Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Bantuan untuk Sahabat


Dua hari kemudian, mommy dan daddy berangkat ke Spanyol untuk menyelesaikan masalah pada kantor cabang di sana. Daddy Vanno memaksa mommy untuk ikut dengannya. Mau tidak mau, akhirnya mommy ikut ke luar negeri. 


Sudah hampir dua minggu berlalu sejak mommy dan daddy berangkat ke luar negeri. Sebelum mulai kuliah, Khanza lah yang sering menemani Gitta berada di rumah. Sesekali mereka pergi berbelanja di mall.


Hari itu, Gitta dan Khanza kembali lagi berbelanja keperluan bayi di salah satu toko perlengkapan bayi. Mereka terlihat asyik berbelanja saat sebuah suara mengagetkan mereka.


"Gittaaaa, aku kangeeennnn." Teriak sebuah suara tak jauh dari Gitta dan Khanza berada.


Kedua saudara ipar tersebut langsung menoleh ke arah sumber suara. Senyum keduanya langsung terbit saat melihat seorang wanita tengah berjalan mendekat sambil merentangkan kedua tangannya. Dia langsung memeluk Gitta dan Khanza bergantian saat sudah berada di depan mereka.


"Kamu apa kabar? Waahh, calon keponakanku sebentar lagi lahir nih." Kata perempuan itu sambil mengusap-usap perut Gitta.


Gitta tersenyum dan mengangguk mengiyakan saat mendengarnya.


"InsyaAllah dua bulan lagi. Kamu apa kabar Vit?" Tanya Gitta. Ya, perempuan tersebut adalah Vita, sang sahabat. Semenjak menikah, mereka memang jarang bertemu atau sekedar jalan dan makan bersama. Mereka lebih sering berkomunikasi melalui telepon atau pesan.


"Alhamdulillah. Aku sudah lumayan baik." Jawab Vita.


"Kak, kita cari tempat untuk ngobrol yuk. Belanjanya dilanjutkan nanti saja." Ajak Khanza.


Gitta dan Vita mengangguk setuju. Selanjutnya, mereka memilih restoran tak jauh dari tempat mereka bertemu. Meski belum waktunya makan siang, mereka memutuskan untuk mengobrol disana sekaligus memesan minum.


"Bagaimana, Khanza sudah isi atau belum?" Tanya Vita sambil menyesap minumannya.


Khanza menoleh menatap wajah Vita sambil menggeleng.


"Belum Kak. Mungkin, belum rezeki kami." Jawab Khanza.


Vita mengangguk-anggukkan kepalanya sambil mengusap lengan Khanza.


"Yang sabar ya Za. Aku pun juga sama. Sejak keguguran kemarin, aku lebih pasrah, tidak terlalu memaksakan keinginan. Sedikasihnya saja, yang penting tetap berusaha." Kata Vita.


Khanza mengangguk mengiyakan.


"Memang kemarin, kenapa bisa sampai keguguran Kak?" Tanya Khanza.


Vita kembali menatap wajah Khanza sebelum menjawabnya.


"Kemarin aku tidak tahu jika aku isi. Saat itu, aku benar-benar kecapekan. Aku harus bolak-balik rumah ibu dan rumah orang tua Gilang. Hampir setiap hari aku harus menempuh perjalanan dua sampai tiga jam. Jadi, mungkin karena itu aku keguguran." Kenang Vita dengan wajah sedih.


"Jadi, kemarin kakak sempat tidak tau jika sudah isi?" Tanya Khanza penasaran.


"Iya. Aku tidak tau jika sudah isi waktu itu. Periode menstruasiku juga sudah biasa tidak teratur. Jadi, aku sama sekali tidak berfikir kearah sana." Jawab Vita.


Khanza dan Gitta mengangguk-anggukkan kepalanya mengerti.


"Memangnya kenapa kamu bolak balik rumah ibu dan mertua kamu Vit?" Kali ini Gitta yang bertanya.


"Ehm, sebenarnya aku menemani Gilang disana. Dia bekerja di Insta Mega Media. Dia sudah bekerja di sana selama delapan bulan sejak sebelum menikah. Namun, setelah aku keguguran, dia lebih memilih untuk mengundurkan diri." Jawab Vita sedih.


Khanza dan Gitta merasa sangat kasihan setelah mendengar jawaban Vita.


"Lalu, sekarang Gilang bekerja dimana?" Tanya Gitta.


Vita menggelengkan kepalanya.


"Gilang belum bekerja Git, ini aku lagi menemaninya untuk melamar pekerjaan di Van's Media." Kata Vita.


"Hhaaa, Van's Media?!" Gitta dan Khanza terkejut mendengarnya.


Vita menatap wajah Khanza dan Gitta bergantian.


"Iya, memangnya ada apa?" Tanya Vita.


"Itu kan perusahan daddy Kak." Jawab Khanza. "Sebentar, aku akan menghubungi om Rian dulu." Lanjut Khanza sambil mengotak-atik ponselnya.


Tak berapa lama kemudian, Khanza sudah terlibat percakapan dengan seseorang. Sementara Vita langsung menoleh menatap wajah Gitta.


"Memangnya apa yang akan dilakukan Khanza Git?" Tanya Vita.


Gitta menoleh menatap wajah Vita sambil menyesap minuman dingin pesanannya.


"Benarkah?!" Vita sedikit berteriak karena tidak percaya. Wajahnya berbinar bahagia penuh harap.


Gitta mengangguk mengiyakan. Ujung bibirnya tertarik melihat kebahagiaan sang sahabat.


Setelah beberapa saat kemudian, Khanza menyelesaikan panggilan teleponnya. Dia segera menutup panggilan tersebut dan beralih menatap wajah Vita sambil tersenyum bahagia.


"Aku sudah meminta tolong om Rian untuk memberikan pekerjaan kepada kak Gilang, Kak. Dan, dia juga sudah menerima surat lamaran kak Gilang. Mungkin beberapa hari lagi kak Gilang akan menerima panggilan untuk bekerja." Kata Khanza sambil tersenyum.


"Alhamdulillah, terima kasih Za, Git. Aku sangat bersyukur sekali mempunyai sahabat seperti kalian." Kata Vita sambil menggenggam tangan Gitta dan Khanza dengan mata berkaca-kaca.


"Sama-sama Kak. Jika kami masih bisa membantu, insyaAllah kami akan membantu kakak." Jawab Khanza.


"Oh iya Vit, jika kamu mau kamu bisa coba datang ke butik mommy. Kemarin mbak Arini bilang dia butuh karyawan baru untuk menghandle pemasukan bahan. Siapa tahu, kamu bisa ambil part time di sana." Kata Gitta.


"Benarkah?" Tanya Gitta antusias. "Baiklah, aku akan coba bicarakan ini dulu dengan Gilang. Jika dia mengizinkan, aku akan coba ke butik tante Retta." Lanjut Vita dengan penuh semangat.


Tak berapa lama kemudian, ponsel Gitta berdering. Dia segera mengambil ponselnya dan menggeser ikon berwarna hijau tersebut setelah mengetahui id penelepon.


"Hallo Mas?" Sapa Gitta. Ya, saat itu Ken lah yang tengah menelepon Gitta.


"Kamu dimana? Masih di mall?" Tanya Ken di seberang sana.


"Iya Mas, ini masih di mall. Tadi ketemu Vita, ini sekalian makan siang bareng Khanza juga. Ada apa Mas?" Tanya Gitta.


"Aku ke sana sekarang. Aku selesai meeting di d'Green ini." Jawab Ken.


"Baiklah. Mau di pesankan makan siang sekalian?" Tawar Gitta.


"Nggak usah deh. Nanti saja aku memakanmu." Jawab Ken.


"Kebiasaan kamu, Mas. Tuman." Gerutu Gitta.


Ken terdengar tertawa-tawa di seberang sana. Dia segera menutup panggilan teleponnya. Tak berapa lama kemudian, Vita pamit untuk pulang. Dia sudah ditunggu Gilang di tempat parkir.


Selang beberapa menit kemudian, Ken terlihat berjalan ke arah Gitta dan Khanza. Dia berjalan memasuki restoran tersebut sambil membalas pesan Al. Ternyata Al juga ingin menjemput sang istri. Ken mengajaknya sekalian untuk makan siang bersama.


Namun, saat Ken hendak memasuki restoran tersebut, tiba-tiba lengannya ditarik oleh seseorang. Seketika Ken berhenti dan menoleh menatap si pelaku.


"Keenan?! Ini kamu kan?" Tanya seorang perempuan dengan hebohnya.


Ken hanya memutar bola matanya dengan jengah. Dia merasa kesal telah tidak sengaja bertemu dengan perempuan itu. Ya, dia adalah Sienna Thomas, teman kuliah Ken saat di Singapura.


"Iya. Ada apa?" Tanya Ken dengan ketus.


Bukan Siena namanya jika mudah sakit hati dengan jawaban Ken. Dia dengan semangat empat limanya memeluk lengan Ken dan bergelayut mesra di tangannya.


"Kebetulan kita bertemu di sini. Aku mau kita makan siang bersama yuk. Siapa tau kita bisa berjodoh." Kata Sienna dengan antusias.


"Jodoh kamu ada di padang pasir sana"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Lhah, itu siapa yang jawab 🤔


Mohon dukungannya ya, menjelang end.


Untuk informasi karya, bisa lihat di ig othor @keenandra_winda


Thank you