Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Insiden


Gitta semakin mempercepat langkahnya begitu mendengar laki-laki tadi menggodanya. Dia sedikit berlari menyusul Ken yang memang sudah berada beberapa langkah di depannya. Dia ingin cepat-cepat pergi menjauh dari gerombolan laki-laki itu tadi. Namun, hal berbeda justru dilakukan oleh Ken. Dia berhenti dan menoleh menatap tajam ke gerombolan laki-laki yang menggoda Gitta tadi. 


Bukannya takut, para lelaki tersebut justru malah tertawa. 


"Eh, ternyata ada peniupnya yang jagain. Jadi tidak bisa ikutan nyobain dong. Hahahahaha." Kata salah satu dari gerombolan laki-laki tersebut.


Ken yang geram pun berniat untuk menghampiri mereka. Namun, Gitta segera mencegahnya dengan mencengkeram lengan Ken dengan kuat. Ken menoleh menatap Gitta yang tengah ketakutan di sampingnya. Gitta menggeleng memperingatkan agar Ken tidak usah menghampiri mereka. 


"Kebelet pipis ini," kata Gitta agar Ken tidak menghampiri gerombolan laki-laki itu.


Ken yang melihat Gitta tengah menahan keinginan untuk buang air kecil pun menghentikan keinginannya. Dia segera berbalik dan kembali berjalan menuju toilet umum yang segera diikuti oleh Gitta. Begitu sampai di depan toilet umum tersebut, Gitta langsung cepat-cepat masuk. Ken menunggu di depan toilet sambil memandang sekelilingnya yang sudah mulai sepi. Hanya ada beberapa orang yang tengah terjaga sambil mengobrol.


Tak berapa lama kemudian, Gitta terlihat sudah keluar dari dalam toilet dan segera berjalan ke arah Ken. Ken yang menyadari Gitta sudah selesai pun segera menoleh. Di tatapnya Gita dengan teliti.


Glek.


Ken mendengus kesal saat menyadari sesuatu. Jelas saja para laki-laki itu menggodanya. Ada dua balon besar yang disembunyikan di tubuhnya. Lagian, kenapa masih saja kelihatan sih, padahal itu kaos longgar banget sepertinya. Apa karena itunya benar-benar besar. Tanganku seperti tidak muat memegangnya. Oh, astagaaaa, kenapa otakku jadi travelling kemana-mana. Batin Ken sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


Gitta yang melihat tingkah absurd Ken mengernyitkan dahinya. 


"Ada apa?" Tanya Gitta langsung membuat ambyar angan-angan Ken.


Ken segera menoleh menatap Gitta. Dia juga segera melepaskan jaket yang dipakainya dan memberikannya kepada Gitta.


"Pakailah!" 


Gitta masih belum menerima jaket yang diulurkan oleh Ken. Dia masih belum menyadari jika balon tiupnya bisa membuat para cacing mendadak berubah menjadi ular python yang berbisa.


"Kenapa? Aku sudah punya jaket di dalam tenda." Kata Gitta dengan polosnya.


Ken mendengus kesal melihat Gitta tidak paham situasi. 


"Pakai ini sampai tenda. Para laki-laki itu menggodamu karena melihat balon tiup mu yang seperti mau meletus itu." Tunjuk Ken pada bagian depan tubuh Gitta.


Seketika Gitta mengikuti arah yang ditunjuk Ken. Dan, astagaaaaa. Gitta memekik tertahan. Dia benar-benar lupa saat ini tengah memakai kaos oblong yang kebesaran namun, seakan tidak mampu menyembunyikan apa yang ada di dalamnya.


Gitta segera menerima jaket yang diberikan Ken dan segera memakainya. Kebesaran. Ya, jaket milik Ken itu memang kebesaran saat dipakai Gitta. Namun, dia justru bersyukur karena bisa menyembunyikan balon tiupnya.


Ken berjalan mendahului Gitta menuju tendanya. Gitta mengekori Ken dari belakang dengan jarak lumayan dekat. Dia merasa takut saat melewati gerombolan laki-laki yang tadi menggodanya. Dia memberanikan diri menempel pada lengan Ken. Dia mencengkeram lengan Ken karena takut. 


Ken membiarkan saja apa yang dilakukan Gitta di sampingnya. Dia bisa merasakan ketakutan yang dirasakan oleh Gitta. Saat melewati para gerombolan yang menggoda Gitta tadi, Ken melayangkan tatapan tajam ke arah mereka. Para lelaki itu bukannya takut justru malah semakin menggoda Gitta.


"Neng, butuh bantuan nggak bawa balon, kami siap lho membantu. Hahahaha." Kata salah satu dari laki-laki itu.


Ken yang sudah sangat geram segera beranjak mendekati mereka. Namun, Gitta yang sudah ketakutan segera menarik lengannya untuk menjauhi mereka. Ken hanya bisa memberi peringatan kepada para lelaki itu dari jauh.


"Jaga omongan kalian, atau aku akan menghancurkannya hingga mulut kalian tidak bisa berbicara lagi!" Ancam Ken.


"Hoooo, takuuutt." Ejek salah satu dari mereka. "Memangnya anak mami bisa apa?" Lanjutnya sambil tertawa dan diikuti oleh tiga orang temannya lagi.


Ken benar-benar geram. Dia mendekati laki-laki itu dan melayangkan bogem mentah ke arahnya. 


Bugh bugh bugh.


Laki-laki itu terpental saat mendapati hadiah bogem mentah dari tangan Ken. Gitta yang melihatnya langsung berteriak histeris. Seketika suasana bumi perkemahan yang awalnya sepi senyap mendadak riuh.


"K*rang aj*r. Beraninya lo pukul temen gue, hah!" Teriak salah seorang dari mereka sambil berusaha melayangkan pukulan pada wajah Ken. Namun, berhasil di hindari oleh Ken. 


Ken kembali menangkis serangan dari salah seorang lagi. Kini dia berdiri menghadapi dua orang yang tengah bersiap memberikan pukulan kepadanya. Karena terlalu fokus pada dua orang yang ada di depannya, Ken tidak menyadari jika teman mereka, yang tadi membantu orang yang jatuh tersungkur telah kembali dari arah samping. 


Gitta yang melihatnya seketika berteriak dengan keras.


"Awaassas!"


Namun, sudah terlambat. Ken sudah lebih dulu mendapat hadiah bogem mentah dari salah seorang dari mereka. Ken limbung, tapi tidak sampai jatuh tersungkur  Darah segar mengalir dari ujung bibirnya. Saat Ken hendak membalas, terdengar teriakan dari beberapa orang. Mereka berjalan mendekati Ken dan kerumunannya.


Para gerombolan laki-laki tadi segera kabur. Mereka berlari memasuki hutan yang berada di sebelah utara bumi perkemahan tersebut. Beberapa orang yang datang menghampiri Ken berusaha mengejar gerombolan itu.


Pak Toni terlihat berada di antara mereka yang baru saja datang menghampiri Ken. Dia melihat wajah Ken yang terdapat darah mengalir pada ujung bibirnya berjalan mendekat. 


"Maafkan kami, mereka memang pemuda lokal sini yang sering membuat ulah." Kata pak Toni. "Mari, ikut saya ke pos jaga. Ada obat disana yang bisa digunakan untuk mengobati luka." Lanjut pak Toni. Namun, Ken menolak ajakan pak Toni tersebut.


"Tidak usah Pak, terima kasih. Ini hanya luka kecil, saya membawa obat di dalam tas." Kata Ken. "Maafkan kami membuat istirahat bapak-bapak menjadi terganggu. Maafkan kami telah membuat keributan disini." Lanjut Ken kepada para laki-laki itu.


Setelahnya, para laki-laki itu segera kembali beranjak menuju tenda masing-masing. Pak Toni dan seorang temannya kembali lagi ke pos jaga.


Ken menoleh menatap Gitta yang tengah ketakutan berdiri tak jauh darinya. Dia melihat tangan yang Gitta gemetar. Bibirnya digigit-gigiti seperti berusaha menghalau tangis yang hendak keluar. Ken berjalan mendekat ke arahnya.


"Sudah, ayo kembali ke tenda. Sudah hampir pagi. Kita harus beristirahat." Kata Ken saat sudah berada di depan Gitta.


Namun, bukannya beranjak berjalan menuju tenda, Gitta malah menubruk Ken dan memeluknya dengan sangat erat. Tangis yang sejak tadi ditahannya sudah tidak bisa dibendungnya lagi. Gitta menangis terisak di dada Ken.


Astagaaaaa. Balon tiup ini.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Kira-kira apa yang akan dilakukan Ken ya?


Mendorong Gitta


Membalas memeluk Gitta


Memarahi Gitta


Diam karena shock


Jangan senyum-senyum sendiri ya, nanti sakit rahangnya, langsung tertawa saja. Hehehehe 🤭


Jangan lupa dukungannya buat author, biar halunya bisa lancar 🤭🤭