Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Warisan


"Enak saja dibilang menantang, yang ada rasanya sakit tahu. Kudu njebrot Mas," ketus Retta.


"Hhhaaaahh gembrot?" Tanya Vanno sambil memutar kepalanya menoleh ke arah Retta.


Puk. Retta memukul bahu suaminya dengan pelan.


"Dasar kamu ini Mas, masih saja suka bercanda. Bantuin istrinya kek, malah diajakin bercanda melulu," protes Retta.


"Lha tadi aku sudah menawarkan bantuan sayang. Ini bibir aku siap dan ikhlas kok memompa asinya," kata Vanno sambil memonyong-monyongkan bibirnya.


"Itu bibir kenapa dimonyong-monyongkan seperti bibir ikan yang megap-megap begitu hah," gerutu Retta.


"Lha ini siap membantu lho sayang, kalau tidak percaya dicoba deh," kata Vanno.


"Seperti aku tidak hafal kelakuan kamu saja Mas. Bilangnya mau membantu, eh ujung-ujungnya malah minta bantuan untuk menjinakkan ular berbisa," kata Retta. "Lagian ya Mas, itu saklar jangan dibiarkan on terus dong. Masa iya, tersenggol sedikit saja sudah langsung on fire. Kalau sudah gitu, siapa juga yang harus turun tangan," dengus Retta.


Vanno memutar wajahnya hingga menatap Retta. "Aku kan tidak minta kamu turun tangan sayang. Jika tangan kamu sibuk, cukup turunkan pakaian bawahnya saja kan beres, biar aku yang bekerja. Jadi kamu tidak perlu menurunkan tanganmu kan," jawab Vanno tersenyum sambil menaik turunkan alisnya.


Retta membulatkan mata dan mulutnya seketika saat mendengar perkataan Vanno. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa pikiran sang suami semakin hari semakin gesrek saja.


"Kamu ini Mas, benar-benar ya semakin hari semakin gesrek saja. Awas saja jika tingkah aneh kamu ini sampai menurun pada anak-anakku," dengus Retta.


"Tentu saja mereka akan mewarisi sifat-sifatku sayang, mereka kan anak-anakku juga. Sudah pasti mereka akan mewarisinya," kata Vanno bangga.


Retta benar-benar capek meladeni perkataan suaminya. Dia hanya mendengus kesal sambil mengalihkan pandangannya. Sementara Vanno hanya tersenyum melihat tingkah sang istri. 


Beberapa saat kemudian, mereka telah sampai pada sekolah Ken. Retta segera turun untuk menjemput sang buah hati. Dilihatnya Ken masih membereskan alat tulisnya ke dalam tas. Tak berapa lama kemudian terlihat Ken keluar kelas sambil menenteng tas sekolahnya. Wajahnya terlihat cukup senang. Seulas senyum terbit ketika melihat sang mommy tengah menunggunya.


Retta segera menggandeng tangannya dan mengajaknya berjalan menuju mobil sang daddy. Ken segera masuk ke kursi belakang dan melepaskan tasnya. Retta pun segera masuk ke kursi samping kemudi.


"How was your school, honey?" Tanya Retta antusias melupakan rasa sakitnya.


"Good Mom, tapi capek" kata Ken.


"Benarkah, apa saja yang tadi dilakukan di sekolah sehingga membuat capek?" Tanya Retta.


"Banyak. Semua teman-teman Ken harus memperkenalkan diri di depan satu persatu. Dan apa mommy tahu, ada anak perempuan yang sama menyebalkannya dengan Nayra," jawab Ken.


"Hhhuufftt. Dari pagi dia terus lihatin aku Mom. Aku ndak suka" jawab Ken.


Retta tersenyum berusaha membesarkan hati sang putra. "Mungkin, dia ingin berkenalan dengan kamu sayang tapi dia malu, jadi hanya lihatin dari jauh deh," kata Retta.


Ken hanya mendengus kesal. Sementara Retta yang tahu Ken tengah dalam mode badmood segera mencari cara untuk membujuknya. 


"Baiklah, jangan ngambek lagi dong. Mommy ajak makan bakso jumbo di mang Jupri mau?" Bujuk Retta.


Mendengar perkataan sang mommy wajah Ken langsung berbinar bahagia. Ya, bakso mang Jupri memang menjadi bakso favourite Ken sejak dulu. Meskipun begitu, Retta masih membatasi Ken untuk makan bakso, paling tidak satu bulan sekali. Selanjutnya, mereka langsung menuju bakso tempat mang Jupri berjualan.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Lagi banyak tugas ya aunty dan uncle online Ken, up nya sedikit dulu ya,


Untuk visual Ken memang ini saat masih kecil, maaf author belum nemu visual Ken yang cocok saat usia sekolah dasar


Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote, biar authornya ndk gembengan lagi 🤗🤗