
Retta segera menuju rumah sakit Cempaka setelah menghubungi mertuanya. Pikirannya sudah sangat kalut. Sepanjang perjalanan Retta tak berhenti menangis. Dadanya terasa sesak. Rasa takut kehilangan mendominasi hatinya.
Sekitar dua jam kemudian, Retta tiba di rumah sakit Cempaka. Setelah membayar taxi online, dia segera berlari ke IGD untuk mencari suaminya. Namun, dia tak menemukan Vanno di sana. Mertuanya pun tidak ada.
Retta segera mencari tahu keadaan suaminya pada resepsionis. Ternyata, Vanno sudah dibawa ke ruang operasi. Dia mengalami benturan pada bahu kanannya sehingga menyebabkan keretakan pada tulangnya.
Setelah mengetahui keberadaan suaminya, Retta segera berlari menuju ruang operasi. Sesampainya di luar ruang operasi, dilihatnya kedua orang tua Vanno sedang duduk sambil saling bersandar. Retta segera berjalan mendekat.
"Mom," panggil Retta ketika sampai di samping sang mertua.
Mommy Vanno segera mendongak. Wajah lelah dan mata sembab menyambut kedatangan Retta. Mommy segera merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Retta. Paham maksud mertuanya, Retta segera menghambur ke pelukan mommy.
"Hiks hiks Mom, Ba-bagimana ma-mas Vanno, hiks hiks" tangis Retta langsung pecah ketika berada dalam pelukan sang mertua.
"Sudah Ta, jangan menangis lagi. Mommy dan daddy tadi sudah melihat keadaan Vanno. Lukanya tidak terlalu parah kok. Vanno pakai seatbelt tadi." Kata mommy sambil membelai rambut Retta dengan lembut.
"Ta-tapi, kenapa sampai operasi Mom?" tanyanya masih terisak.
"Bahu kanan Vanno terbentur pintu mobil, ada retakan di sana. Jadi harus segera ditangani agar tidak semakin berbahaya." kata mommy. "Sudah, jangan menangis terus. Nanti jika Vanno sadar dan lihat wajah kamu seperti ini, bisa buat Vanno tambah cemas," lanjut mommy.
Retta segera menegakkan diri. Dihapusnya segera air mata yang masih mengalir di pipinya. Retta meminta ijin untuk membersihkan muka ke kamar mandi.
Sekitar dua jam kemudian, operasi berjalan lancar. Vanno juga sudah dipindahkan di ruang perawatan. Retta masih setia menemaninya meski Vanno belum sadarkan diri.
Retta meminta mommy dan daddynya untuk beristirahat di rumah. Retta kasihan kepada kedua mertuanya yang baru tiba dari luar negeri dan belum sempat beristirahat.
Sehabis pukul tujuh malam, bi Mar datang ke rumah sakit dengan membawa makanan dan baju ganti untuk Retta. Retta segera melahap makan malam tersebut karena perutnya sudah berteriak minta dimanjakan.
Setelah bi Mar pamit pulang, Retta segera membersihkan diri. Badannya terasa lengket dan baju sekolahnya juga sudah lusuh. Setelah selesai membersihkan diri dan berganti baju, Retta segera mengirimkan pesan kepada Abel agar memintakan ijin untuknya tidak masuk sekolah keesokan harinya.
Bahu kanannya sudah terbalut perban sejak setelah operasi. Vanno memang tengah bertelanjang dada kali ini setelah melakukan operasi. Dia hanya memakai celana panjang pasien dan badannya hanya tertutupi oleh selimut tebal. Pada tangan kiri Vanno terpasang selang infus dan tanda pengenal pasien.
Retta memperhatikan wajah suaminya dengan intens. Disentuhnya pipi Vanno sebelah kiri. Tangan Retta juga mengusap rambut suaminya dengan lembut. Entah mengapa hatinya benar-benar merasa takut kehilangan.
Tangan kanan Retta turun ke bawah hingga sampai pada bibir Vanno. Diusapnya bibir yang hampir setiap hari memberikan vitamin c alias ciuman untuknya itu dengan lembut.
Retta mendekatkan wajahnya pada wajah Vanno. Entah dapat dorongan dari mana Retta berani mendekati bibir Vanno.
Cup.
Retta memberikan sebuah kecupan disana sekali. Dilihatnya lagi wajah yang tengah terlelap itu dari jarak yang sangat dekat. Retta mendaratkan bibirnya lagi pada bibir Vanno.
Cup. Cup. Cup.
Ketika Retta hendak mengangkat bibirnya dari bibir Vanno, Vanno sudah terlebih dahulu menahan tengkuk Retta dengan tangan kirinya yang masih terpasang infus.
Cuupphhhhh hhhh cuuppphhhh hhhmmmm cuupphhh hhmmm
.
.
.
.
.