begitu melihat Retta tengah bersandar pada kepala ranjang, Vanno langsung memeluknya dan memberikan kecupan singkat di dahi Retta. Retta yang merasa sedikit lemas hanya bisa pasrah mendapat pelukan dari Vanno.


"Sayang, bagaimana perasaanmu?" tanya Vanno setelah melepaskan pelukannya.


Retta memandang wajah suaminya sebentar sebelum menjawab pertanyaannya. "Rasanya aneh Mas, aku merasa sangat lemas," jawab Retta. "Tadi pagi tiba-tiba perutku terasa aneh dan kepalaku terasa sangat berat. Lalu, semuanya terlihat gelap. Apa yang terjadi Mas?" tanya Retta.


Sementara Vanno masih menyunggingkan senyumannya. Dokter Yudith yang sudah berada di samping Vanno segera memeriksa keadaan Retta. Setelah selesai, dia meminta Retta untuk tidak terlalu stres.


"Tidak terjadi apa-apa Ta, kamu baik-baik saja" kata dokter Yudith. "Tapi, mulai sekarang kamu harus lebih berhati-hati. Ada janin yang harus kamu perhatikan mulai sekarang," lanjut dokter Yudith.


Retta masih cengo mencerna perkataan dokter Yudith. Matanya mengerjap sebentar sebelum beralih menatap wajah suaminya.


"Ja-janin?" tanya Retta pada Vanno.


Retta yang mendengar jawaban suaminya langsung merasakan ada sesuatu yang menghangatkan dadanya. Air matanya tiba-tiba jatuh meleleh di pipinya. Tangannya memegang perutnya yang masih rata dengan lembut. Ada perasaan yang sangat hangat di sana. Vanno merasa sangat bahagia melihat Retta.


"Ma-mas i-ini…" Retta terbata-bata mengungkapkan perasaan campur aduknya. Vanno yang menyadari istrinya terharu segera merengkuhnya ke dalam pelukannya.


"Iya sayang, ada baby di dalam perut kamu. Kita akan segera jadi orang tua. Terima kasih sayang," kata Vanno sambil memberikan kecupan di puncak kepala Retta. Mereka sangat bahagia.


Setelah dokter Yudith memberikan beberapa vitamin dan pengarahan untuk Vanno dan Retta, mereka segera pamit untuk pulang. Di dalam perjalanan, Retta tak berhenti mengusap perutnya yang masih rata. Hal itu tak luput dari perhatian Vanno.


"Kamu bahagia sayang?" tanya Vanno.


"Iya Mas, aku bahagia sekali. Alhamdulillah kita diberi kepercayaan oleh Allah," jawab Retta yang di angguki oleh Vanno.


"Kita harus segera memberitahu kabar ini kepada mommy dan ibuk Mas, aku yakin mereka juga pasti akan sangat bahagia" kata Retta


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Mohon dukungannya ya, biar semangat upnya


Tinggal beberapa part lagi sudah end lho, jangan lupa tinggalkan jejak.