
All of you are invited to our wedding
Hari yang ditunggu-tunggu sudah tiba. Semua anggota keluarga Khanza dan Al sudah berada di hotel mommy Retta sejak kemarin sore.
Sejak pagi Khanza sudah di make up untuk prosesi ijab qobul yang akan dilaksanakan pada pukul sepuluh pagi. Sedangkan Al nanti juga akan bersiap-siap dengan dibantu oleh beberapa asisten mommy Retta.
Pagi itu, semua keluarga memilih sarapan di dalam kamarnya masing-masing. Tak terkecuali dengan Ken dan Gitta. Ken bahkan sudah memesan makanan sejak setelah subuh. Gitta sudah merengek lapar sejak subuh. Mau tidak mau, dia juga ikut menikmati sarapan saat itu.
"Mas, mau mandi sekalian?" Tanya Gitta sambil menyiapkan pakaian yang akan dikenakan Ken untuk acara nanti.
Ken yang masih menyesap kopinya menoleh menatap wajah sang istri.
"Mau mandi bareng?" Tanya Ken sambil tersenyum dan menaik turunkan alisnya.
Gitta yang melihatnya langsung mengerucutkan bibirnya.
"Apaan sih Mas, masih belum boleh ih. Kata dokter Evi menunggu sampai bulan depan." Kata Gitta.
Ken menghembuskan nafas beratnya.
"Yaahhh, puasa lebih lama lagi dong Yang. Aku khawatir jika kelamaan nggak dipakai nanti jadi mungkret (mengkerut)." Kata Ken dengan wajah sedihnya.
"Gampang, nanti dipompa jika mungkret." Jawab Gitta dengan santainya.
Percakapan absurd Ken dan Gitta terhenti saat terdengar suara ponsel Ken berdering. Ken segera meraih ponselnya dan melihat id penelepon pagi-pagi itu. Setelah memastikan si penelepon, Ken segera menggeser ikon berwarna hijau tersebut.
"Hallo Al." Sapa Ken. Ya, ternyata Al yang menelepon Ken pagi itu. "Ada apa?" Tanya Ken.
"Lo bisa ke kamar gue sekarang?" Tanya Al di seberang sana.
"Oh, oke. Gue kesana sekarang." Jawab Ken sambil mematikan panggilan teleponnya.
Ken menoleh menatap Gitta yang tengah berdiri tak jauh dari tempat duduknya.
"Kenapa Mas?" Tanya Gitta.
"Al minta aku ke kamarnya." Jawab Ken.
"Ada apa? Apa ada masalah?" Tanya Gitta sedikit panik. Dia tidak mau ada hal buruk terjadi.
"Entahlah, mungkin dia hanya butuh teman cerita." Jawab Ken sambil menyesap kopinya hingga habis. "Aku ke kamar Al dulu. Segeralah mandi dan bersiap-siap." Kata Ken sambil mengecup kening Gitta.
"Iya. Jangan lama-lama Mas." Jawab Gitta.
"Hhhmmm."
Ken beranjak keluar dari kamarnya dan berjalan menuju kamar Al yang hanya berada dua kamar di sebelahnya. Setelah mengetuk pintu kamar Al, Ken berjalan masuk begitu mendapat izin dari Al. Dia melihat Al yang masih bertelanjang dada sambil mengalungkan kaosnya pada lehernya. Tak lupa juga dengan celana boxer yang dipakainya dan sandal jepit berwarna hitam merek smellow yang dipakainya sejak semalam.
Ken hanya menggelengkan kepalanya saat melihat penampilan Al yang tak jauh berbeda dengan dirinya. Saat ini Ken juga masih menggunakan kaos tidur tipisnya dan celana boxer kesayangan Gitta. Entah mengapa Gitta selalu meminta Ken menggunakan celana boxer itu saat tidur.
"Masih belum siap-siap Lo?" Tanya Ken sambil mendudukkan diri di atas sofa di dekat jendela kamar Al. Di meja depannya ada sarapan yang dipesan Al dan sama sekali belum di sentuhnya.
"Belum. Sebentar lagi." Jawab Al sambil mengotak atik ponselnya.
"Kenapa lo nyuruh gue kemari?" Tanya Ken.
Al menoleh sebentar menatap Ken, kemudian meletakkan ponselnya dan berjalan ke arah sofa di depan Ken.
"Gue gugup Ken." Jawab Al sambil menghempaskan diri di atas sofa. Kedua tangannya saling dikaitkan dan saling remas. Ken tahu itu kebiasaan Al jika sedang gugup.
"Apa yang buat lo gugup?" Tanya Ken. "Lo belum hafal lafadz ijab qobul nanti?" Lanjut Ken.
"Bukan. Gue sudah hafal itu diluar kepala." Jawab Al.
"Lalu, apa yang lo khawatirkan?" Tanya Ken.
Al menggelengkan kepalanya sambil menoleh menatap Ken. Dia sendiri juga tidak tahu mengapa dia bisa segugup itu.
"Jangan terlalu banyak berpikir. Gue tahu lo bisa melewati proses ini. Jangan punya pikiran yang enggak-enggak. Yakinlah jika Khanza menunggu untuk hari ini, menunggu lo mengucapkan ijab qobul atas namanya, menunggu lo jadi imam untuknya." Kata Ken.
Seketika Al menoleh menatap calon kakak iparnya itu. Setelahnya, dia mengangguk mantap setelah mendengar perkataan Ken.
Ken tersenyum mendengar jawaban Al.
"Gitu dong." Kata Ken. "Eh, tapi sepertinya ada yang nggak pas ini." Lanjut Ken.
Seketika Al menoleh menatap wajah Ken. Keningnya sudah berkerut memikirkan apa yang tidak pas atau kurang.
"Apanya?" Tanya Al.
"Bukanya lo seharusnya panggil gue kakak ya, lo kan mau nikah sama adik gue." Goda Ken.
Al mendengus mendengar perkataan Ken. Dia sudah memprediksi hal itu. Jadi dia sudah mempersiapkan panggilan tersayang untuk sang calon kakak iparnya itu.
"Ogah gue panggil lo kakak. Kalau mau, gue akan panggil lo Bang. Bang Ke." Kata Al.
Seketika Ken mendelik menatap wajah Al.
"Panggilan apaan itu?! Enak saja. Nggak, gue nggak mau. Panggil Ken saja." Dengus Ken kesal.
Al tersenyum melihat wajah Ken yang tengah bersungut-sungut kesal. Setelahnya, dia memaksakan diri untuk sarapan. Ken masih disana untuk menemani Al sarapan. Setelah selesai, Ken segera kembali ke kamarnya untuk bersiap-siap. Al pun juga melakukan hal yang sama.
Pukul sepuluh pagi acara ijab qobul dilaksanakan. Al, Khanza dan seluruh keluarga serta para saksi juga sudah hadir di sana.
"Saya terima nikahnya dan kawinnya Khanza Alexandra Geraldy binti Greyvanno Alexander Geraldy dengan maskawin tersebut dibayar tunai." Kata Al dengan suara lantang.
"Bagaimana para saksi?" Tanya pak penghulu.
Sah
Sah
Sah
Ucapan syukur alhamdulillah bergemuruh terucap dari setiap lisan yang hadir pada acara tersebut.
Khanza yang sedari tadi gugup langsung merasakan kelegaan pada hatinya. Demikian dengan Al. Rasa syukur mereka ucapkan berkali-kali dalam hati.
Khanza dan Al segera menandatangani dokumen pernikahan. Setelahnya, mereka saling memasangkan cincin pernikahan pada jari masing-masing. Khanza segera meraih tangan Al untuk di kecup sebagai bentuk penghormatannya kepada sang suami. Sementara Al segera mendekatkan wajahnya pada kening Khanza. Dia melafalkan doa yang sudah dihafalkannya sejak beberapa hari yang lalu. Khanza yang menerima perlakuan Al hanya bisa memejamkan mata sambil mengucap syukur dalam hati.
Acara tersebut kemudian dilanjutkan dengan beberapa anggota keluarga yang mengucapkan selamat kepada Al dan Khanza. Hingga sekitar satu jam kemudian, Al dan Khanza segera kembali ke kamar masing-masing untuk berganti pakaian. Mereka harus berganti pakaian untuk acara resepsi pernikahan yang akan dilaksanakan mulai siang itu.
Saat ini, Al dan Khanza sudah duduk di pelaminan. Sudah banyak para tamu undangan yang datang di acara resepsi mereka. Al menoleh menatap wajah istrinya. Wajah ayu yang tengah tersenyum menatap balik ke arahnya itu berhasil mematri tatapan matanya. Tak ingin menoleh, tak ingin diganggu, tak ingin dicegah, itu yang ada di benak Al. Netra matanya terpaku pada bibir ranum yang tengah tersenyum di depannya.
Entah keberanian dari mana, saat itu Al semakin mendekatkan wajahnya ke arah Khanza. Dia seolah sudah lupa jika saat ini mereka tengah berada di pelaminan. Khanza yang juga ikut terbawa suasana pun tak mau kalah. Dia juga semakin mendekatkan wajahnya ke arah Al.
Lima belas sentimeter
Sepuluh sentimeter
Lima sentimeter
Dan….
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Mohon maaf up nya lama
Lagi banyak kerjaan di real life
Untuk visual cast nya bisa dilihat di ig othor ya @keenandra_winda
Sambil menunggu upnya, silahkan mampir di cerita othor satunya ya, thank you