Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Tempat yang Luas


"Mas, it-itu tiang listriknya sudah mulai aktif ya." Kata Gitta lirih sambil melirik Ken.


Ken, jangan ditanya lagi. Malunya sudah sampai ubun-ubun. Wajahnya langsung terasa panas saking malunya. Dia berusaha menutupi tiang listrik yang dimaksud Gitta dengan menggeser selimut.


"Ah, ma-maaf. Aku tidak bermaksud apa-apa. Entah kenapa tegangannya merembet sampai bawah." Kata Ken sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


Gitta juga sama tak kalah kikuknya. Ini pertama kali dia melihat siluet tiang listrik asli dengan mata kepalanya sendiri. Dia bergidik ngeri membayangkan betapa itu tadi, ah sudahlah.


Ken segera beringsut dari posisinya. Dia merebahkan diri untuk mencari posisi yang nyaman agar bisa segera tidur. Ken menoleh menatap Gitta.


"Biasa tidur dengan lampu terang atau gelap?" Tanya Ken.


"Gelap sih, tapi jika terang pun tidak apa-apa." Jawab Gitta.


"Oh, aku ganti lampu tidur kalau begitu." Kata Ken yang segera di angguki oleh Gitta. Kemudian, Ken segera mematikan lampu kamarnya dan menggantinya dengan lampu tidur.


"Tidurlah, besok kita harus bersiap-siap sejak pagi." Kata Ken.


Gitta mengangguk dan segera merebahkan diri di samping Ken. Dia menarik selimut hingga menutupi dadanya. Dia tidur terlentang sambil memeluk guling pada perutnya. Gitta tidak melihat posisi tidur Ken. Namun, tiba-tiba dia dikejutkan dengan raibnya guling yang tengah dipeluknya.


"Eh," Gitta terkejut karena tiba-tiba tubuhnya tertarik ke samping hingga menempel pada tubuh Ken. Saat ini, posisinya setengah miring dengan punggungnya menempel pada dada Ken. Sedangkan tangan Ken sudah nangkring sempurna di atas perut Gitta.


"Bisakah kita mulai kebiasaan baru mulai saat ini?" Bisik Ken pada telinga Gitta.


Gitta yang masih panik dengan detak jantung yang masih belum normal, bingung dengan maksud perkataan Ken.


"Ma-maksudnya bagaimana Mas?" Tanya Gitta lirih, namun masih bisa didengar oleh Ken. 


"Seperti ini." Kata Ken semakin mengeratkan pelukannya. "Aku juga ingin seperti mommy dan daddy, mereka bisa saling melengkapi. Aku berharap, kita juga bisa seperti itu." Lanjut Ken.


Gitta yang sedikit sudah bisa memahami maksud Ken langsung mengangguk mengiyakan. Gitta masih tidak berani bergerak dalam dekapan Ken. Tanpa diduga, tangan Ken merembet ke bagian atas perut Gitta. Jantung Gitta sudah semakin tidak normal lagi. Entah sejak kapan tangan Ken sudah berhasil menyelinap masuk pada bagian dalam baju Gitta. Gitta pun menahan napas saat tangan itu mengusap-usap perutnya hingga merembet ke atas.


Napas Gitta semakin memburu. Dia juga bisa merasakan napas Ken pun juga sama saat mengenai tengkuknya.


"Eehh, boleh aku mengenalnya?" Tanya Ken di tengah aktivitas tangannya yang masih berputar-putar pada perut Gitta.


"Hahhh, ap-apa mas?" Tanya Gitta menahan napasnya.


Tanpa menjawab pertanyaan Gitta, tangan Ken sudah merembet naik ke atas dan menemukan balon tiup yang sempat membuatnya mupeng.


"Astagaa, tanganku benar-benar tidak muat." Kata Ken setelah berhasil mendaratkan tangannya pada balon tiup Gitta.


Si empunya? Jangan di tanya lagi. Dia sudah langsung kaku dengan menahan napas saat menyadari apa yang dilakukan Ken. 


Ken segera menarik tangannya dari sana dan kembali menarik selimut hingga menutupi tubuh mereka. Napas mereka terdengar memburu dengan kepala yang sudah nyut-nyutan.


"Ma-maaf. Aku penasaran tadi." Kata Ken terdengar bersalah di telinga Gitta.


"Ti-tidak apa-apa Mas." Kata Gitta. "Cepat atau lambat, ini pasti akan terjadi kan. Benar kata mas Ken, kita harus mulai kebiasaan baru dari sekarang." Lanjut Gitta. Setelahnya, mereka berusaha untuk tidur. Tak lama kemudian, mereka pun sudah terlelap. 


Keesokan harinya, mereka sudah selesai mendaftarkan pernikahan Ken. Saat ini, mereka tengah melakukan makan siang bersama di sebuah rumah makan. Setelah selesai, kakek dan nenek serta mama, papa dan Khanza harus segera kembali. 


"Kak Gitta, nanti jika libur jangan lupa main-main ke Surabaya ya." Kata Khanza sambil memeluk Gitta.


"Iya, nanti jika libur aku akan main ke sana." Jawab Gitta sambil membalas pelukan Khanza.


"Ah, nanti jika honeymoon saja main ke Surabaya. Disana juga ada tempat-tempat yang tak kalah romantisnya kok." Kata Khanza.


"Tidak mau!" Jawab Ken cepat-cepat.


Semua mata seketika memandang ke arah Ken.


"Memangnya kenapa?" Tanya Khanza sambil merengut tidak suka memandang Ken.


"Tidak mungkin kami akan honeymoon di Surabaya, yang ada nanti kamu akan merecoki kami membuka jalan tol." Jawab Ken sambil mendengus kesal.


"Jadi, semalam belum jadi buka jalan tolnya?" Kata Vanno tanpa dosa.


Gitta yang mendengar pertanyaan sang mertua malah menjadi semakin malu. Dia bersembunyi di belakang Ken sambil menundukkan kepalanya.


"Belum." Jawab Ken datar.


"Yaahhh, kasihan dong si Kj belum bertemu lawannya." Goda Vanno.


"Kj? Apaan itu?" Tanya Evan, daddynya Vanno.


"Ken junior Dad," jawab Vanno sambil tertawa.


Ken dan Gitta, jangan ditanya lagi malunya. Semua orang senang sekali menggodanya. Beberapa saat kemudian, semua orang sudah berpamitan dan kembali ke tempat masing-masing. Saat ini, hanya tinggal Ken, Gitta, mommy dan daddynya.


Ken mengambil alih kemudi, sedangkan sang daddy duduk di sampingnya. Retta bersama Gitta duduk di belakang sambil bercerita.


"Mom, Ken boleh tinggal di apartemen ya, sekarang kan sudah menikah. Ken juga ingin mandiri Mom." Kata Ken.


Retta yang mendengar perkataan Ken segera menoleh menatap sang putra. 


"Kamu nggak mau lagi tinggal bareng mommy?" Tanya Retta.


"Bukan begitu Mom, Ken juga harus belajar untuk mandiri kan. Ken sudah jadi suami sekarang, sudah menjadi kepala keluarga."


"Alaahhh, bilang saja jika kamu tidak mau mommy ganggu saat iya-iya kan?" 


"Lhah, mana ada yang seperti itu." Jawab Ken. "Ken mau belajar mandiri Mom. Nanti sering-sering deh kami mengunjungi mommy." Lanjut Ken.


"Tidak boleh!" Kata Retta dengan nada keras yang berarti tidak bisa dibantah. "Mommy tidak mengizinkan kalian tinggal diapartemen. Di sana jauh dari rumah mommy, disana juga sempit, mau mencoba permainan dan gaya baru akan sulit nanti, tempat terbatas." Lanjut Retta.


Ken dan Gitta yang sudah memahami maksud mommynya hanya bisa melongo sambil membulatkan kedua matanya dengan lebar. Bisa-bisanya sang mommy mengatakan hal itu seperti membicarakan menu makanan saja, mudah sekali.


"Betul itu, daddy setuju dengan mommy kamu Ken." Jawab Vanno ikut menimpali perkataan Retta. "Kalian kan masih pengantin baru, jadi harus membutuhkan tempat yang luas untuk bertanding adu lemas." Lanjut Vanno.


Ken mendelik menatap sang daddy sekilas. "Memangnya kami mau ngapain Dad, harus membutuhkan tempat yang luas segala. Mau main sepak bola apa." Kata Ken sambil mendengus kesal.


"Iya lah, coba saja nanti. Kamu bisa mencetak berapa gol. Kalau cuma sekali atau dua kali sih, payah. Hahahahaha." Jawab Vanno.


"Enak saja. Aku bisa mencetak dua sampai tiga kali hattrik. Daddy lihat saja nanti." Jawab Ken.


Gitta yang merinding mendengar perkataan suami dan mertuanya hanya bisa menghembuskan napas beratnya.


"Kalian tidak menanyakan gawangnya?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Lhah, mulut siapa itu yang lemes ya?


Jangan lupa kasih dukungannya ya, biar authornya tidak sedih nih.


Like, comment dan vote.


Thank you 🤗