Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Masih Soft Opening?


Malam itu, setelah makan malam Ken dan Gitta segera pamit pulang. Mereka memutuskan untuk beristirahat di rumah. Begitu sampai di rumah, Ken dan Gitta langsung membersihkan diri dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Tubuh mereka terasa sangat lelah dan capek sekali.


Gitta meletakkan kepalanya pada lengan kanan Ken sebagai bantal dan melingkarkan tangan kanannya pada perut sang suami. Ken mengusap-usap lengan kanan Gita sambil sesekali memberikan kecupan singkat pada kening Gitta yang berada sangat dekat dengan bibirnya.


Kedua mata mereka terpejam, namun belum tidur sepenuhnya. Hujan deras di luar sudah mulai sejak mereka memutuskan untuk pulang dari rumah mommy.


"Mas, sudah tidur?" Tanya Gitta sambil menggerakkan tangan kanannya di atas perut Ken untuk membuat pola abstrak di sana.


"Belum." Jawab Ken singkat.


"Boleh tanya?"


"Hhhmmm."


"Eehhmm, apakah dulu mas Ken sudah pernah suka atau naksir dengan perempuan?" Tanya Gitta.


Ken membuka matanya sebentar, kemudian menutupnya lagi. Tangannya masih tetap mengusap-usap punggung tangan Gitta yang tengah bergerak di atas perutnya.


"Eehhmm, sepertinya pernah." Jawab Ken.


Seketika Gitta membuka matanya dan mengangkat kepalanya untuk menatap wajah Ken. Keningnya berkerut dengan dada sedikit bergetar. 


"Sama siapa?" Tanya Gitta sedikit takut. Hatinya mendadak cemas. Namun, dia berusaha untuk menyadari jika itu masa lalu suaminya. Dia berharap, jika dia akan selalu menjadi masa depan sang suami.


Ken membuka matanya dan menatap balik Gitta. Ken bisa melihat sorot mata khawatir pada netra Gitta. Namun, dia berusaha untuk tersenyum agar kekhawatiran sang istri bisa segera sirna.


"Dulu, dia adalah seniorku di kampus waktu kuliah di Singapura. Dia orang Korea. Lumayan cantik dan baik. Kami sering mengadakan diskusi, bersama dengan beberapa teman kami tentunya. Dia lumayan humoris dan sangat menghargai kami yang muslim." Ken menjeda perkataannya sebentar untuk melihat wajah Gitta sebelum melanjutkan kembali.


"Kami lumayan dekat. Beberapa kali, kami bahkan pernah bekerja sama untuk proyek freelance. Jika pertanyaan yang kamu maksud adalah apakah aku naksir dia jawabannya mungkin iya. Namun, hanya sebatas naksir, bukan cinta." Lanjut Ken.


Gitta terlihat menggigiti bibir bawahnya. Entah mengapa masih ada yang mengganjal dihatinya.


"Lalu, apakah sekarang masih?" Tanya Gitta dengan napas sedikit tercekat.


Ken tersenyum saat mendengar pertanyaan Gitta. Dia tahu jika istrinya itu tengah khawatir. Dibawanya wajah Gitta mendekat ke wajah Ken dan dibenamkan bibirnya pada bibir Gitta yang sedikit terbuka.


Gitta sedikit melupakan kekhawatirannya saat mendapati perlakuan suaminya yang lembut. Gitta sedikit kehabisan napas sebelum akhirnya dia berhasil mendorong bahu sang suami. Ken terkekeh geli melihat istrinya yang ngos-ngosan.


"Mas Ken ih."


"Hehehehe maaf sayang, habis gemes." Kata Ken sambil mencubit pipi Gitta.


Gitta menggembungkan pipinya karena kesal. "Kok nggak dijawab sih?" Kata Gitta.


Ken terkekeh geli sebelum menjawab pertanyaan Gitta. "Jawabannya adalah enggak. Aku sudah melupakannya saat dia lulus dan kembali ke negaranya. Kami lost contact setelah itu hingga sekarang. Ya, meski pernah saling menyapa di sosmed sih, just say hello." Kata Ken menjelaskan.


Gitta merasa lega setelah mendengar jawaban sang suami. Rasa gemuruh yang sempat muncul di hatinya perlahan mulai menghilang tergantikan dengan rasa hangat yang mulai menjalar disana. Gitta kembali melingkarkan tangannya pada perut Ken dan memeluknya posesif.


Ken tersenyum bahagia mendapati perlakuan sang istri. Dia memberikan beberapa kecupan di pucuk kepalanya.


"Lalu, apa kamu sudah pernah pacaran sebelumnya?" Kali ini giliran Ken yang bertanya.


Gitta mengerjab-ngerjabkan mata dan mendongak menatap wajah Ken, kemudian menggeleng.


"Aku belum pernah pacaran Mas. Kamu tahu sendiri kehidupanku seperti apa sebelum menikah. Jangankan pacaran, waktu untuk menyenangkan diri sendiri saja sangat sulit. Aku harus memikirkan bagaimana cara bertahan hidup dengan uang hasil penjualan mobil warisan dari almarhumah ibu angkatku. Aku juga harus memikirkan biaya kuliah saat itu." Kata Gitta.


Ken ikut tersenyum saat melihat sang istri tersenyum. Dia merasa bahagia melihatnya.


"Tentu saja kamu harus bersyukur memiliki suami seorang Ken Alexander. Sudah orangnya tampan paripurna juga sangat memuaskan di atas ranjang. Bisa buat kamu teriak aaaahhh iyaaa aduuhhh ho oh iyaahhh maasshhh aahhh teruss aduuhhh." Kata Ken sambil mempraktekkan tingkah Gitta saat bertanding dengannya di atas tempat tidur.


Gitta, jangan ditanya seberapa malunya. Dia sendiri sampai heran kenapa dia bisa terus berteriak dan meracau tak karuan saat mendapati perlakuan Ken pada dirinya. Gitta segera menutup wajah Ken yang sedikit mengejeknya dengan tangan kanannya. Dia benar-benar malu.


Ken hanya tertawa lebar saat mendapati sang istri tengah malu. Dia segera menarik wajah Gitta dan membenamkan bibirnya pada bibir Gitta. Awalnya sangat lembut, namun lama kelamaan semakin menuntut. Tangan Ken juga sudah bergerilnya menelusup ke dalam baju tidur Gitta. Tangan Ken langsung beraksi di dalam sana hingga membuat si empunya langsung membeliak.


"Mas, kamu tuman ih."


Ken tidak menjawab gerutuan Gitta. Dia semakin melancarkan aksinya.


"Aku jadi paham mengapa daddy selalu merajuk untuk tidur dengan mommy. Ternyata ini sangat mengasyikkan." Kata Ken sambil melakukan seperti apa yang reader bayangkan. 🙄


Gitta tak berhenti bergerak sambil mulutnya masih terus meracau. Hingga Ken lun sudah tidak tahan untuk melakukan apa yang diinginkannya. Cukup lama mereka gelut di atas ring king size itu hingga benar-benar membuat tempat tidur itu rusuh sekali.


Gitta dan Ken ambruk dengan napas tersengal-sengal. Mereka masih mengatur napas untuk meraup oksigen sebanyak-banyaknya. Setelah cukup bisa mengatur napasnya, mereka langsung menarik selimut dan tertidur dengan lelap. Rasa lelah dan kantuk berhasil membawa mereka cepat terlelap.


Suara adzan subuh berhasil membangunkan Gitta dari tidurnya. Dia segera membuka mata dan menyadari ada tangan yang nangkring dengan sempurna pada balon tiupnya. Siapa lagi jika bukan sang suami. Gitta berusaha untuk memindahkan tangan Ken dari tubuhnya. Namun, bukannya berpindah, Ken justru malah semakin mengeratkan cengkramannya pada balon tiup Gitta. Gitta hanya bisa menghembuskan napasnya mendapati perlakuan sang suami.


Gitta yang merasakan sesuatu pada bagian bawah tubuhnya segera memindahkan tangan Ken hingga terlepas. Dia segera beranjak berdiri sambil meraih selimut agar menutupi tubuh polosnya. Gitta menoleh menatap tempat tidurnya dan sedikit terbeliak mendapati ada sedikit bercak merah baru di sana. Gitta menghembuskan napas dan segera berjalan menuju kamar mandi.


Setelah membersihkan diri, Gitta segera membangunkan sang suami untuk segera membersihkan diri dan melaksanakan sholat subuh. Ken berjalan dengan gontai menuju kamar mandi. Sementara Gitta segera mengganti seprei tidurnya dengan yang baru.


Begitu Ken keluar dari kamar mandi, dia terlihat heran saat melihat Gitta hendak membawa seprei kotor keluar kamar.


"Lhoh, nggak sholat subuh bareng nih?" Tanya Ken.


"Aku halangan Mas, datang bulan." Jawab Gitta.


"Hhaaaahhh?!" Ken begitu terkejut mendengarnya. Bagaimana bisa dia harus berpuasa lagi setelah baru saja menikmati buka puasanya. "Berapa lama?" Tanya Ken.


"Sekitar satu minggu sih, tergantung Mas." Jawab Gitta sambil melangkahkan kaki keluar kamar setelah menyiapkan peralatan sholat untuk suaminya.


Ken menghembuskan napas berat. Dia melirik ke arah bagian bawah tubuhnya.


"Sabar-sabarlah dulu. Anggap kemarin masih soft opening." Kata Ken.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Masih adakah yang menunggu?


Jangan lupa dukungannya di tahun baru ini ya 🤗