
Vanno membantu Retta mengangkat pinggulnya ketika Retta menarik celananya dari dalam selimut. Entah karena terlalu cepat atau karena kesulitan, selimut Vanno tersingkap ke samping.
Seketika pandangan Retta tak sengaja melihat apa yang seharusnya tidak dia lihat.
"Astaga. Paralon air!" teriaknya.
Retta segera menutupi bagian bawah tubuh Vanno yang tidak sengaja terlihat tadi. Dia merasa malu meskipun status mereka sudah suami istri.
Vanno mendengus kesal. Dia mendelik sambil mengerucutkan bibirnya. "Apa maksudmu dengan paralon air?" tanya Vanno sambil memandangnya.
"I-itu tadi… ma-maaf Mas. Aku tidak sengaja tadi." kata Retta terbata sambil menunduk. Wajahnya terasa panas.
"Kamu harus terbiasa melihatnya. Tidak usah merasa malu seperti itu." ketus Vanno.
Apa maksudnya dengan terbiasa melihatnya. Dasar otak mesum, gerutu Retta dalam hati.
"Sudah cepat bersihkan, tubuhku lengket sekali ini." kata Vanno membuyarkan pikiran Retta.
Retta segera mengambil handuk kecil dan memasukkannya kedalam air hangat, kemudian segera diperasnya hingga airnya habis.
Pertama, Retta membersihkan bagian wajah hingga leher Vanno. Kemudian tangan hingga dada Vanno yang tidak diperban. Retta melirik Vanno sekilas sebelum membuang muka. Ternyata Vanno masih memandanginya dengan intens.
"Ma-mas Vanno kenapa melihatku seperti itu, malu aku mas," kata Retta sambil terus mengusap-usap bagian perut Vanno.
"Hheehh. Kenapa mesti malu, kita sudah menikah ini." Jawab Vanno dengan santainya. "Aku cuma heran saja, dari tadi kenapa tangan itu tidak berpindah dari perutku, geli tau." kata Vanno sambil melirik tangan Retta yang masih setia nangkring di atas perut Vanno dari tadi.
"Ma-maaf Mas." kata Retta sambil memeras handuk.
"Jika tidak segera berpindah, tanganmu bisa mendirikan tower alami sekaligus menciptakan air mancur." Kata Vanno dengan santainya.
Retta memukulkan handuk yang dipegangnya pada perut Vanno. "Dasar mesum." kata Retta sambil mengerucutkan bibirnya.
"Sudah, cepetan ini segera diselesaikan. Dingin tahu!" kata Vanno.
Retta segera melanjutkan aktifitasnya. Dia mulai membasuh bagian kaki Vanno hingga sampai betis dan lutut. Retta menyingkapkan selimut Vanno hingga sampai atas lutut.
"Sudah Mas. Sudah selesai ini." Kata Retta.
"Hah?" Vanno mendelik memandang Retta. "Kamu bercanda apa. Iniku belum dibersihkan Ta, gatal ini. Risih aku Ta." rengek Vanno sambil menggerak-gerakkan kakinya.
Retta mendelik. Dia bingung bagaimana cara membersihkan bagian itu. Retta menggelengkan kepalanya.
"Aku malu Mas, mas Vanno bersihkan saja sendiri ya. Ini handuknya." kata Retta sambil mengulurkan handuk.
Retta mengerucutkan bibirnya. Mau tak mau dia melakukan apa yang suaminya minta. Retta membasahi handuk dengan air hangat dan memerasnya hingga airnya habis.
Retta memberanikan diri untuk mengusap kedua paha Vanno dari balik selimut. Vanno terlihat berusaha menahan agar towernya tidak ikut bereaksi.
Ssshhhhhhh aaahhhh.
Vanno mendesis tertahan. Dia tidak ingin Retta menghentikan kegiatannya. Dia merasa risih dan lengket pada bagian bawah tubuhnya jika tidak segera dibilas.
Entah sengaja atau tidak, berkali-kali ujung handuk yang Retta pegang menyenggol tower Vanno. Vanno berusaha mengalihkan pikirannya agar tidak ikut terpengaruh. Namun, hal itu langsung gagal total karena Retta terus menggeser handuk kesana kemari hingga ujungnya menyenggol si tower.
Dan akhirnya, berdirilah tower alami Vanno. Retta melihatnya dari balik selimut langsung menarik tangannya. Dia langsung melempar handuknya tepat menutupi tower yang sudah berdiri tegak.
"Tuh kan, mas Vanno mesum. Itu paralon air kenapa didirikan." Kata Retta kesal sambil membuang muka, malu.
"Enak saja, siapa juga yang mau mendirikannya. Tangan kamu tadi yang nyenggol-nyenggol, jadi bangun tuh."
Retta mencebikkan bibirnya. "Sudah. Nanti mas Vanno nggak usah pakai celana. Pakai sarung saja, biar tidak sesak itu si paralon." kata Retta.
Vanno pasrah mengikuti perintah Retta. Setelah membereskan peralatan mandi Vanno, Retta segera membantu Vanno memakai sarung serta mengganti selimut dan sepreinya yang basah.
Melihat paralon Vanno masih belum beristirahat, Retta mendengus kesal.
"Mas, bisa tidak itu paralonnya di suruh tidur. Aku geli tau." kata Retta sambil membuang muka.
Vanno menoleh untuk melihat Retta sebelum menjawab. "Sudah ku minta untuk istirahat dari tadi Ta, tapi tidak mau." jawab Vanno dengan santainya.
Retta mendelik kesal sebelum beranjak pergi ke kamar mandi. Sedangkan Vanno terkekeh lirih melihat tingkah Retta.
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa vote, like dan komen ya.. 🤗🤗