
Hari itu, Al menemani mommy dan Khanza memilih berbagai peralatan rumah tangga. Mulai dari keperluan ruang tamu sampai dapur. Rumah yang disiapkan untuk mereka memang tidak terlalu besar, dan mommy memang sengaja tidak mengisi barang-barang rumah tangga agar Khanza dan Al bisa mengisinya dengan barang-barang sesuai dengan keinginannya.
Setelah mendapatkan beberapa kebutuhan rumah tangga, mereka memutuskan untuk pulang. Semua barang-barang yang dipesan akan diantar langsung ke rumah Khanza dan Al. Sudah ada asisten rumah tangga yang akan menerima kiriman barang-barang tersebut.
Mommy minta diantar ke rumah papa dan mama. Sementara malam itu, Khanza dan Al memutuskan untuk menginap di rumah orang tua Al. Setelah menempuh perjalanan cukup lama karena terjebak macet, Khanza dan Al sampai di rumah orang tua Al. Mereka sampai di sana menjelang makan malam.
"Kalian yakin akan melanjutkan kuliah tahun ini?" Tanya papa Al sambil menyantap makan malamnya.
"Iya Pa. Kami pikir lebih baik begitu. Mumpung aku juga belum terlalu sibuk." Jawab Al.
Om Andreas, papanya Al hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
Setelah makan malam, mereka mengobrol di ruang tengah. Khanza sangat antusias sekali mendengarkan cerita masa kecil sang suami dari mertuanya. Dia penasaran kenapa suaminya itu sangat ketus jika berhadapan dengan para wanita. Bukannya Khanza tidak senang, tapi dia hanya penasaran.
"Kalau itu tanyakan saja sendiri sama orangnya. Mama dulu sempat khawatir dia ikut-ikutan sepupunya yang suka dengan sesama jenis." Kata mama Al.
Khanza begitu terkejut mendengar jawaban sang mertua saat dirinya menanyakan alasan mengapa Al selalu jutek.
"Benarkah Ma?" Tanya Khanza. "Mengapa mama bisa sampai berpikir seperti itu?" Lanjut Khanza.
"Ya bagaimana mama tidak berpikir ke arah sana. Sejak SD sampai SMP mainnya sama kakakmu terus. SMA sampai kuliah juga mainnya sama anak-anak cowok. Nggak pernah itu mama lihat dia kerja kelompok atau nongkrong rame-rame sama anak cewek. Gitu terus sampai lulus kuliah." Jawab mama Al.
Khanza pun mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.
"Jadi, apakah itu alasannya dulu mama dan papa menjodohkan kak Al dengan kak Vita?" Tanya Khanza.
"Iya, salah satu alasannya karena itu. Mama dan papa hanya takut kami tidak mempunya menantu yang wajar." Jawab mama Al.
Seketika Al yang sedari tadi memainkan rambut Khanza menoleh menatap wajah mamanya.
"Maksudnya menantu yang wajar bagaimana sih Ma?" Dengus Al setelah mendengar jawaban sang mama.
"Ya, yang memiliki gua alami dong. Mama nggak mau punya menantu yang punya pancuran." Jawab mama sambil melengos.
"Ccckkk. Al juga normal kali Ma." Jawab Al tak kalah kesalnya.
Melihat anak dan ibu saling debat merupakan pemandangan yang sudah biasa bagi Khanza. Dia juga sering melihat kakak dan mommynya berdebat. Belum lagi jika sang daddy ikut nimbrung. Beeuuuhh, bisa jadi debat kusir yang tak ada ujungnya. Ujung-ujungnya nanti, sang mommy akan berdiri dan mendelik menatap wajah kakak dan daddynya sambil berkacak pinggang sambil mengancam sang daddy tidur di luar kamar. Baru setelah itu, sang daddy akan berubah menjadi jinak sejinak kucing yang lagi merajuk.
Hal yang sama pun sekarang juga dialami oleh sang kakak. Dia akan langsung mati kutu jika sang kakak ipar mengancam dengan menggunakan kata-kata yang sama jika Ken masih terus saja ngoceh hal-hal absurd. Setelahnya, Ken baru akan langsung diam menuruti perkataan sang istri.
Khanza jadi berpikir, apakah laki-laki yang sudah menikah dan sudah mengenal serta menjelajah gua lokal akan selalu bersikap seperti itu jika di rumah? Pikir Khanza.
Dia bisa membedakan dengan sangat jelas saat daddy dan kakaknya sedang bekerja atau berada di luar rumah. Mereka akan bertingkah sangat berbeda. Mommy dan kakak iparnya pun akan sangat menghormati daddy dan Ken. Bukan berarti saat di rumah mereka tidak menghormati para suami. Tapi, lebih kepada menjaga marwah suami di depan orang lain.
Hhhmmm, apakah nanti kak Al juga akan seperti mereka ya? Batin Khanza.
Al yang melihat sang istri tengah melamun langsung mencubit pipinya.
"Aauuwww, sakit Kak." Kata Khanza sambil mengusap-usap pipinya dan menoleh menatap wajah sang suami.
"Habisnya melamun terus. Ditanya mama sampai nggak dengar." Kata Al gemas.
"Eh, iya kah? Maaf Ma, aku tadi melamun. Hehehe." Kata Khanza malu. "Mama tanya apa?" Lanjut Khanza.
"Tadi, mama tanya apakah kamu menunda kehamilan?" Tanya mama Al.
Seketika Khanza menoleh menatap Al. Hal ini sudah mereka bahas kemarin saat menunggu di bandara. Khanza menggelengkan kepalanya.
"Tidak Ma. Kami tidak akan menunda kehamilan. Sedikasihnya sama Allah saja. Yang pasti, kami akan berusaha." Jawab Khanza.
Mama dan papa Al merasa sangat bahagia mendengarnya.
"Mama dan papa tidak menuntut kalian untuk segera memiliki momongan. Kami tahu usia kalian masih sangat muda. Tapi, mama dan papa sangat senang sekali mendengar kalian tidak menunda untuk punya momongan." Kata papa Al.
Khanza dan Al mengangguk bahagia mendengar perkataan sang papa.
"Iya, mama juga sangat bahagia. Jangan dijadikan beban ya Sayang. Kalian masih sangat muda, masih usia produktif. Kalian bisa saling menikmati masa-masa pacaran setelah menikah. Mau apapun juga sudah halal. Hahahaha." Kata mama.
Seketika wajah Al dan Khanza langsung memerah. Ternyata mertuanya ini bisa juga membuat malu. Khanza pikir hanya orang tua dan kakaknya saja yang bisa menggodanya. Tapi ternyata, sang mama mertua pun juga bisa menggoda mereka.
Setelah cukup lama mengobrol kesana-kemari, akhirnya Al dan Khanza meminta izin untuk beristirahat. Mereka segera beranjak menuju kamar Al yang berada di lantai dua rumah itu. Rumah sederhana yang sangat nyaman bagi Khanza. Dia merasa cukup betah berada di sana.
Khanza segera mengekori sang suami menuju kamar tidurnya. Begitu pintu terbuka, Khanza langsung melihat nuansa putih dan abu-abu. Sangat kental dengan gaya khas laki-laki. Dia jadi teringat dengan kamar sang kakak yang juga memiliki nuansa yang hampir sama.
Khanza segera berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri sekaligus mengganti baju tidurnya. Dia sudah membawa baju ganti karena mereka sudah berniat untuk menginap di rumah orang tua Al malam itu. Sementara itu, Al juga sudah mengambil kaos tidurnya dan celana boxer yang selalu dipakainya saat tidur dan segera menggantinya saat itu juga. Dia tidak peduli ada Khanza di dalam kamar mandi yang sewaktu-waktu bisa saja keluar.
Beberapa saat kemudian, Khanza terlihat keluar dari kamar mandi dengan menggunakan baju tidur yang cukup 'normal'. Dia tidak menggunakan baju tidur seperti yang dipakainya pada saat di Bali, karena Khanza merasa malu jika memakainya di rumah mertuanya.
Al yang sudah berada di atas tempat tidurnya langsung menoleh saat melihat Khanza keluar dari kamar mandi dan berjalan ke arah tempat tidur. Matanya terlihat mendamba sang istri. Namun, dia tidak dapat melakukan apa-apa karena masih terhalang oleh, ah sudahlah.
"Kenapa Kak?" Tanya Khanza sambil merangkak naik ke atas tempat tidur.
Al yang masih memandangi wajah sang istri yang berada di sampingnya pun mulai menyusuri tubuh Khanza. Dia begitu bersyukur mendapatkan istri sepertinya. Seketika pandangan mata Al tertuju pada sesuatu yang kecil terlihat menonjol pada dada sang istri.
Glek.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=\=
Maaf Up nya di bagi-bagi sama the Ceo's Proposal ya, jadi waktunya ngetik dibagi
Jangan lupa dukungan like, comment dan vote ya, biar othor e ndak merasa sendiri.
Untuk mengetahui kapan up dan informasi karya baru, bisa follow ig othor ya, @keenandra_winda
Tetap jaga kesehatan, jaga jarak dan patuhi protokol kesehatan. 🤗