Mendadak Istri

Mendadak Istri
Extra Part 6


Gitta semakin yakin jika bibinya itu belum berubah.


"Bibi bilang aku tega? Lalu, yang bibi dan keluarga lakukan terhadapku itu apa? Perlakuan yang baik begitu?" Sindir Gitta.


Sang bibi terlihat mengeraskan rahangnya. Dia hendak membalas perkataan Gitta, namun sebuah suara menghentikan niatnya.


"Apa yang kamu lakukan disini?!" Kata Ken yang tiba-tiba sudah berada di belakang sang bibi. Bibi Gitta tidak mengetahui kedatangan Ken saat itu, karena dia duduk membelakangi arah pintu masuk.


Mendengar suara Ken, bibi Gitta langsung menoleh dan menggeser tubuhnya. Dia sedikit bergidik ngeri saat melihat raut wajah Ken yang tidak bersahabat. Raut wajah yang menahan kesal, dengan rahang mengeras dan sorot mata tajam menghiasi wajah Ken. Ken terlihat sangat tidak bersahabat.


Ken berjalan mendekati baby Z yang sudah melambai-lambaikan tangan ke arahnya. Dia segera menggeser tempat duduk mendekati sang putra.


"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kamu lakukan disini?" Tanya Ken sekali lagi.


Bibi Gitta terlihat panik. Namun, dia terlihat berusaha menenangkan diri. Bibi Gitta memberanikan diri untuk menatap wajah Ken sebelum berbicara.


"A-aku tidak mempunyai niatan buruk terhadap Gitta dan anak kamu. Aku hanya ingin meminta bantuan kalian." Kata bibi Gitta dengan tatapan sendunya. 


Ken dan Gitta memandang wajah sang bibi dengan tatapan menelisik. Mereka tidak mau mudah percaya dengan apa yang dikatakannya.


"Meminta bantuan? Apa tidak salah. Kamu masih berani meminta bantuan kepada kami setelah apa yang kamu dan anak kamu lakukan kepada Gitta? Bahkan kami hampir saja kehilangan putra kami karena perbuatan anak kamu." Kata Ken masih dengan tatapan datarnya.


Bibi Gitta sedikit tersentak dengan perkataan Ken. Dia sadar jika perbuatannya dulu sangat tidak baik terhadap Gitta. Bahkan, dulu dia dan suaminya malah dengan tega mengambil warisan peninggalan ibu angkat Gitta yang memang dipersiapkan untuk biaya kuliah Gitta dan menopang hidupnya sampai Gitta menikah. 


Kesalahan keluarga mereka bertambah lagi saat sang putri ikut-ikutan membuat masalah dengan Gitta. Salsa, putrinya sempat terlibat adu mulut dengan Gitta dan berakhir dengan dirinya mendorong Gitta hingga terjatuh. Saat itu, Gitta sudah hampir kehilangan sang putra, pewaris perusahaan Geraldy.


Bibi Gitta masih menatap wajah Ken dan Gitta bergantian. Dia terlihat menyesal dengan perbuatannya beserta keluarganya dulu. Namun, sekarang nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan pun hanya tinggal penyesalan. Ken dan Gitta pasti akan sangat sulit mempercayainya dan keluarganya lagi.


"Aku meminta maaf untuk semua yang sudah aku dan keluargaku lakukan terhadapmu Git. Kami gelap mata saat itu, sehingga kami melakukan hal yang tidak seharusnya kami lakukan. Namun, kami sudah mendapatkan balasannya sekarang."


"Kami sudah tidak punya apa-apa lagi Git. Paman kamu sudah tidak bisa bekerja di tempat manapun. Tidak ada yang mau menerimanya bekerja. Dia sekarang bekerja sebagai kenek angkutan, dengan penghasilan yang tidak menentu."


"Salsa, jangan ditanya lagi bagaimana dia sekarang. Dia sudah berhenti kuliah. Aku akui semua itu memang kesalahannya sendiri. Aku sama sekali tidak mengetahui jika dia menjadi simpanan om-om. Aku juga sangat terkejut saat mengetahui ada seorang wanita yang datang ke rumah dan mengancam Salsa. Saat itu aku baru mengetahui apa yang dilakukan Salsa."


"Sedangkan aku sendiri, saat ini bekerja sebagai seorang pembantu lepas di dekat kontrakan kami." Kata bibi Gitta panjang lebar.


Setelah mendengar perkataan bibinya, Gitta dan Ken terlihat saling pandang. Hati mereka mulai sedikit iba melihat penderitaan yang dialami keluarga bibi Gitta tersebut. Meskipun, semua itu merupakan akibat dari perbuatan mereka sendiri.


Ken kembali menatap bibi Gitta dengan tatapan datarnya.


"Lalu, apa yang kamu inginkan?" Tanya Ken. "Kamu ingin meminta pekerjaan untuk suamimu agar dapat bekerja seperti dulu?" Lanjut Ken.


Bibi Gitta menggelengkan kepalanya sambil menatap wajah Ken.


"Tidak. Aku tidak akan meminta hal seperti itu. Kami sadar, jika perbuatan kami dulu sangatlah tidak baik. Kami hanya meminta pekerjaan yang tetap. Penghasilan suamiku yang bekerja sebagai kenek angkutan tidak bisa dijadikan pegangan. Penghasilannya tidak tetap setiap hari. Apalagi pekerjaanku sebagai pembantu rumah tangga panggilan, juga tidak menentu. Salsa di rumah kontrakan kami, terpaksa menerima laundry untuk membantu menutup biaya kebutuhan sehari-hari. Kami hanya meminta pekerjaan yang memiliki penghasilan tetap. Kami berjanji akan berusaha sebaik mungkin." Kata bibi Gitta. Matanya terlihat berkaca-kaca saat mengucapkan hal itu.


Gitta merasa sedikit tergerak hatinya. Selama dia mengenal bibinya itu, belum pernah dia melihat wajah bibinya yang terlihat putus asa seperti itu. Biasanya, hanya wajah yang angkuh penuh dengan sindiran yang selalu ditampakkannya.


Gitta menoleh menatap wajah Ken yang terlihat tengah berpikir saat itu. Dirinya yakin, sang suami memiliki rencana sendiri.


Setelah cukup lama berpikir, akhirnya Ken kembali bersuara. Ken menegakkan posisi duduknya sambil tangannya masih dimainkan oleh sang putra.


"Baiklah. Ini yang terakhir kali aku akan membantu kamu dan keluargamu. Datanglah ke pabrik xxx. Temui pak Hendro disana. Aku akan menghubunginya nanti agar memberi kalian pekerjaan disana." Kata Ken akhirnya.


Seketika wajah sang bibi terlihat berbinar bahagia. Senyum bahagia terlukis begitu saja pada bibirnya yang biasa menampilkan ekspresi angkuhnya itu.


"Tapi ingat. Jika kalian berulah lagi, aku sendiri yang akan memastikan keluarga kalian hanya tinggal nama. Dan, jangan ganggu Gitta dan putraku lagi setelah ini. Anggap itu bantuan terakhir dari kami." Kata Ken.


Bibi Gitta mengangguk dengan yakin. Dia berjanji tidak akan mengganggu Gitta dan keluarganya lagi. Dia sudah merasa kapok jika harus berurusan dengan keluarga Geraldy. Setelah mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Ken dan Gitta, bibi segera pamit pulang untuk memberitahukan berita itu kepada suami dan anaknya.


Sepeninggal bibinya, Gitta menoleh menatap wajah Ken yang tengah bermain-main dengan putranya. Ken yang menyadari jika dirinya tengah dipandangi oleh sang istri langsung menoleh. Dia menaikkan alisnya saat menatap wajah sang istri.


"Ada apa?" Tanya Ken.


Gitta tersenyum sambil mengangkat tangannya untuk menyentuh pipi Ken. Diusapnya pipi itu dengan lembut.


"Terima kasih Mas. Terima kasih kamu lebih memikirkan sisi kemanusiaan daripada mengedepankan rasa dendam terhadap keluarga paman dan bibiku." Kata Gitta.


Ken tersenyum mendengar perkataan sang istri. Diambilnya tangan yang masih mengusap pipinya tersebut dan dikecupnya berkali-kali.


"Aku hanya berusaha untuk menyelamatkan hatiku sendiri dari terlalu banyaknya penyakit hati. Aku ingin hidup damai bersama anak dan istriku tanpa harus dipenuhi dengan cerita tidak mengenakkan di masa lalu." Kata Ken. Gitta tersenyum bahagia mendengarnya.


Setelahnya, mereka melanjutkan makan siang yang sempat tertunda.


Sementara di tempat lain, Khanza dan Al masih berada di dalam kendaraan untuk menuju rumah tante Al. Ada acara syukuran di sana. Orang tua Al sudah berada di sana sejak kemarin sore.


"Ini semua gara-gara kamu Mas kita jadi berangkat kesiangan ini." Gerutu Khanza kepada sang suami.


"Lhah, kok aku sih?" Jawab Al sekenanya.


"Kamu minta lembur terus Mas, nambah dan nambah. Aku jadi heran, semakin lama kamu semakin aneh." Kata Khanza kesal.


"Bukanya kamu suka?" Goda Al sambil tersenyum ke arah sang istri.


Khanza menoleh menatap wajah sang suami. 


"Enggak, aku nggak suka." Jawab Khanza dengan ketus.


"Yakin nggak suka?" Tanya Al lagi.


"Enggak, nggak salah maksudnya."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Tetap mohon dukungannya ya kakak, klik like komen dan vote.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru, silahkan follow ig othor @keenandra_winda


Thank you