
Part 73
Belum sempat Vanno menjawab pernyataan Neo, terdengar suara ketukan pintu. Vanno segera menoleh dan beranjak dari tempat tidur untuk membukakan pintu.
Ceklek.
"Siapa ya?" tanya Vanno.
Seorang perempuan berambut coklat tengah berdiri di depan pintu sambil membawa beberapa buah sebagai buah tangan. Perempuan itu masih diam mematung belum menjawab pertanyaan Vanno. Vanno yang kesal segera bertanya lagi.
"Mbaknya mau cari siapa?" tanya Vanno.
Seketika perempuan itu mengerjabkan matanya. Dia segera menjawab pertanyaan Vanno.
"Apa benar ini kamar rawat inap Naretta, aku Abel sahabatnya,"
Vanno yang paham segera mengangguk dan meminta Abel untuk masuk menemui Retta. Abel segera menurutinya dan masuk untuk menemui Retta. Melihat sahabatnya datang, mata Retta langsung berbinar bahagia.
"Abeeelll" teriak Retta sambil merentangkan kedua tangannya.
Abel segera berjalan mendekati Retta. Dia meletakkan bingkisan yang dibawanya tadi di atas nakas, kemudian segera memeluk Retta dengan erat.
"Gimana ceritanya lo bisa jadi seperti ini Ta?" tanya Abel sambil masih memeluk Retta dengan erat. "Lo kok bisa terluka parah begini," lanjutnya sambil melepaskan pelukannya pada Retta.
Retta hanya menggeleng sambil tersenyum. Dia sangat bahagia karena bertemu dengan sahabatnya lagi. Sejak sekitar dua minggu yang lalu mereka tidak bertemu.
Abel yang melihat keadaan kaki Retta langsung bergidik ngeri. Pikirannya sudah melanglang buana kemana-mana.
"Ya ampun Ta, ini kaki lo bisa parah begini lukanya," kata Abel sambil meringis. Dia membayangkan pasti perih sekali rasanya. "Jadi, kemarin lo benar-benar kerampokan ya?" tanya Abel.
"Hhaaa, rampok?" tanya Retta bingung.
"Iya. Kemarin pagi gue telepon ke ponsel lo karena lo datangnya lama banget. Bu Susi sudah ngomel-ngomel karena lo nggak datang-datang. Gue kena semprot terus. Eh pas gue telepon, ternyata yang angkat telepon gue seorang cowok. Dan lo tahu, cowok itu ngaku-ngaku kalau dia itu suami lo. Nggak waras itu orang," jelas Abel.
Mendengar penjelasan Abel, Retta hanya bisa melongo sambil melirik Vanno dan kedua sahabatnya yang tengah duduk di sofa. Mereka bertiga ternyata mengamati interaksi antara dirinya dan Abel sejak tadi. Retta menjadi semakin bingung bagaimana cara menjelaskannya kepada Abel.
Abel yang sedari tadi mengamati Retta segera menggoyangkan bahunya. "Ada apa Ta?" tanyanya kemudian.
Retta yang masih bingung kembali melirik Vanno. Retta bergidik ngeri melihat Vanno yang menatapnya dengan tatapan kesal. Wajahnya yang juga menandakan dirinya sedang kesal pun tak luput dari pandangan Retta.
"Eehhmmm Bel, sebenarnya kemarin pagi yang mengangkat telepon lo adalah….," Retta menghentikan ucapannya sambil melirik Vanno. Vanno yang sedari tadi memperhatikan Retta segera mengangguk. " Sebenarnya dia adalah suami gue," kata Retta.
"Apaaa?!" teriak Abel.
Retta segera menutup kedua telinganya karena teriakan Abel.
"Apa maksud lo suami Ta, lo sudah menikah begitu?" tanya Abel masih tidak percaya.
"I-iya" jawab Retta sambil mengangguk.
"Lo sudah menikah Ta?" tanyanya lagi. "Bagaimana bisa, selama ini lo kan nggak pernah pacaran, apalagi dekat dengan cowok manapun, kecuali mas Andre. Bagaimana bisa lo sudah menikah, atau jangan-jangan mas Andre suami lo?"
Retta menggelengkan kepalanya dengan cepat. Bagaimana bisa Abel membawa-bawa nama mas Andre di sini. Bisa-bisa dia akan dimakan hidup-hidup oleh Vanno, batin Retta.
Vanno yang sudah sejak tadi menahan kesal segera berdiri. Dia berjalan mendekati Retta dan Abel. Saat itu, Abel duduk membelakangi Vanno, jadi dia tidak mengetahui jika Vanno berjalan mendekatinya.
"Kenalkan, gue Vanno, suami sahnya Retta"
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Jangan lupa kasih dukungan ya, like, vote dan komen 🤗🤗
Biar tambah semangat up agar cepat end
Cerita baru sudah menunggu 😉😉