Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 97


"Di dalam tadi begitu menakutkan Mom," kata Vanno di tengah isak tangisnya. "Vanno benar-benar tidak menyangka perjuangan seorang ibu begitu berat untuk melahirkan," lanjutnya dengan air mata yang masih berderai di kedua pipinya. "Maafkan Vanno yang masih suka membantah perkataan mommy, maafkan Vanno yang masih kurang berbakti kepada mommy."


Mommy membelai punggung Vanno dengan lembut. Segera dilepaskannya pelukan sang anak dan ditangkupnya kedua pipi Vanno dengan kedua tangan mommy.


"Mommy selalu memaafkan kamu sayang. Mommy cuma mau berpesan, jangan pernah kamu menyakiti Retta. Kamu tahu perjuangannya mengandung dan melahirkan anak kamu begitu berat. Jaga dan bahagiakan dia selalu, sayang" kata mommy sambil mengusap air mata Vanno.


Vanno mengangguk mendengar kata-kata mommy. Vanno sadar apa yang dikatakan sang mommy adalah benar. Perjuangan Retta sangat besar untuknya. Dia mempertaruhkan nyawa untuk mengandung dan melahirkan darah dagingnya. Vanno kembali meneteskan air mata ketika mengingat perjuangan Retta melahirkan sang buah hati.


Menyadari Vanno masih cengeng di depannya, mommy segera meledeknya.


"Kamu masih saja cengeng meski sekarang sudah memiliki anak. Apa kamu juga cengeng dan menangis begini dulu ketika membuatnya," ledek sang mommy.


Mendengar ledekan sang mommy Vanno segera mengusap air matanya. Diliriknya sang mommy yang tersenyum mengejek ke arahnya. 


"Enak saja. Aku tidak cengeng kok," kata Vanno sambil berdehem untuk melonggarkan tenggorokannya yang kering.


Belum sempat mommy menyahuti perkataan Vanno, seorang perawat memanggil Vanno untuk mengadzani sang buah hati. Vanno segera beranjak mengikuti perawat tersebut. Vanno begitu takjub ketika pertama kali melihat sang buah hati sudah lahir ke dunia dengan selamat. Vanno benar-benar bersyukur mendapat anugerah ini.


Vanno menerima sang buah hati dari tangan perawat dengan penuh rasa syukur. "Selamat Mas Vanno, baby boy lahir dengan sehat," kata perawat setelah memberikan sang baby. Vanno mengucapkan terima kasih dan segera mengadzani sang buah hati.


Beberapa saat kemudian, Vanno memberikan putranya kepada perawat kembali untuk di bawa ke ruang bayi karena Retta masih belum dipindahkan dari ruang persalinan. Vanno kembali menemui sang mommy yang menunggu di depan ruang persalinan Retta. 


Namun, saat itu mommy tidak sendiri. Daddy sudah ada di sana menemani mommy. Begitu mendengar Retta akan melahirkan, daddy yang saat itu tengah berada di luar kota setelah menghadiri peresmian hotel terbarunya, segera pulang untuk melihat sang cucu. Dia benar-benar sangat antusias ketika mengetahui cucu pertamanya berjenis kelamin laki-laki. Daddy dan mommy bahkan sudah membeli baju couple untuk sang cucu.


Vanno sempat protes beberapa kali. Dia merasa geram dengan kedua orang tuanya. Bisa-bisa mereka dianggap orang tua anaknya bukannya kakek dan neneknya, pikir Vanno waktu itu.


Namun, Vanno benar-benar tidak bisa menang berdebat melawan mommynya. Vanno hanya bisa pasrah mengetahui keinginan orang tuanya.


Menjelang pagi hari, Retta sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Kedua orang tua Retta juga sudah tiba di rumah sakit. Mereka sama antusiasnya dengan orang tua Vanno. Mengingat ini adalah cucu pertama mereka.


"Sudah menyiapkan nama untuk cucu ibuk Ta?" Tanya ibuk.


"Sudah Buk," bukan Retta yang menjawab, melainkan Vanno. "Kami sudah menyiapkan namanya ketika mengetahui jenis kelaminnya laki-laki" lanjutnya.


"Siapa namanya?" Tanya mommy tidak sabar. "Awas saja jika namanya aneh-aneh" kata mommy sambil menciumi pipi cucunya.


Vanno memutar bola matanya jengah mendengar perkataan mommynya. "Aneh-aneh apanya maksud mommy," dengus Vanno.


"Sudah-sudah, kalian ini masih saja berdebat. Nggak malu apa sudah jadi nenek dan ayah," kata daddy menengahi. "Siapa namanya Van?" Lanjut daddy.


"Keenan Alexander Geraldy" jawab Vanno.


"Bagus, baby Ken. Mommy suka" Kata mommy sambil terus menciumi sang cucu.


Mereka tersenyum bahagia melihat anggota keluarga mereka bertambah.


Hari ini akan diadakan acara aqiqahan untuk baby Ken. Semua orang tengah sibuk mempersiapkan segala keperluan untuk acara yang akan digelar nanti malam. Tadi pagi, juga sudah digelar acara santunan anak yatim sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat dan karunia yang telah diberikan oleh Sang Maha Pencipta.


Menjelang makan siang, Retta yang tengah menidurkan baby Ken pada tempat tidurnya dikejutkan oleh suara ketukan pintu. Retta segera membuka pintu kamar dan mendapati bi Mar di sana.


"Ada apa Bi?" Tanya Retta.


"Ada tamu, ingin bertemu non Retta. Sekarang sedang menunggu di teras samping Non," jawab bi Mar.


"Iya, saya akan turun Bi," jawab Retta. Retta segera merapikan selimut baby Ken dan beranjak turun menemui tamunya.


Begitu sampai di depan pintu, Retta terkejut ketika mengetahui siapa yang datang berkunjung. Dia langsung menghambur memeluk wanita yang berdiri di dekat meja tersebut.


"Kak Mitha," kata Retta sambil memeluk tubuh wanita itu dengan erat. Ya, dia adalah Mitha yang datang bersama Aris dan Leo, kakaknya. Dulu, mereka adalah orang yang dibayar oleh Andi untuk menculik Retta. Namun, karena pada dasarnya mereka bukan orang jahat, mereka justru membantu Retta.


Setelah kejadian itu, mereka bekerja pada perusahaan daddynya Vanno yang terletak di Batam. Mereka memang berasal dari sana. Beruntung bagi mereka telah bertemu dengan keluarga Vanno yang berbaik hati memberi mereka pekerjaan yang layak. Hingga mereka bisa menghidupi diri sendiri dan keluarganya.


Dari mereka jugalah Retta akhirnya mengetahui jika Andi telah meninggal dunia karena tertembak ketika berusaha melarikan diri dari penjara. Sementara Angela Kurniawan, yang merupakan keponakan Andi telah dibawa ke luar negeri oleh keluarga mantan suaminya. Bahkan, menurut Mitha, Angela beberapa kali masuk panti rehabilitasi karena sudah kecanduan obat-obatan terlarang. Retta bergidik ngeri membayangkan nasib kedua orang tersebut.


Menjelang sore, Mitha dan kedua kakaknya berpamitan. Mereka harus mengejar penerbangan kembali setelah maghrib nanti. Dengan berat hati Retta melepas kepergian Mitha. Dia sudah merasa seperti memiliki seorang kakak perempuan, karena selama ini Retta selalu rutin melakukan komunikasi dengan Mitha.


Setelah kepergian mereka bertiga, Retta kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap untuk acara aqiqahan yang akan dilaksanakan setelah maghrib.


Begitu Retta membuka pintu kamarnya, bertepatan dengan baby Ken yang juga terbangun dan merengek. Retta segera mengangkat baby Ken dan membawanya duduk di samping ranjangnya. Retta segera menyusui baby Ken yang terlihat sangat kelaparan. Begitu mendapatkan sumber makanannya, baby Ken segera menghisapnya dengan rakus. Retta membelai lembut pipi baby Ken dengan penuh kasih sayang.


Ketika Retta sedang menyusui baby Ken, tiba-tiba pintu kamar terbuka. Vanno segera masuk dan menutup pintu dengan rapat. Melihat Vanno yang tengah berjalan ke arahnya, Retta tersenyum bahagia. Namun, tidak dengan Vanno. Dia menatap bagian depan tubuh Retta sambil mengerucutkan bibirnya.


"Kenapa bibirnya itu Mas?" Tanya Retta sambil tertawa geli. Dia sudah bisa menduga pikiran sang suami.


Mendengar perkataan Retta, Vanno semakin mengerucutkan bibirnya. "Ta, bagi dong, masa iya dua-duanya dimonopoli baby Ken," kata Vanno sambil menatap ke arah squishy Retta yang sudah membesar sedemikian rupa. Vanno hanya bisa menelan salivanya dengan kasar ketika melihat squishy Retta yang seolah-olah menggodanya.


Retta hanya tertawa terkekeh mendengar perkataan suaminya. "Kamu itu ya Mas, masa sama anak sendiri nggak mau mengalah. Dasar bayi tua," kekeh Retta.


Vanno mendengus mendengar jawaban Retta. Dia berjalan sambil menggerutu menuju kamar mandi. Retta masih terkekeh geli melihat tingkah suaminya itu.


.


.


.


.


.