Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 46


Part 46


Malam itu, setelah makan malam Retta dan Vanno masih berada di teras samping sambil memandangi lampu-lampu yang ada di halaman villa.


Pak Andi dan istrinya, mbak Ratna, sudah pulang ke rumahnya yang tak jauh dari villa keluarga Vanno. Retta mengambil jus jeruk yang ada di depannya dan menyesapnya sedikit demi sedikit. Beberapa bulan tinggal bersama Vanno, dia mulai mengikuti kesukaan suaminya itu. 


Sementara Vanno, dia masih asik dengan gadgetnya sedari tadi. Dia bahkan belum menyentuh jus jeruk yang sedari tadi sudah ada di depannya. 


Melihat Vanno yang asik dengan gadgetnya dan tidak menghiraukannya, Retta mulai kesal. "Jika kesini hanya untuk menyentuh gadget kesayangan, sebaiknya kita besok pulang saja. Percuma juga kesini tapi nggak ngapa-ngapain." kata Retta sambil bersungut-sungut.


Vanno sontak mendongakkan kepalanya menghadap Retta. Melihat Retta yang tengah kesal, Vanno tersenyum dan segera meletakkan gadgetnya di atas meja. Dia menggeser duduknya hingga lengan kirinya menempel pada lengan kanan Retta. 


"Kamu memang sudah siap di apa-apain?" tanya Vanno sambil tersenyum smirk.


Menyadari kata-katanya barusan, Retta segera membuang muka sambil menggigit bibir bawahnya. Dia sedikit takut jika Vanno benar-benar akan menerkamnya malam ini. Dia sudah mencoba mencari beberapa artikel dari internet terkait hubungan suami istri. Dari beberapa artikel yang dia baca, semuanya menyebutkan jika awalnya akan terasa sakit bagi sang perempuan. Retta bergidik ngeri jika mengingat beberapa artikel yang telah dia baca.


Karena tidak ada jawaban dari Retta, Vanno segera melingkarkan tangannya pada pinggang Retta. Vanno berbisik pada telinga Retta. "Kamu harus siap-siap. Malam ini aku hanya ingin mendengar satu yang keluar dari bibirmu. Aaaahhhh." kata Vanno sambil tersenyum smirk.


Retta bergidik merasakan napas Vanno pada telinganya. Belum sempat Retta memprotes, Vanno sudah mengangkat tubuh Retta ala bridal style menuju kamar. Vanno juga segera membungkam mulut Retta dengan mulutnya agar tidak berteriak.


Ketika sampai di depan pintu kamar tidur mereka, Vanno segera melepaskan pagutan bibirnya. Dia meminta Retta membuka pintu dan menguncinya ketika mereka sudah berada di dalam kamar.


Vanno membawa Retta menuju tempat tidur king size yang ada di dalam kamar itu dan merebahkannya di tengah-tengah ranjang.


Vanno menatap Retta dengan tatapan mendamba. Sementara Retta berusaha memalingkan wajahnya dari tatapan Vanno. Dia merasa malu.


Vanno kembali menyerang Retta tanpa pemberitahuan. Dia segera menarik bibir Retta dan segera mencicipinya hingga hanya terdengar suara decapan dari bibir keduanya.


Tangan Vanno tak tinggal diam. Entah sejak kapan tangan kanan Vanno sudah nangkring pada squishy kanan Retta. Langsung digerak-gerakkannya tangan Vanno tersebut pada squishy itu dengan keras hingga Retta tak bisa menahan suaranya.


Retta benar-benar langsung merasakan sensasi baru yang benar-benar intim. Memang mereka sudah pernah melakukannya beberapa kali sebelum ini. Namun, saat itu tidak dimaksudkan untuk melanjutkan ke tahap yang lebih berani. Berbeda dengan saat ini, mereka memang berniat untuk menuntaskan rasa yang sudah sejak beberapa bulan lalu ditahan-tahan.


Mendengar suara Retta, Vanno semakin menggencarkan aksinya. Bibirnya sudah mulai menjelajahi leher Retta. Tak kuat menahan serangan Vanno, Retta hanya bisa mendongakkan kepala dan menolehkannya ke kanan dan ke kiri kanan sambil menggigit bibirnya agar tidak bersuara.


Hanya terdengar suara tertahan Retta yang mati-matian berusaha di tahannya.


Vanno segera menghentikan aksinya dan mendongak memandang wajah Retta yang sudah memerah memendam hasratnya.


"Kenapa?" tanya Vanno. "Nggak suka?" lanjutnya.


Retta menggeleng. Wajahnya memerah menahan hasrat dan napasnya yang memburu. 


"Biarkan aku bersiap-siap dulu mas. Mommy sudah memilihkan baju untuk ku pakai saat ini," kata Retta sambil mengusap pipi Vanno dengan ujung jari telunjuknya.


Vanno segera membungkam bibir Retta dengan bibirnya. Pagutan dalam kembali terjadi diantara mereka. Beberapa saat kemudian, Vanno melepaskan bibirnya. 


Sambil memandangi wajah Retta yang tengah berusaha menghirup oksigen sebanyak mungkin, Vanno mengusap bibir Retta dengan jarinya.


"Nggak usah bersiap-siap lagi. Aku sudah nggak kuat menunggu lebih lama lagi." kata Vanno menahan hasratnya.


Retta yang memandang Vanno dengan wajah yang penuh harap merasa kasihan. Dia segera mengangguk sambil tersenyum.


Seketika wajah Vanno berbinar mendapat lampu hijau dari Retta. Breeeeeettt. Vanno merobek baju tidur Retta hingga kancing baju bagian depan langsung terlepas semua.


"Maaass!" teriak Retta.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Sudah revisi ya


Jangan lupa tinggalin jejak ya,


Like, vote dan komen.


Untuk informasi kapan up dan karya terbaru othor silahkan follow ig othor @keenandra_winda


Jangan lupa juga mampir di cerita othor satunya ya



Bisa klik gambar foto profil othor untuk melihat karya yang lainnya ya


Terima kasih