Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Sayang?


"Lalu, apa kamu sudah punya pacar?" Tanya Gitta tiba-tiba. Entah mengapa mulutnya lemes banget sehingga mencetuskan pertanyaan yang tidak disadarinya.


Namun setelahnya, Gitta sadar telah keceplosan mengajukan pertanyaan itu. Gitta segera menutup mulutnya dan berbalik menghadap jendela. Dia merutuki kecerobohan mulutnya sendiri.


Ken mendengar dengan jelas pertanyaan yang diajukan oleh Gitta. Namun, dia lebih memilih tidak menjawabnya. Dia fokus terhadap jalanan yang ada di depannya. Setelah itu, tidak ada lagi percakapan yang terjadi di antara mereka.


Hingga sekitar tiga puluh menit kemudian, mereka sudah mulai memasuki kawasan bumi perkemahan. Gitta yang sedari tadi memainkan ponselnya segera menyimpan kembali ponselnya ke dalam tas. Dia juga merapatkan jaket yang memang sedari berangkat tadi tidak dilepasnya, hanya saat berwudhu tadi dia melepaskan jaketnya. 


Ken membawa mobilnya menuju area parkir yang ada di sana. Sudah banyak mobil terparkir disana, mengingat saat ini sudah pukul 22.10 malam. Ken memarkirkan mobilnya di tempat yang tersedia.


Gitta dan Ken segera turun dari mobil. Mereka mengedarkan pandangan pada tempat tersebut. Sudah banyak tenda yang dipasang dengan rapi di sana. Gitta segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang.


Setelah beberapa saat menunggu, seorang laki-laki menghampiri mereka. Dia adalah pak Toni, petugas yang berjaga di sana. Pak Toni ini juga yang menyiapkan tenda untuk Gitta dan kawan-kawan. Gitta memesan dua buah tenda untuk menginap. Rencana awalnya, dia akan tidur bersama dengan Naura dalam satu tenda. Sedangkan Ega akan tidur di tenda satunya. Namun, kenyataan sudah tidak sesuai dengan harapan. Ya, begitulah. Manusia hanya bisa merencanakan tapi tetap Tuhan yang memutuskan.


Gitta dan Ken berjalan menuju tenda yang sudah disiapkan untuk mereka. Masing-masing dari mereka akan menempati satu tenda. Tenda mereka berada pada tempat yang agak atas karena mereka tidak bersama rombongan. Bagian bawah dari lokasi tersebut, ditempati oleh tenda-tenda milik beberapa kelompok pecinta alam.


Gitta mengekori pak Toni dan Ken yang berjalan di depan. Penerangan tempat itu lumayan bagus. Untuk toilet umum juga disediakan disana. Gitta melihat sekeliling yang masih banyak beberapa orang terlihat mengelilingi api unggun sambil memainkan gitar dan bernyanyi.


Gitta dan Ken masih terus berjalan karena lokasi tenda mereka memang agak jauh. Letaknya di bagian atas sebelah kiri dari pos penjaga. Namun, karena lokasinya berada di bagian atas, jadi mereka harus berjalan memutar. 


Pak Toni menjelaskan beberapa hal yang biasa dilakukan saat melakukan prewedding. Beliau juga menunjukkan beberapa spot yang bagus dan sering digunakan oleh para calon pengantin saat melakukan foto prewedding di sana.


Beberapa waktu yang lalu memang Ega yang tengah melakukan survey lokasi disini. Ken sendiri tidak ikut karena saat itu dia tengah berada di Singapura. Ken mengangguk mengiyakan mendengar penjelasan pak Toni.


Akhirnya, mereka sudah sampai di depan tenda yang mereka pesan. Tenda yang lumayan besar itu berdiri berdekatan. Sebenarnya, tidak hanya ada tenda mereka berdua di bagian atas lokasi tersebut. Ada sekitar delapan tenda di sana. Namun, karena mereka bukan berasal dari kelompok yang sama, mereka lebih memilih untuk menjaga jarak saat mendirikan tenda. Mereka benar-benar menginginkan privasi di sana.


Gitta segera membuka tenda miliknya dan segera meletakkan tasnya di dalam. Dia juga segera membuka ponselnya untuk menghubungi kliennya dan memberikan kabar jika semua perlengkapannya sudah siap. Ken yang melihat Gitta sudah berada di dalam tendanya juga segera membuka tendanya. Dia duduk dan menyelonjorkan kakinya pada tikar yang ada di depan tenda sambil memainkan ponselnya. Beruntung di lokasi tersebut jaringan telepon sangat baik. Sehingga dia bisa mengecheck beberapa pekerjaan yang ditinggalkannya.


Beberapa saat kemudian, Gitta tiba-tiba keluar sambil membawa bungkus nasi yang dibawanya dari warung lesehan mas Budi. Dia menyerahkan makanan itu kepada Ken.


"Aku tidak lapar." Kata Ken.


"Lalu ini, kenapa dibeli jika tidak dimakan, sayang." Kata Gitta.


Ken terkejut saat Gitta mengatakannya. Dia segera menoleh menatap Gitta sambil mengernyitkan dahinya.


"Sayang?" Tanya Ken.


Gitta yang tersadar akan kecerobohan mulutnya gelagapan. Dia segera menggelengkan kepala dan menggoyangkan tangannya.


"Bu-bukan itu maksudku tadi. Sayang jika makanannya tidak dimakan, mubazir kan." Jawab Gitta.


Ken mengangguk mengerti. Dia kembali fokus pada ponselnya. Ken mengirim sebuah pesan singkat kepada sang mommy jika dia sudah sampai di Bandung dengan selamat.


Sementara di rumah Retta, dia tengah berada di dapur untuk membuatkan jus jeruk kesukaan sang suami, Vanno. Retta masih belum mengetahui sang putra memberinya kabar jika dia sudah sampai di Bandung.


Retta membawa jus jeruk yang sudah jadi kembali ke dalam kamar. Begitu masuk ke dalam kamar, dilihatnya sang suami baru selesai membersihkan diri. Namun, dia masih mondar mandir di dalam kamar hanya dengan menggunakan handuk yang dililitkan di pinggangnya. Vanno masih menelepon Tora untuk mengerjakan proyek baru di Bali.


Retta yang kesal dengan sikap sang suami langsung menggerutu tidak jelas. Vanno yang melihat istrinya pasti akan sangat marah jika dia berkeliaran di dalam kamar setelah mandi segera menyudahi teleponnya. Vanno berbalik menghadap Retta sambil meletakkan ponselnya di atas nakas. 


"Sudah berapa kali sih Mas dibilangi, jangan mondar mandir di dalam kamar sehabis mandi seperti ini. Lihat itu lantainya jadi basah kemana-mana. Teles Mas lantaine, teles." Gerutu Retta.


Vanno yang sudah sangat hafal dengan kelakuan istrinya hanya bisa merajuk sambil memeluk Retta dari samping.


"Maaf sayang, tadi buru-buru angkat telepon. Ada hal penting yang harus disampaikan oleh Tora. Jangan ngambek ih," kata Vanno sambil menoel hidung Retta.


"Sudah ih lepas. Sana ganti baju." Kata Retta sambil melepas pelukan Vanno.


"Nggak mau, gantiin." Kata Vanno masih dengan mode manja.


"Aduuhh Mas, nggak usah mulai deh. Nggak usah di imut-imutin gitu ih, manja banget. Ndah usah ngalem Mas." 


"Biarin, dari pada di ****-****. Lagian, manja sama istri sendiri ini." Jawab Vanno sambil melepas pelukannya dan berjalan menuju walk in closet. Retta mendengus kesal mendengar perkataan Vanno.


Setelah Vanno beranjak pergi, Retta segera mengambil ponselnya untuk memeriksa pekerjaannya. Namun, dia melihat ada notif dari Ken. Setelah itu, Retta segera melakukan video call kepada Ken untuk memastikan keadaan putra dan karyawannya.


Vanno yang telah selesai mengganti baju segera berjalan menuju nakas untuk mengambil jus jeruknya sambil menunggu sang istri melakukan video call dengan sang putra.


Vanno berniat menjahili sang istri saat melakukan panggilan video. Dia berjalan mendekati Retta yang saat itu sudah memakai baju tidur kesukaannya. Baju tidur dengan tali kecil yang berada di bahu Retta dan bagian depan sangat rendah.


Baju tidur itu mengekspos leher, bahu dan lengan Retta yang putih, bersih dan menggoda. Vanno mendekati Retta dari belakang dan mendekatkan hidungnya pada tengkuk Retta. Saat ini Retta memang menggelung asal rambutnya ke atas, sehingga memperlihatkan leher jenjangnya.


Vanno menggerakkan hidungnya menyusuri leher dan bahu sang istri dengan gerakan menggoda. Vanno sangat tahu jika leher merupakan titik sensitif Retta. Dia ingin mengerjai sang istri saat itu. Hidung Vanno bergerak kesana kemari menyusuri tengkuk, leher samping, bahu hingga lengan Retta. Tak berhenti disana, tangan Vanno juga sudah bergerilya menjelajahi lahan gersang yang sudah mulai teraliri air irigasi.


Retta yang mendapat serangan dari Vanno hanya bisa menahan geramannya. Sementara Ken yang sempat melihat tingkah orang tuanya hanya bisa mendengus kesal sambil memutuskan panggilan video sang mommy. Retta segera meletakkan ponselnya di atas nakas dan berbalik menghadap Vanno.


"Apa-apaan sih Mas, aku sedang menelepon Ken." Kata Retta dengan wajah menahan sesuatu.


Vanno yang tahu sang istri sudah sangat tergoda hanya bisa tersenyum.


"Biarin, biar dia juga cepat menikah, biar bisa merasakan bercocok tanam malam-malam." Jawab Vanno.


Retta mencubit pinggang Vanno dengan keras. 


"Aaauuuwww, sakit sayang. Selalu saja KDRT ih," gerutu Vanno sambil mengusap bekas cubitan sang istri.


"Biarin, emang ya itu mulut tidak ada saringannya." Kata Retta. "Lagian, siapa juga yang percaya kamu hanya bercocok tanam setiap malam." Gerutu Retta.


"Hehehehe, biarin." Jawab Vanno sambil nyengir. "Kalau aku sih pagi, siang, sore, malam gaskeun saja lah. " Lanjur Vanno.


Retta yang sudah kesal karena sering mendengar tingkah absurd suaminya pun langsung mendaratkan cubitan pada sang suami. Namun, kali ini cubitan yang diberikan Retta bukan malah membuat Vanno kesakitan tapi malah membuat Vanno…. Ah, sudahlah.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Masih siang euy, 🤗🤗


Masih mau lanjut?