
Vanno menghembuskan napasnya lagi. Dia melirik selang alaminya sudah siap tempur di bawah sana.
"Itu, squishy kamu kok tambah besar ya Ta. Kamu pompa ya, kok bisa melembung besar gitu," tanya Vanno sambil menunjuk-nunjuk squishy Retta.
Retta yang mendengarnya langsung mencubit paha Vanno yang berada di sampingnya.
"Aduuuhh.. Apa-apaan sih Ta?" gerutu Vanno sambil mengusap bekas cubitan Retta pada pahanya.
"Mas Vanno yang apa-apaan." Jawab Retta kesal. "Jika ini tambah besar memangnya karena ulah siapa. Setiap hari, bahkan setiap saat mas Vanno suka meniupnya, jadi membengkak."
Vanno yang tidak terima segera menarik dan melepaskan tangan Retta yang sedari tadi digunakan untuk menutupi squishynya.
"Tidak!," kata Vanno dengan tatapan yang tidak lepas dari kedua squishy Retta. "Aku kan tidak pernah meniupnya. Jangan mengatakan hal yang tidak-tidak ya Ta," lanjut Vanno.
"Tidak bagaimana?" sungut Retta. Dia tidak terima jika dianggap mengada-ngada oleh Vanno. Sudah jelas setiap hari bibir Vanno setia nemplok di squishy Retta. Bahkan tidak mau lepas. Bagaimana mungkin dia mengada-ada.
Vanno yang melihat Retta sudah semakin kesal malah beringsut menjauh sambil mulai melucuti pakaiannya sendiri.
"Tentu saja aku tidak pernah meniupnya, aku kan menghisapnya," jawab Vanno dengan santainya.
Retta yang mendengar jawaban Vanno langsung menolehkan wajahnya karena malu.
"Apaan sih Mas, pikiran mesumnya jangan di pelihara ih," kata Retta sambil menahan panas pada wajahnya. Retta yang melirik Vanno langsung membulatkan mata dengan lebar.
"Iihh, itu kenapa mas Vanno jadi ikutan lepas baju?" tanya Retta setelah melihat Vanno sudah polos di sampingnya. Dia tambah khawatir ketika melihat paralon air Vanno sudah siap tempur. "Itu lagi si paralon air kenapa ikut-ikutan sih," lanjutnya sambil masih melirik paralon air Vanno.
"Aku kan mau bantu kamu mandi Ta, bajuku basah nanti jika tidak dilepas," jawab Vanno.
"Itu mah modus kamu saja Mas. Mana ada bantu orang mandi terus buka semua baju seperti itu," kesal Retta.
"Sudah, sudah. Jangan protes terus. Sini, aku bantuin mandi," kata Vanno sambil meraih shower yang ada di dinding kemudian menyalakannya.
Setelah tubuh Retta basah semua, Vanno beralih untuk membasahi rambut Retta. Retta juga ingin keramas. Vanno segera menuangkan sampo dan menggosok kepala Retta dengan lembut. Dia semakin tersiksa ketika melihat squishy Retta dari atas seperti sedang berjoget ria mengikuti irama musik ketika dia terus menggosok kepala Retta.
Vanno kembali menuangkan sabun cair dan mulai menggosokkannya pada badan Retta. Dia sengaja berlama-lama menggosok bagian depan tubuh Retta. Melihat tangan Vanno yang tidak bergerak, Retta semakin kesal. Bukan hanya Vanno yang bisa lepas kendali, dirinya juga bisa saja lepas kendali.
"Mas, ini tangan kok nggak pindah-pindah ya. Apa iya, jika mandi yang digosok cuma bagian itu doang," kata Retta kesal.
Vanno yang tidak menanggapi omongan Retta masih terus melakukan aksinya. Dia sama sekali tidak menggubris omongan Retta. Sedangkan Retta juga berusaha sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan suara l*kn*t itu.
Dia merasa sangat frustasi mendapat perlakuan seperti itu dari Vanno. Hingga akhirnya, Retta benar-benar tidak tahan menahan keinginannya.
"Aaahhhhh Mas, kamu keterlaluan!" kata Retta sambil ngos-ngosan menahan sesuatu yang ingin segera dituntaskan. "I want you right now," kata Retta dengan tatapan sayu sambil mencengkram tangan Vanno.
Vanno yang merasa menang langsung tersenyum smirk. "As you wish Honey," jawabnya sambil mulai melancarkan aksinya melanjutkan kegiatan iya-iya di kamar mandi tersebut.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa dukungannya ya, like, vote dan komen, biar tambah semangat 🤭🤭
terima kasih 😉😉