Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Isi Hati 2


"Bagaimana caranya?" Tanya Vita penasaran. 


Gitta menatap wajah sahabatnya sambil tersenyum.


"Ehm, sebenarnya aku tahu siapa yang akan dijodohkan denganmu." Kata Gitta.


"Hhaaahh? Kamu serius Git? Kok bisa? Kalian kenal dari mana?" Tanya Vita beruntun. 


Gitta merengut kesal saat mendengar pertanyaan beruntun dari Vita.


"Kamu ini Vit, satu-satu dong tanyanya. Aku bingung jawabnya tau." Kata Gitta sambil berjalan untuk mengambil bumbu untuk masakannya.


"Maaf, tapi aku penasaran Git. Bagaimana kamu bisa mengenal kak Al?" Tanya Vita.


Gitta menoleh menatap Vita sebelum melanjutkan masakannya. "Sebenarnya, kak Al itu adalah sahabat mas Ken. Awalnya aku juga nggak tahu jika mereka sahabatan. Kebetulan aku sempat cerita, dan ternyata calon yang dijodohkan denganmu itu adalah dia, kak Al." Jawab Gitta.


Vita cukup terkejut saat mengetahui Ken bersahabat dengan Al. Secercah harapan tentang kelangsungan hubungannya dengan Gilang mulai menggeliat kembali. Gitta yang melihat ekspresi Vita langsung menyenggol lengan sahabatnya itu.


"Eh, maaf aku jadi melamun" jawab Vita.


"Hayo, pasti sedang melamunkan masa depan bareng Gilang ya?" Goda Gitta.


Vita yang tengah digoda oleh Gitta pun langsung menunduk malu. Gitta yang melihatnya hanya tertawa-tawa.


"Jadi, bisa mulai cerita dong, awal mula kalian bisa sampai tahap ini?" Tanya Gitta.


Vita langsung menoleh menatap Gitta dan hanya bisa mengangguk mengiyakan.


"Aku bertemu dengan Gilang pertama kali saat itu, beberapa hari sebelum diadakannya ospek angkatan kita. Kamu masih ingat kan, waktu itu kita harus melengkapi persyaratan agar bisa mengikuti ospek." Kata Vita.


"Ah, iya. Aku masih ingat. Kita harus berlari-lari saat itu karena kurangnya informasi yang kita peroleh kan," kata Gitta sambil tertawa mengingat kejadian itu. Dia hampir bertengkar dengan sopir angkot yang sembarangan menyetir saat itu.


Vita ikut tersenyum mengingat hal itu.


"Iya. Saat itu, aku berlari secepat yang aku bisa untuk menuju ruang administrasi. Namun, saat itu aku tertabrak oleh beberapa aktivis BEM yang kebetulan berbelok dari ruang dekan. Kami pun saling tubruk dan terjatuh. Mungkin karena mereka juga sedang buru-buru, jadi mereka sama sekali tidak membantuku. Saat itu lah Gilang dan temannya yang kebetulan lewat membantuku. Sejak saat itu, kami mulai dekat." Kata Vita.


Gitta mengangguk mengerti. Memang Vita merupakan sahabatnya. Namun, mereka tidak selalu bertemu setiap hari. Hal itu dikarenakan mereka beda fakultas dan juga kesibukannya yang bekerja part time di butik mommy. Jadi, Gitta mengerti jika dia tidak begitu tahu dengan teman-teman Vita jika sang sahabat tidak menceritakannya.


"Sejak saat itu kalian pacaran?" Tanya Gitta.


"Tidak juga sih, kita mulai pacaran sejak semester dua." Jawab Vita.


Gitta masih mengangguk-anggukkan kepalanya saat mendengar penjelasan Vita. Tangan Gitta masih mengaduk-aduk bumbu sambal goreng yang tengah dimasaknya. 


"Ehm, Git. Lalu bagaimana caranya kamu bisa membantuku?" Tanya Vita sambil menggigiti bibirnya.


Gitta tersenyum sambil masih mengaduk-aduk masakannya.


"Beberapa hari yang lalu, aku ikut mas Ken untuk menemui kak Al sebelum balik ke Surabaya. Dari sana aku tahu jika dia juga terpaksa menyetujui perjodohan ini karena tidak ingin mengecewakan orang tuanya. Dan, aku juga yakin kamu juga menyetujuinya karena alasan yang sama kan?" 


Vita langsung mengangguk mengiyakan tebakan sang sahabat.


"Benar. Aku juga menyetujui perjodohan ini karena tidak ingin mengecewakan ayah. Aku bahkan tidak berani memperkenalkan Gilang kepada keluargaku." Kata Vita dengan wajah sendu.


Gitta bisa memahami perasaan sang sahabat. Dia segera mengangkat masakannya dan menuangkannya pada tempat makan yang ada di meja makan tersebut. Setelahnya, Gitta menarik lengan Vita agar duduk di sana.


"Vit, aku akan minta bantuan mas Ken agar membicarakan masalah ini dengan kak Al. Tapi mungkin tidak bisa sekarang. Kak Al masih menyelesaikan koasnya. Mungkin sekitar tiga bulan lagi." Kata Gitta.


Vita yang menatap wajah sahabatnya seketika tersenyum. Dia mengangguk mengiyakan.


"Iya Git. Terima kasih. Lagi pula, aku juga tidak mungkin membicarakan masalah ini sebelum seratus harinya ayah." Jawab Vita.


Gitta kembali tersenyum. Setelahnya, dia mengajak sang sahabat untuk mencicipi masakannya.


Hari berganti hari hingga bulan pun telah berganti. Hari itu, Ken dan Gitta akan bersiap-siap pergi ke Surabaya esok hari untuk menghadiri upacara kelulusan Khanza. Mommy dan daddy bahkan sudah berada disana sejak dua hari yang lalu.


"Mas, ini beneran kita akan langsung ke Malang sehabis dari Surabaya?" Tanya Gitta saat memasukkan beberapa pakaian Ken ke dalam kopernya.


"Hhhmmm. Aku harus melihat pembangunan villa di Batu sayang." Jawab Ken. "Sekalian, aku ingin honeymoon." Lanjut Ken sambil menaik turunkan alisnya.


"Kamu honeymoon atau tidak sama saja Mas, nggak ada bedanya." Kata Gitta.


"Ya mau bagaimana lagi sayang, entah kenapa rasanya tubuh kamu ini semakin menjadi candu bagiku." Kata Ken sambil memeluk Gitta dari belakang.


Gitta yang sudah hafal dengan tingkah sang suami segera menghentikan tangannya yang sudah mulai menjelajah ke bagian bawah tubuhnya.


"Mas ih, jangan mulai deh. Ini belum selesai packingnya." Kata Gitta sambil masih berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan sang suami.


"Packing nanti saja lah." Kata Ken sambil memeberikan beberapa kecupan pada leher sang istri.


Gitta segera menarik lengan sang suami hingga terlepas. Selanjutnya, dia menarik sang suami agar duduk di tepi tempat tidur mereka.


"Mas, saat ini ada yang lebih penting untuk dibicarakan dari pada hokya-hokya kegemaran kamu itu." Kata Gitta.


"Ah, kata siapa hanya kegemaranku. Kamu sendiri juga menyukainya." Kilah Ken.


Gitta mendengus kesal mendengarnya. Namun, dia berusaha sabar menghadapi sang suami.


"Mas, besok kan kita akan ke Surabaya. Mas ingat kan masalah yang dulu aku bicarakan tentang Vita?" Tanya Gitta.


Ken mengangguk mengerti. Ya, dia ingat jika masalah yang dimaksud Gitta adalah masalah pertunangan sang sahabat, Vita dengan Al, yang juga merupakan sahabatnya.


"Lalu, apa yang harus aku lakukan?" Tanya Ken.


Gitta mengerucutkan bibirnya karena kesal dengan Ken yang tidak peka.


"Ya mas Ken ngomong dong sama Kak Al. Bilang ke dia untuk batalin pertunangannya atau gimana gitu. Vita kan sudah punya pacar Mas. Lagian, kasihan juga jika mereka harus menikah tapi tidak saling mencintai." Kata Gitta.


"Lha, kita kan juga menikah saat belum saling mencintai kan?" Kata Ken.


Gitta kembali mendengus kesal.


"Iya, tapi kita kan tidak menyakiti hati siapapun Mas. Aku tidak mempunyai pacar, dan mas Ken juga tidak punya. Jadi aman. Tapi, untuk masalah Vita itu beda. Vita kan sudah punya pacar, bahkan sudah hampir dua tahun. Apa tidak kasihan sama Gilang?"


Ken memikirkan kembali perkataan Gitta. Benar juga. Saat menikah dirinya dan Gitta sama-sama tidak memiliki ikatan apapun dengan orang lain. Jadi bisa langsung memulai untuk saling menerima. Tapi untuk kasus Vita tidak seperti itu. Ada gilang diantara mereka. Meskipun Ken juga tahu jika Al tidak punya kekasih, alias jomblo seperti dirinya dulu.


"Baiklah, aku akan membicarakan masalah ini dengan Al. Tapi aku tidak bisa memaksanya untuk menolak atau menerima perjodohan ini. Ini adalah urusan mereka. Aku hanya memberi masukan." Kata Ken.


Seketika Gitta merasa sangat bahagia. Dia segera memeluk sang suami dan menghadiahi beberapa kecupan pada pipi Ken.


"Terima kasih Mas. You're the best pokoknya." Kata Gitta sambil tersenyum bahagia.


Ken ikut tersenyum saat melihat sang istri bahagia. Dia membalas pelukan sang istri.


"Aku hebat dalam apa?" Goda Ken.


Gitta mengerucutkan bibirnya dengan kesal.


"Kamu ini Mas, tuman."


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Up pagi. Hari ini jadwal agak padat ya, semoga bisa cepat selesai jadi bisa segera up lagi.


Mohon dukungannya ya,


Thank you 🤗