
Pagi itu, Ken dan Gitta telah bersiap-siap. Begitu juga dengan mommy, daddy dan baby Z. Mereka semua akan ikut pergi ke rumah sakit. Al sudah menjadwalkan pemeriksaan Gitta dan orang tuanya jam sepuluh pagi.
Setelah sarapan, mereka segera berangkat ke rumah sakit. Ken yang mengemudi pagi itu, dengan sang daddy berada di sampingnya. Sementara Gitta berada di belakang bersama mommy dan baby Z yang tengah meminum susu formulanya.
Mommy yang melihat Gitta masih tegang berusaha menenangkannya sambil mengusap-usap bahunya.
"Sayang, jangan tegang ya. Berdoa saja semuanya akan berjalan dengan lancar dan hasilnya benar-benar sesuai dengan keinginan kita." Kata mommy berusaha menenangkan Gitta.
Gitta yang tengah memangku baby Z menoleh menatap mommy. Dia mengangguk sambil tersenyum.
"Iya, Mom. Aku akan berusaha untuk tenang. Aku pasrahkan semuanya kepada Allah. Apapun hasilnya, aku tetap bahagia memiliki keluarga seperti mommy dan daddy." Kata Gitta dengan mata mulai berkaca-kaca.
Mommy yang melihat air mata Gitta sudah mulai menganak sungai pun segera mengusapnya.
"Sssshhhh. Jangan menangis. Mommy juga sangat bahagia kamu ada di keluarga ini. Sudah, jangan menangis lagi." Kata mommy sambil mengusap air mata Gitta.
Gitta segera mengangguk dan berusaha tersenyum menatap mommy. Setelahnya, mereka mengobrol hal-hal yang ringan. Sesekali celotehan baby Z ikut mengurangi ketegangan orang tuanya.
"Zee, sini sama papa. Nanti papa ajak naik bum bum lagi." Kata daddy sambil mengulurkan tangannya.
Mereka masih dalam perjalanan. Letak rumah sakit daddy memang tidak terlalu jauh. Namun karena terjebak macet, waktu yang mereka perlukan menjadi sedikit lebih lama.
"Pa..paa...paa… tut.. aik..bum.. bumm." Celoteh baby Z sambil mengulurkan tangannya kepada daddy Vanno.
Gitta segera menyerahkan baby Z kepada sang mertua. Sementara mommy langsung merengut tajam menatap wajah para lelaki yang tengah duduk di depannya. Ken yang menyadari tatapan mematikan sang mommy pun langsung menoleh sekilas.
"Ada apa sih, Mom?" Tanya Ken.
"Ada apa, ada apa. Kalian ini para lelaki jangan main asal ngajarin Zee yang tidak-tidak ya." Kata mommy.
"Lhah, ngajarin yang tidak-tidak seperti apa sih, Mom. Mana ada kami ngajarin yang tidak-tidak." Kata Ken.
"Itu tadi apa. Daddy kamu mau ngajarin main motor sejak kecil. Awas saja jika nanti besar Zee jadi suka yang aneh-aneh." Kata mommy.
"Ya wajar kali, Mom. Anak cowok mainannya ya motor, mobil. Masa iya mainnya boneka." Elak Ken.
"Kamu itu selalu saja menjawab jika mommy ngomong. Siapa yang ngajarin, hah?" Geram mommy sambil menjewer telinga Ken sekilas. Mommy segera melepaskan tangannya begitu mobil yang dikendarai Ken mulai berjalan.
"Auuwww sakit, Mom. Selalu aku yang jadi sasaran." Gerutu Ken.
Sementara daddy yang tengah asyik bermain dengan baby Z langsung menoleh menatap Ken.
"Kamu enak jadi sasaran mommy kamu hanya sebentar. Lha daddy? Hampir setiap malam jadi sasaran cakaran mommy kamu. Jika kamu lihat punggung daddy, sudah seperti motif harimau di kebun binatang itu, blang blonteng. Makanya daddy nggak pernah mau lepas kaos saat berenang." Ucap daddy.
Ken menoleh menatap wajah sang daddy sekilas. Mulutnya terlihat membulat.
"Lhah, daddy sih enak di punggung, nggak kelihatan. Lah aku? Bisa botak dadakan, Dad. Hampir setiap malam di jambak i terus sama Gitta." Kata Ken memelas.
Baik mommy dan Gitta yang berada di belakang saling pandang. Mereka geram dengan tingkah para lelaki di depannya itu. Kecuali Zee ya, dia kan gemoy seperti ini.
"Ya sudah, ya sudah. Mulai nanti malam tidak ada akan ada acara cakar-cakaran dan jambak-jambakan lagi. Prei wis (libur dah). Kami, para wanita tidak akan membuka tiket untuk pembukaan pabrik." Kata mommy.
"Jangaaannn!" Teriak daddy dan Ken bersamaan dengan keras.
Baby Z yang mendengar teriakan daddy dan Ken langsung menangis kejer. Dia kaget dengan teriakan bar-bar kakek dan ayahnya.
Gitta langsung mengambil alih baby Z dan berusaha menenangkannya. Sisa perjalanan ke rumah sakit disibukkan dengan menenangkan baby Z.
Sekitar lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai Ken sudah sampai di tempat parkir rumah sakit. Ken segera memarkirkan mobilnya. Setelahnya, mereka semua segera turun dan langsung menuju tempat pemeriksaan. Gitta terlihat cukup tegang.
Tak berapa lama kemudian, mereka sudah sampai di ruang tunggu tempat pemeriksaan. Pak Abi dan bu Risma juga sudah ada di sana. Mereka saling sapa dan sama-sama berdoa agar hasil tesnya sesuai dengan apa yang diharapkan.
Tak berapa lama kemudian, Gitta dan pak Abi dipanggil untuk melakukan pemeriksaan. Sementara keluarga yang lainnya menunggu di luar.
Al dan Khanza tidak ikut ke rumah sakit hari itu karena mereka harus ke kampus. Mereka berjanji akan segera datang jika sudah selesai.
Tak berapa lama kemudian, Gitta dan pak Abi sudah selesai. Mereka segera keluar dan bergabung dengan keluarga yang lainnya.
"Hasilnya akan keluar tiga hari lagi, pak Abi." Kata daddy Vanno. Daddy Vanno sudah mengetahui hal itu dari para petugas yang akan melakukan pemeriksaan.
"Benar, pak Vanno. Tadi dokter juga sudah memberitahu kami. Sekarang yang bisa kita lakukan hanya berdoa untuk hasil yang terbaik." Kata pak Abi.
"Aamiin. Semoga hasilnya sesuai dengan apa yang kita harapkan." Kata daddy.
Setelahnya, mereka memutuskan untuk makan siang bersama. Pak Abi dan bu Risma banyak menceritakan masa kecil putrinya dulu. Mereka berharap jika putrinya itu benar-benar Gitta.
Tiga hari berlalu, mereka kini sudah kembali berada di rumah sakit. Gitta yang sejak tadi hanya menempel pada Ken berusaha untuk menenangkan diri. Sementara baby Z sudah di bawa Khanza untuk bermain di taman yang berada di rumah sakit tersebut.
Kali ini, dokter Yudith sendiri yang membawakan hasil pemeriksaan tersebut. Dokter Yudith sudah menggandakan hasil pemeriksaan tersebut menjadi tiga agar mereka bisa melihat secara bersamaan. Dokter Yudith berjalan menemui keluarga Gitta yang tengah duduk melingkar pada sofa set yang ada di ruangan tersebut.
Pak Abi dan bu Risma duduk di sofa sebelah barat menghadap timur, Ken dan Gitta duduk di sofa sebelah utara menghadap selatan. Sedangkan mommy dan daddy duduk di sofa bagian timur berhadap-hadapan dengan pak Abi dan bu Risma.
"Saya sudah menggandakan hasil tes kemarin. Saya harap, apapun hasilnya kalian harus berlapang dada untuk menerimanya." Kata dokter Yudith sambil menyerahkan ketiga amplop yang masih tersegel tersebut masing-masing kepada pak Abi, Ken dan daddy Vanno.
Mereka bertiga sama-sama saling pandang dan mengangguk bersamaan untuk membuka amplop tersebut.
Satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tuj...
Belum genap sampai tujuh dokter Yudith menghitung dalam hati, bi Risma sudah berteriak sambil beranjak memeluk Gitta sambil menangis. Tak lama kemudian diikuti oleh pak Abi yang juga langsung memeluk bu Risma dan Gitta bersamaan.
Ken beringsut berpindah tempat untuk memberikan kesempatan kepada orang tua dan anak yang baru bertemu kembali tersebut setelah sekian tahun lamanya terpisah. Ya, hasil pemeriksaan kemarin benar-benar membuktikan jika Gitta adalah putri kandung pak Abi dan bu Risma.
"Paaa, huhuhuhu, putri kita, Pa. Huhuhuhu." Kata bu Risma sambil menangis sesenggukan.
"Iya, Ma. Alhamdulillah putri kita masih hidup. Huhuhu." Pak Abi tak kalah emosionalnya.
"Paa… Maa… Hiks hiks hiks." Gitta bahkan tidak bisa berkata apa-apa lagi. Dia masih menangis tersedu-sedu di pelukan kedua orang tua kandungnya.
Mommy yang menyaksikan hal itu pun tak kuasa menahan tangis harunya. Dia bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan oleh orang-orang yang ada di depannya itu. Daddy langsung memeluk mommy sambil mengusap-usap punggungnya.
Cukup lama mereka saling berbagi kebahagiaan. Mereka bahkan saling melepaskan kerinduan selama hampir dua jam di ruangan tersebut.
"Lalu, bagaimana selanjutnya rencana kalian?" Tanya daddy Vanno kepada Ken.
Ken dan Gitta saling pandang. Mereka tahu maksud pertanyaan daddy. Gitta menoleh menatap wajah kedua orang tuanya dan wajah sang suami bergantian. Kalau boleh jujur, Gitta sangat ingin tinggal bersama kedua orang tuanya. Setelah sekian tahun mereka terpisah, Gitta benar-benar ingin menebus waktu-waktu itu.
Ken yang mengetahui keinginan sang istri langsung menggenggam tangan Gitta untuk meyakinkan keputusannya. Dia akan mendukung apapun keputusan Gitta.
"Ehm, sebenarnya aku ingin tinggal dengan papa dan mama. Tapi, aku sudah berkeluarga, Pa, Ma. Aku sudah memiliki suami dan anak sekarang. Aku tidak bisa memutuskan semuanya sendiri." Kata Gitta sambil menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya.
Pak Abi dan bu Risma yang melihat hal itu merasa tidak tega. Bu Risma langsung memeluk Gitta dan mengusap-usap punggungnya untuk menenangkannya.
"Sudah, sudah. Untuk tempat tinggal jangan dipikirkan. Papa sudah punya solusinya." Kata pak Abi.
Seketika semua orang menoleh menatap wajah pak Abi yang kali ini sudah terlihat lebih tenang.
"Apa maksudnya, Pa?" Kali ini Ken yang bertanya. Dia harus membiasakan memanggil pak Abi dan bu Risma dengan sebutan papa dan mama.
"Saya sudah membeli sebuah rumah di komplek perumahan kalian. Rumah itu hanya berjarak dua rumah dari rumah kalian." Kata pak Abi sambil tersenyum menatap Ken dan Gitta bersamaan.
"Benarkah?!" Gitta benar-benar bahagia mendengarnya.
"Iya. Sejak kedatangan kalian ke rumah waktu itu, papa kamu langsung mencari rumah di sana. Feeling kami memang kamu adalah anak kandung kami. Jadi, papa kamu langsung bergerak cepat saat itu." Kata mama kepada Gitta.
Betapa bahagianya Gitta dan Ken saat itu. Kini, semua ucapan syukur tak henti-hentinya keluar dari lisan semua yang ada di sana. Mereka sangat bahagia mendapat kebahagiaan yang tak terkira tersebut.
End
.
.
.
.
.
\=\=\=\=\=
Alhamdulillah cerita ini benar-benar end.
Terima kasih untuk para pembaca yang sudah setia menemani othor sampai sini.
Othor mohon maaf jika ada salah, cerita ini hanya bentuk halunya othor. Othor juga minta maaf jika ceritanya tidak sesuai dengan angan-angan para reader semua.
Untuk cerita Khanza dan Al nanti akan ada cerita baru terpisah dari cerita ini
Jangan di unfavourite dulu ya, akan ada informasi lain di sini.
Sambil menunggu up cerita terbaru, bisa mampir di cerita othor yang lain.