
Sore itu, Gitta terlihat keluar dari butiknya. Dia tengah berjalan menuju mobilnya saat sebuah suara memanggil namanya. Seketika Gitta menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sumber suara. Keningnya berkerut saat melihat siapa yang datang.
"Ada apa? Ada urusan apa kamu datang kemari?" tanya Gitta. Ekspresi wajahnya terlihat datar saat menatap ke arah orang tersebut.
"Git, gue minta tolong dong. Tolong carikan pekerjaan buat gue."
"Ccckkk, masih bisa ya lo minta tolong untuk dicarikan pekerjaan. Memangnya kedua orang tua lo kemana? Memangnya harta yang dulu kalian ambil sudah habis?!"
"Ccckkk, lo masih saja mengingat masa lalu. Itu kan sudah berlalu, harusnya lo buang masa lalu dan memulai hidup baru saat ini, bukannya masih di ingat terus," gerutu wanita tersebut.
Gitta mencebikkan bibirnya setelah mendengar perkataan wanita tersebut.
"Kita memang tidak bisa hidup di masa lalu. Tapi, masa lalu itu ibarat kaca spion kendaraan yang sesekali harus kita lihat agar terhindar dari bahaya saat sedang berkendara. Bagi gue, masa lalu adalah spion yang bisa dijadikan pelajaran untuk perjalanan hidup kedepannya. Dan bagi gue, lo adalah bahaya di kehidupan gue. Untuk itu, gue dan keluarga gue sebisa mungkin menghindari bahaya itu."
"Harusnya lo itu sadar, suami gue nggak menuntut banyak untuk hukuman lo. Dia bahkan mencabut beberapa tuntutan terhadap bokap lo."
"Dengar Sa, gue bilang sekali lagi, jangan mencoba untuk masuk kembali di kehidupan gue. Lo tau sendiri apa yang dapat dilakukan oleh keluarga suami gue jika mereka tahu lo masih berusaha masuk ke kehidupan gue," kata Gitta sambil beranjak pergi.
Wanita tersebut adalah Salsa, anak dari paman angkat Gitta. Dulu, Salsa dan keluarganya pernah membuat ulah dengan Gitta hingga mereka harus menerima akibat dari perbuatannya tersebut. Namun, beruntung Ken masih memberikan beberapa pekerjaan untuk keluarga paman angkat Gitta tersebut.
Salsa yang melihat kepergian Gitta hanya bisa mendengus kesal. Dia sudah yakin tidak bisa berbuat apa-apa terhadapnya. Jika Salsa berani macam-macam, bisa dipastikan hidupnya dan keluarganya akan terkena imbasnya.
Menjelang petang, Gitta baru sampai di rumah. Hari itu, dia benar-benar sangat sibuk di butik. Kini, butik Mommy Retta sudah berpindah kepengurusan. Gitta sekarang memegang butik yang berada di Jakarta dan Bandung. Sementara mommy Retta, memegang butik yang berada di Yogyakarta, Surabaya, dan tentu saja butik yang berada di Spanyol dan Dubai.
Gitta melihat mobil Ken sudah terparkir di garasi. Dia juga mendengar suara celotehan sang putra dengan daddynya dari arah belakang. Gitta langsung melangkahkan kakinya ke belakang rumah.
"Assalamualaikum."
"Wayaikumcayam, Ami dah puyang?" ucap Zee dengan wajah bahagianya.
"Waahhh, Zee sayang sudah wangi nih. Siapa tadi yang memandikan?" tanya Gitta sambil menciumi pipi gembul sang putra.
"Mbak Pitli."
"Eh, Mbak Fitri ke sini?" tanya Gitta.
"Ja, cama mama."
Gitta mengangguk-anggukkan kepalanya. Mbak Fitri adalah asisten rumah tangga mommy Retta.
"Zee turun dulu, ya. Mommy mau mandi dulu," kata Gitta sambil hendal menurunkan sang putra.
"Ndak au. Au mimi cucu duyu," jawab Zee sambil langsung membuka kancing baju Gitta.
Tanpa menunggu lama, kancing-kancing baju tersebut sudah terlepas dengan sempurna hingga menunjukkan sebelah balon tiup Gitta terekspos dengan sempurna. Hap. Zee langsung melahapnya dengan rakus seolah dia sudah lama tidak merasakannya.
Ken yang melihat hal itu langsung berusaha menelan salivanya dengan susah payah.
"Yang, nanti jika sudah nggak menyusui, kamu suntik ya," kata Ken sambil tak mengalihkan pandangan dari apa yang dilakukan oleh putranya.
"Eh, suntik apa?" tanya Gitta bingung.
"Suntik agar balon tiup tetap melembung dan tidak kempes."
Hhaaa, mana ada yang seperti itu? 😱😱😱