
"Jessika masih hidup. Dia dalang di balik kecelakaan mas Vanno kemarin" jawab Tora.
Deg.
Vanno langsung mengalihkan pandangannya kepada Tora. Seketika bayangan masa lalunya berkelebat memenuhi pikirannya. Pikirannya kembali ke beberapa tahun silam ketika perempuan bernama Jessika itu menyiksanya dan juga adiknya hingga meninggal.
Tangan Vanno mencengkeram gelas yang berisi jus jeruk dengan begitu kuat. Keringat dingin langsung keluar dari dahi dan pelipisnya. Matanya menatap tajam ke satu titik menyiratkan dendam yang teramat sangat. Rahangnya mengeras hingga terdengar gemeretak giginya.
Tora yang melihat reaksi Vanno menjadi khawatir. Dia khawatir jika trauma Vanno akan kembali lagi. Ini yang dikhawatirkan daddynya Vanno ketika anak buahnya menyampaikan hal ini kepada Tora.
"Mas Vanno?" tanya Tora dengan pelan. Dia memang diminta untuk memanggil dengan sebutan mas kepada Vanno. Tora juga menyebut bapak dan ibu untuk orang tua Vanno. Dia tidak diperbolehkan memanggil tuan dan nyonya. "Anda baik-baik saja?" lanjutnya.
Vanno tersadar dari bayangan masa lalunya. Dia menoleh ke arah Tora sambil menggeleng pelan.
"Tidak. Aku baik-baik saja" kata Vanno. "Bagaimana kau tahu kejadian ini?" lanjut Vanno.
"Hansen, menyelidiki semuanya sesuai dengan perintah bapak, Mas," kata Tora. "Dan, ternyata memang benar kecurigaan bapak jika ada yang mendalangi kecelakaan mas Vanno" lanjut Tora.
Vanno memijat ujung hidungnya sambil memejamkan mata. "Lalu, bagaimana perempuan itu masih bisa hidup. Bukankah dia sudah dinyatakan meninggal?" tanyanya.
"Itu yang masih diselidiki oleh Hansen saat ini Mas. Kemungkinan, ada orang lain yang membantunya saat itu."
"Apa yang harus kita lakukan?" tanya Vanno.
"Mas Vanno harus lebih berhati-hati" kata Tora. "Apalagi, saat ini mas Vanno sudah menikah. Saya khawatir jika Jessika akan memanfaatkan hal ini untuk menyakiti keluarga mas Vanno. Mas Vanno harus lebih berhati-hati menjaga mbak Retta."
Vanno menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi sambil memejamkan matanya. Dia benar-benar tidak menyangka jika hal ini bisa terjadi. Dia bertekad akan menjaga keluarganya sebisa mungkin. Apalagi sekarang sudah ada Retta di hidupnya. Dia tidak ingin kehilangan orang yang disayanginya lagi.
Setelah berbincang cukup lama dengan Tora untuk membahas langkah apa yang akan dilakukan, Tora segera undur diri.
Sementara itu, Retta sudah terbangun dari tidurnya. Dia mengerjapkan mata sambil mengamati sekelilingnya. Dia tidak menemukan Vanno. Setelah membersihkan diri, Retta segera mencari suaminya.
Ketika hendak menuju dapur, Retta melihat suaminya tengah berdiri menatap taman bunga yang ada di dekat gazebo. Retta tersenyum dan berjalan mendekatinya.
Vanno tidak menyadari kedatangan Retta hingga tangan Retta melingkar pada perut Vanno. Kepala Retta disandarkan pada punggung Vanno.
Vanno sedikit terkejut mendapati sang istri tengah memeluknya dari belakang. Namun, dia langsung mengubah ekspresi wajahnya dengan senyum.
Vanno mengusap punggung tangan Retta kemudian melepaskan pegangan tangannya dan berbalik. Vanno menangkup kedua pipi Retta dengan kedua tangannya.
Melihat istrinya yang tengah bingung, Vanno menjadi semakin gemas. Cup. Dikecupnya bibir sang istri dengan singkat.
Retta langsung membulatkan mata dan bibirnya seketika. "Mas ih, apa-apaan sih," gerutu Retta sambil mencubit pinggang Vanno. "Ditanya bukannya jawab malah bercanda" kesal Retta.
Vanno terkekeh mendengar gerutuan Retta. Dia mendekat ke arah Retta dan langsung memeluknya. Grep. Retta yang mendapat perlakuan dadakan dari Vanno hanya bisa pasrah. Dia melingkarkan kedua tangannya pada punggung Vanno.
"Aku kangen Ta, bisa nggak kita bercocok tanam lagi?" tanya Vanno sambil mengusap rambut Retta yang tergerai di punggungnya.
Retta yang belum menyadari maksud Vanno segera mendongak menatap manik mata sang suami.
"Bercocok tanam?" tanya Retta. "Mas Vanno ingin menanam apa di sini?" lanjutnya sambil mengernyitkan dahi.
"Tanam bayi" jawab Vanno
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak ya,
Like, komen, dan vote
Terima kasih 🤗🤗