Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 53


Vanno tersenyum melihat ekspresi Retta yang terlihat khawatir. Dia mengecup pucuk kepala Retta dengan lembut. "Tenang, aku akan pelan-pelan" katanya sambil menarik Retta menuju meja makan untuk makan siang. Retta menurut ketika tangannya ditarik oleh Vanno.


*****


Hari itu, Vanno benar-benar membiarkan Retta beristirahat. Dia tidak ingin Retta kesakitan hingga membuatnya akan semakin lama lagi berpuasa. Hingga malam tiba, Vanno masih menemani Retta di atas tempat tidur. Dia memeluk Retta yang tengah terlelap.


Vanno sama sekali belum bisa mengistirahatkan tubuhnya. Pikirannya kembali menerawang tentang kejadian beberapa tahun silam. Jessika. Rasanya ingin segera Vanno mencari perempuan itu dan membalaskan dendamnya. Vanno menggertakkan giginya dan tangannya tak sengaja meremas kasar bahu Retta.


Merasa sakit di bagian bahunya, Retta segera mengerjapkan matanya. Dia mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Vanno yang terlihat menahan amarah. Vanno tidak menyadari jika Retta telah terbangun karenanya.


Retta masih mengawasi wajah Vanno. Seketika hatinya merasa khawatir. Apa mas Vanno benar-benar marah karena aku tidak mau diajak iya-iya ya?, batin Retta.


"Maasss," kata Retta sambil mengusap pipi Vanno. "Ada apa, kamu marah?" lanjutnya.


Vanno terkejut mendengar Retta terbangun. "Kamu bangun sayang, maaf aku membangunkanmu" kata Vanno sambil mengecup pucuk kepala Retta.


Retta menggeleng pelan. Dia malah mengalungkan kedua tangannya pada leher Vanno. Retta mendekatkan wajahnya pada wajah Vanno, dan cup. Retta memberikan kecupan pada bibir Vanno. 


Vanno membelalakkan kedua matanya. Dia terkejut dengan apa yang dilakukan Retta. "Jangan membangunkan Vj sayang, jika sudah bangun, aku tidak bisa menjamin untuk tidak menyerangmu lagi." Kata Vanno.


Seketika wajah Retta memerah mendengar perkataan Vanno. Bukannya menjauhkan lengannya dari leher Vanno, tapi Retta malah mengeratkan pelukannya. "Aku menginginkanmu mas," kata Retta sambil tersipu malu.


Sontak Vanno langsung tersenyum smirk. Dia segera menggulingkan tubuhnya hingga menindih Retta. "Benarkah?" tanyanya penuh harap. Retta mengangguk malu di bawah Vanno.


"Aku tidak akan menahan lagi malam ini!" kata Vanno penuh kemenangan sambil mulai melucuti pakaian Retta.


Retta hanya bisa pasrah mendapat serangan dari Vanno. Tak bisa dipungkiri dia ikut menikmati semua perlakuan yang Vanno berikan. Hingga subuh tiba, Vanno tak membiarkan Retta beristirahat. Bahkan, setelah subuh Vanno masih saja menyerang Retta meski tidak seganas tadi malam. 


Retta bahkan tidak bisa menggerakkan badannya. Seluruh tubuhnya terasa berat. Dia terlelap hingga siang hari. Vanno membiarkan Retta tertidur karena kelelahan akibat perbuatannya. Dia juga ikut merebahkan tubuhnya di samping Retta.


Pukul 11.10 Vanno terbangun karena mendengar ketukan pada pintu kamarnya. Vanno segera beranjak untuk membukakan pintu. 


"Ada apa?" tanya Vanno sambil menutup pintu kamar setelah dia keluar. Dia tidak membiarkan pak Andi untuk melihat Retta yang tengah tertidur polos dan hanya dibalut oleh selimut.


"Maaf Den, ini ada yang mengirim paket." jawab pak Andi.


Vanno mengernyitkan dahinya. Bingung. Siapa lagi yang tahu jika dirinya tengah berlibur disini. Merasa penasaran, Vanno segera menerima paket tersebut dan membawanya ke teras belakang.


Dia meletakkan paket tersebut di atas meja, kemudian membukanya secara perlahan-lahan. Bau bunga menyeruak ketika sebagian pembungkus itu terbuka. 


Vanno mengernyitkan dahinya ketika melihat banyaknya bunga kantil disana. Matanya seketika membulat melihat beberapa kepala ayam yang masih penuh dengan darah berada di bawah bunga-bunga itu.


Vanno mengepalkan tangannya dengan kasar. Tatapan mata penuh amarah tak lepas dari netranya. Dia segera mengambil ponsel dari sakunya untuk menghubungi seseorang.


"Jessika,.." kata Vanno ketika sambungan teleponnya sudah terhubung.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak ta


Biar tambah semangat...🤗🤗