Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 85


memandang wajah Vanno. Dia mengamati laki-laki yang ada di depannya, laki-laki yang sudah berhasil menempati seluruh ruang di hatinya. Laki-laki yang sudah membuatnya sangat bahagia dengan kehamilannya saat ini.


Retta menelan ludahnya dengan kasar sebelum menjawab. Dia menatap wajah suaminya sambil mengulurkan tangannya untuk menyentuh tangan Vanno.


"Aku menginginkanmu Mas, saat ini" kata Retta sambil menggigiti bibir bawahnya. Dia sendiri juga merasa heran kenapa keinginannya saat ini sangatlah besar.


"Hhaaahh?!" Vanno langsung menoleh sekilas memandang wajah Retta. "Yang benar saja, ini masih di jalan. Lagipula, kata dokter Yudith kita harus bisa menahannya sebisa mungkin, masih rentan" kata Vanno.


Retta yang mendengarnya langsung memalingkan wajahnya. Entah kenapa air matanya tiba-tiba jatuh membasahi pipi. Vanno yang melihatnya segera menepikan mobilnya di dekat minimarket yang buka dua puluh empat jam, sehingga cahaya lampu dari tempat tersebut sedikit bisa masuk ke dalam mobilnya.


Vanno segera melepas seatbeltnya dan menarik Retta ke dalam pelukannya. Dia mengusap punggung Retta dengan lembut.


"Bukannya aku tidak mau Ta, aku bahkan sangat menginginkannya," kata Vanno dengan lembut. Hembusan napasnya bahkan bisa dirasakan Retta menerpa tengkuknya. 


Hal itu justru malah membuat keinginan Retta semakin besar. Retta mengeratkan pelukannya semakin erat. Dia mendongakkan kepalanya hingga hidungnya berada pada ceruk leher Vanno. 


Retta semakin menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Vanno, dia mengecup bahkan meninggalkan stempel pada leher Vanno. Tangannya semakin turun hingga sampai pada resleting celana pendek Vanno. Tangannya langsung beraksi di sana.


"Ssshhhhhh Taaa, jangan nakal" kata Vanno sambil menahan keinginannya yang juga semakin meningkat karena ulah Retta.


"Aku mau sekarang Mas, di sini" kata Retta sambil terus melancarkan aksinya.


Vanno semakin menggeram menahan hasratnya karena ulah tangan Retta yang sudah kemana-mana. Dia segera menahan tangan Retta yang sudah mulai nakal. Sambil menahan geraman Vanno melepaskan tangan Retta. Retta merengut sambil menatap Vanno tajam. Dia benar-benar kesal saat ini.


Vanno yang melihatnya menjadi semakin gemas. Dia menarik wajah Retta dan memberikan kecupan singkat pada bibirnya. "Kita pulang, aku tidak mau melakukannya di sini, berbahaya" kata Vanno sambil memasang seatbeltnya lagi.


Vanno segera mengendarai mobilnya menuju rumah. Dia langsung memasukkan kendaraannya di garasi samping. Retta berjalan keluar mobil mendahului Vanno menuju kamarnya sambil menenteng sempol yang dibelinya.


Vanno segera mengikuti Retta setelah mengunci semua pintu dan mematikan lampu ruang tengah. Dia juga mengambil sebotol air minum di dapur sebelum menuju kamarnya.


Begitu sampai di depan pintu kamar, Vanno segera membukanya dan kemudian menguncinya. Ketika berbalik, Vanno benar-benar terkejut karena Retta langsung menyerangnya. Vanno langsung membawa Retta menuju tempat tidur. Akan sangat berbahaya jika dia sampai jatuh. 


Karena sudah sama-sama tidak bisa menahan keinginannya, akhirnya Vanno ikut terbawa alur yang dimainkan Retta.


Retta mengerutkan dahi sambil mengerucutkan bibirnya tanda tidak suka. "Apa itu, tidak akan ada rasanya" gerutu Retta.


Vanno hanya bisa menggeram mendengar kemauan istrinya. Bagaimana mungkin aku bisa menyerangnya seperti biasanya jika ada janin yang harus dijaga, batin Vanno. Namun, dia hanya mengangguk untuk membuat Retta tenang.


Vanno merebahkan tubuhnya setelah pertempurannya bersama Retta. Dia cukup lelah karena fokusnya terpecah kali ini. Vanno melirik Retta yang tersenyum bahagia di sampingnya.


"Senang?" tanya Vanno sambil menyelipkan anak rambut yang menyebar di pipi Retta.


Retta mengangguk. "Iya," jawabnya sambil melingkarkan tangannya pada tubuh Vanno yang polos. Mendapat perlakuan Retta, Vanno bergidik. Dia merasakan selang alaminya mulai turn on lagi ketika squishy polos Retta menempel dengan sempurna pada dadanya. Menyadari ada yang berubah Retta tersenyum sambil mengusap pipi Vanno.


"Masih belum capek kan Mas, bagaimana jika nambah lagi?"


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Apa-apaan itu si Retta, bener-bener ketularan gesreknya Vanno 🤦🤦


Mohon dukungannya ya, jangan lupa like, vote dan komen


Biar tambah semangat upnya, tinggal beberapa part lagi end