
Al dan Ken beserta om Arya dan Lala segera pamit dari rumah Vita. Sementara Gilang masih berada di rumah Vita untuk membicarakan rencana lamaran resmi oleh keluarganya. Ya, setelah tadi Gilang memberanikan diri untuk menyampaikan niatannya menikahi Vita, Vita beserta ibunya menerimanya dengan senang hati.
Al segera kembali ke rumah sakit, sementara Ken segera pulang ke rumah mommynya.
Saat Ken memasuki rumah mommynya, terdengar suara Gitta dan sang mommy tengah berada di dapur. Terdengar suara penggorengan sedang beradu dengan spatula dan diselingi dengan tawa mereka. Ken segera melangkahkan kakinya menuju dapur.
"Hhhmmm, wangi bener baunya. Masak apa Mom?" Tanya Ken.
Seketika menantu dan mertua tersebut langsung menoleh menatap Ken yang sudah berdiri mengambil air minum dari dalam lemari pendingin.
"Ah, sudah pulang Mas. Maaf aku tidak tahu jika mas Ken pulang cepat." Kata Gitta sambil berjalan mendekat dan meraih tangan Ken untuk di kecupnya. Ya, meski Gitta masih merasa tidak nyaman saat berada dekat dengan Ken, tapi dia masih bisa melakukan kebiasaannya itu.
"Aku dan Al dari rumah Vita tadi, Yang. Langsung pulang setelahnya." Kata Ken.
Gitta begitu antusias saat mendengar jawaban Ken. Dia ingin mendengar cerita selengkapnya dari Ken. Namun, saat mendekat ke arah Ken, dia merasakan ada yang tidak nyaman pada tubuhnya. Segera Gitta menjauh dari suaminya.
"Ehm, mas Ken bersih-bersih dulu Gih. Baju gantinya sudah aku siapkan tadi." Kata Gitta.
Ken yang melihat sikap sang istri hanya bisa menghembuskan nafas beratnya. Mommy yang melihat hal itu hanya bjsa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Dia tahu Ken sangat menderita.
"Sabar, sayang. Semua demi baby. Jadi, calon daddy harus bisa melewati ini dengan baik." Kata mommy memberi semangat kepada Ken.
Ken hanya bisa mengangguk mengiyakan perkataan sang mommy. Setelahnya, dia segera pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Sementara Gitta dan mommy Retta melanjutkan acara memasak mereka.
Makan malam hari itu cukup memuaskan. Daddy merasa sangat kenyang malam itu.
"Sayang, besok buat lagi seperti ini ya, rasanya enak sekali." Kata daddy pada mommynya.
"Memang sejak kapan sih Mas aku masak nggak enak," ketus mommy Retta.
"Eh, maksudnya bukan begitu, Yang. Masakan kamu selalu enak kok di lidahku." Jawab daddy. Dia khawatir jika salah ngomong akan bernasib sama seperti sang putra.
Sementara Ken dan Gitta hanya tersenyum melihat tingkah mommy dan daddynya.
Setelah makan malam, Ken dan daddynya pergi ke teras samping untuk membicarakan proyek baru yang akan mereka kerjakan di Singapura. Sementara mommy dan Gitta juga tengah berada di ruang tengah sambil ngemil buah melon kesukaan Gitta.
"Khanza kapan ke Jakarta Mom? Aku lupa tidak tanya." Tanya Gitta.
"Lusa dia akan datang. Dia akan stay disini dulu sebelum lanjut kuliah." Jawab mommy.
"Jadi melanjutkan kuliah ke Singapura Mom?"
"Entahlah Git, mommy juga belum tahu. Khanza ingin melanjutkan di kampus yang sama seperti Ken dulu. Tapi mommy masih sedikit khawatir. Khanza kan perempuan, tinggal sendiri jauh di negeri orang sepertinya mommy masih belum begitu rela." Jawab mommy dengan wajah sedihnya.
Gitta mengerti perasaan sang mertua. Mungkin, jika dia berada di posisi mommy Retta, dia juga akan merasakan hal yang sama. Efek sudah mau jadi ibu mungkin kali ya.
"Sudah, mommy jangan terlalu dipikirkan. Khanza kan juga belum mengambil keputusan. Siapa tahu keputusannya masih bisa berubah." Jawab Gitta.
Mommy Retta hanya bisa mengangguk mengiyakan. Setelahnya, mereka kembali menonton drama korea kesukaan mereka. Meskipun mommy sudah berusia hampir empat puluh dua tahun, namun jiwa mudanya masih sangat terasa. Mommy hampir tidak pernah absen menonton drama korea kesukaannya.
Gitta yang menonton drama tersebut bersama mommy juga sama antusiasnya. Hingga tiba saatnya sang pemain wanita memakan permen loli yang cukup besar. Entah mengapa air liur Gitta langsung menetes setelanya. Dia bisa membayangkan permen loli tersebut pada mulutnya. Hingga drama korea tersebut sudah habis, Gitta masih terus membayangkannya.
Setelah selesai menonton televisi, Gitta segera berpamitan kepada mommy dan kembali ke dalam kamar. Gitta segera membersihkan diri dan langsung beringsut menuju tempat tidur. Gitta masih terngiang-ngiang dengan permen loli seperti yang di lihatnya pada drama korea tersebut. Dia sangat ingin mencicipinya.
Gitta menoleh menatap jam dinding di dalam kamarnya. Pukul 22.10 malam. Gitta masih belum bisa memejamkan matanya. Sementara Ken masih berada di luar bersama daddynya.
Gitta masih tidak bisa mengistirahatkan tubuh dan otaknya. Pikirannya masih melayang-layang membayangkan permen loli. Tiba-tiba air liurnya seakan menetes kembali. Karena tidak dapat menahan keinginanya, Gitta segera mengambil ponselnya dan mencari nomor ponsel sang suami.
Mas, aku ingin permen loli.
Ketik Gitta pada pesan singkat untuk Ken.
Sementara Ken yang merasakan ponselnya bergetar segera mengambilnya dan memeriksa pesan singkat yang baru saja masuk pada ponselnya. Seketika matanya membulat dan bibirnya tersenyum lebar. Sang daddy pun yang melihatnya langsung mengernyitkan keningnya.
"Pesan dari siapa?" Tanya daddy.
Ken menoleh menatap wajah sang daddy sambil tersenyum lebar.
"Gitta, Dad. Dia ingin permen loli. Akhirnya aku tidak jadi puasa lama. Hahaha." Jawab Ken.
Sementara sang daddy masih mendengarkan sambil mencebikkan bibirnya.
"Ingat, harus pelan-pelan. Jangan terlalu kasar, kasihan baby kamu." Kata daddy.
"Pastinya, Dad." Jawab Ken. "Aku ke kamar dulu Dad." Kata Ken penuh semangat sambil beranjak berdiri untuk menuju kamarnya.
Ceklek.
Ken membuka pintu kamarnya. Hal pertama yang dilihatnya adalah sang istri yang tengah berjalan mondar-mandir di dekat tempat tidurnya. Ken berjalan masuk mendekati sang istri.
"Sayang, kamu yakin mau itu?" Tanya Ken.
Gitta menoleh menatap wajah sang suami. Seketika senyumnya langsung terbit saat mendapati sang suami sudah berada di depannya.
"Iya, Mas. Aku ingin sekali memakannya. Rasanya air liurku langsung menetes saat membayangkannya." Kata Gitta sambil masih memegangi mulutnya.
Ken yang melihatnya semakin bersemangat. Dia sudah berjalan menuju tempat tidur sambil mulai melepaskan kaos yang dipakainya. Gitta yang melihatnya langsung mengerutkan keningnya.
"Kenapa dilepas sih Mas?" Tanya Gitta. Dia sudah mulai kesal sekarang.
Sementara Ken menghentikan langkahnya sambil menoleh menatap sang istri.
"Hah, maksudnya?" Bukanya menjawab, Ken malah balik bertanya.
"Kenapa kaosnya dilepas, cepat pakai lagi gih. Kita berangkat sekarang." Jawab Gitta sambil mengambil jaketnya dan segera memakainya dengan penuh semangat.
Ken yang masih cengo malah diam memperhatikan sang istri. Gitta yang merasa geram langsung menarik lengan Ken.
"Ayo cepetan ih Mas, aku ikut membeli permen loli. Aku ingin memakannya sambil berjalan berjalan di trotoar seperti yang ada di dalam drakor tadi. Hhhhmmm, membayangkannya saja air liurku rasanya langsung menetes Mas." Kata Gitta.
"Permen loli?" Ken lagi-lagi masih belum percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya. Istrinya menginginkan permen loli beneran, bukan permen loli jadi-jadian.
Ken menghembuskan nafasnya dengan berat. Segera dia memakai kembali kaosnya dan menyambar kunci mobilnya. Dia berjalan keluar kamar dan di ikuti oleh Gitta di belakangnya.
Saat sampai di ujung tangga, mereka bertemu sang daddy yang tengah membawa segelas jus jeruknya. Ken dan Gitta berhenti begitu sang daddy sudah berada di depannya.
"Lho, kalian mau kemana?" Tanya daddy. "Tidak jadi makan permen loli?" Tanya daddy sambil menaik turunkan alisnya.
Ken mendengus kesal dengan pertanyaan sang daddy. Gitta yang berada di belakang Ken pun menjawab.
"Ini, masih mau beli Dad. Entah mengapa rasanya aku ingin sekali makan permen loli seperti para pemain drama korea itu dan memakannya di sepanjang trotoar. Rasanya pasti sangat manis." Jawab Gitta.
Seketika tawa daddy langsung pecah.
"Bwwuuahahahahaha." Daddy tertawa sambil memegangi perutnya.
Sementara Ken yang masih kesal pun langsung menarik lengan Gitta agar segera mengikutinya.
"Awas tersedak Dad, sudah tua. Jangan mangap gitu kalau tertawa." Gerutu Ken sambil melewati sang daddy. Dia merasa kesal karena terus digoda oleh daddynya.
"Lha, kalau tertawa kan juga seperti ini. Memang mau tertawa sambil memonyongkan bibirnya. Hahahahaha."
Ekspresi Ken saat terkejut mendengar permintaan Gitta.
Gitta sudah siap berangkat
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Eh, gimana coba tertawa sambil memonyongkan bibir, 🤔