Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 44


Akhir pekan itu, Vanno dan keluarganya berencana hendak berlibur ke Villa keluarga. Sejak malam, Retta dan mommy sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk berlibur selama beberapa hari di villa. Mommy juga mempersiapkan segala keperluannya dan keperluan daddy, karena setelah berlibur dari villa mereka langsung berangkat ke Dubai.


Sebuah koper baju berukuran sedang dibawa mommy menuju kamar Retta. 


Tok… tok … tok.


Mommy mengetuk pintu kamar Retta. Mendengar pintu kamarnya di ketuk, Retta segera membukakan pintu. Ceklek. Mommy tersenyum lebar kepada Retta begitu pintu terbuka.


"Sayang, ini mommy bawakan baju yang bisa kamu pakai di villa." kata mommy sambil membawa masuk koper yang tadi dibawanya.


Retta mengerutkan dahinya. "Tapi Mom, Retta sudah packing banyak baju untuk liburan," katanya.


Mommy menoleh ke arah koper yang masih terbuka di atas tempat tidur Retta. Mommy berjalan mendekat. Diperhatikannya baju-baju yang dikemas Retta. Seketika mommy merengut.


"Ta, bagaimana mungkin kamu membawa baju beginian ke Villa?," tanya mommy sambil tetap mengamati baju yang dikemas Retta. "Mommy ingin segera punya cucu, Ta. Baju ini tidak bisa membuat bayi" lanjut mommy.


Retta hanya melongo mendengar perkataan mommy. Bagaimana baju bisa membuat bayi. Aneh-aneh saja mertuanya ini, pikir Retta.


"Bagaimana bisa baju-baju ini bisa membuat bayi Mom?" tanya Retta.


"Tentu saja bisa sayang," kata mommy sambil mengusap rambut Retta dengan lembut. "Mommy akan membantu kamu packing lagi. Baju-baju dari Benito dulu pasti masih belum kamu buka, kan. Ayo, ikut mommy." Ajak mommy.


Retta hanya menurut ketika tangannya ditarik mommy menuju walk in closet. Mommy segera memilihkan baju untuk Retta. Dia mengambil beberapa baju yang memang sudah disiapkan oleh Benito sejak beberapa bulan yang lalu. 


Retta segera mengeluarkan baju yang sudah dipilihnya dari dalam koper dan menggantinya dengan baju pilihan mommy. Retta hanya membulatkan mata dan mulutnya ketika melihat baju-baju yang dipilihkan sang mertua adalah baju-baju yang sangat minim bahan. Bahkan, beberapa diantaranya terlihat transparan. Retta bergidik ngeri membayangkan dia memakai baju-baju itu.


Malam itu, Retta dan Vanno sudah tidur dengan lelap. Seketika mereka terbangun karena mendengar suara pintu kamar yang diketuk berulang kali. Retta yang tertidur dalam dekapan Vanno menggeliat sambil mengucek matanya.


"Maaass, bangun." kata Retta sambil menepuk pipi Vanno. "Ada yang mengetuk pintu" lanjutnya.


Vanno mengerjapkan matanya sebentar. Dia masih mengumpulkan nyawanya sambil menggeliat. Pintu kamar mereka kembali di ketuk. Segera Vanno bangkit berdiri dan segera berjalan menuju pintu. Sambil berjalan ke arah pintu, di liriknya jam dinding di dalam kamar itu. Pukul 01.20 dini hari, batinnya.


Ceklek.


Pintu kamar terbuka. Dilihatnya mommy sudah berdiri di depan pintu kamarnya dengan pakaian yang sudah rapi. Vanno mengernyitkan dahinya.


"Mom, ini masih tengah malam. Bukannya kita berangkat jam tujuh pagi, kenapa sekarang sudah rapi?" tanya Vanno.


Retta yang sudah berdiri di belakang Vanno langsung ikut menimpali. "Berarti liburannya ditunda Mom?" tanya Retta.


"Tentu saja tidak sayang," jawab mommy. "Kalian akan berangkat berlibur sendiri. Lagi pula di sekolah kan sudah tidak ada aktifitas lagi, tinggal menunggu pengumuman. Dan, mommy yakin kalian bakal lulus. Selain itu, mommy sudah tidak sabar untuk punya cucu." lanjutnya sambil tersenyum smirk.


Tiba-tiba daddy sudah berada di belakang mommy. "Benar, daddy juga sudah tidak sabar untuk dipanggil Panda" kata daddy sambil memeluk mommy dari belakang.


"Panda?" tanya Retta. Sementara Vanno hanya memutar bola matanya jengah.


"Iya sayang," jawab mommy. "Panda, opa muda. Mommy juga mau dipanggil manda, oma muda," jawab mommy sambil terkekeh geli.


"Maaf kami tidak bisa ikut berlibur dengan kalian," kata daddy. "Kalian tetap lanjutkan berliburnya. Kasihan pak Andi yang sudah mempersiapkan segala kebutuhan kalian disana" lanjut daddy.


"Maafkan kami yang harus pergi mendadak ya sayang," kata mommy sambil mengusap lengan Retta. Retta pun hanya bisa tersenyum sambil mengangguk.


"Ingat Van, jangan kasih Retta kendor." kata daddy sambil tersenyum smirk. "Dulu waktu pertama kali, daddy berhasil membuat mommy tidak bisa jalan seharian, lho." lanjutnya dengan bangga.


"Cckkkk. Daddy tenang saja. Vanno bakal buat Retta nggak bisa bangun selama seminggu." kata Vanno sambil tersenyum smirk ke arah Retta.


Mendengar perkataan Vanno, nyali Retta merasa menciut. Dia benar-benar merasa akan digarap habis-habisan oleh Vanno. Melihat wajah khawatir Retta, mommy dan daddy hanya bisa tersenyum bahagia sambil menggelengkan kepala.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Masih slow up ya