Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 66


Retta benar-benar merasa prihatin setelah mendengar penjelasan perempuan itu.


"Aku bisa membantu kalian untuk mendapatkan pinjaman uang dan juga pekerjaan" kata Retta. "Tapi, kalian harus membantuku untuk keluar dari sini" 


Perempuan itu memandang Retta dengan tatapan berbinar. Seulas senyum terbersit dari bibirnya. 


"Benarkah?" tanya perempuan itu penuh semangat.


Retta mengangguk sambil tersenyum. Namun, senyumannya memudar ketika mengingat dia masih berada di tempat asing tersebut.


Menyadari kekhawatiran Retta, perempuan tersebut berdiri dan berjalan mendekati Retta. Dia mengulurkan tangannya kepada Retta.


"Aku Mitha," katanya memperkenalkan diri.


Retta memperhatikannya sebentar sebelum kemudian menerima uluran tangan perempuan tersebut.


"Aku Retta" balas Retta.


Mitha tersenyum sambil menoleh ke arah laki-laki yang berdiri di dekat pintu.


"Dia Kak Aris, kakakku," kata Mitha sambil menunjuk laki-laki yang sedang berdiri di dekat pintu. "Dan yang satunya, yang tadi pagi membawamu kemari adalah Kak Leo, kakak keduaku" lanjutnya.


Retta menoleh ke arah Aris sambil mengangguk dan tersenyum tipis. 


"Jadi, apa yang harus kita lakukan?" tanya Retta setelah Mitha melepaskan ikatan pada kaki Retta.


Mitha tampak berpikir keras. Dia berjalan ke bolak balik di depan Retta sambil tangan kirinya bersedekap sedangkan tangan kanannya menopang dagunya.


"Kita tidak bisa keluar begitu saja dari sini," kata Mitha sambil masih berjalan bolak balik di depan Retta.


"Apa suamimu bisa melacak keberadaanmu disini?" tanya Aris yang tiba-tiba ikut bersuara.


Retta menoleh ke arah Aris sebentar sebelum akhirnya bersuara. 


"Entahlah, aku tidak tahu mengenai hal itu" kata Retta. "Aku sama sekali tidak membawa benda yang bisa digunakan untuk melacak lokasi. Bahkan, ponselku pun tertinggal di rumah" lanjut Retta.


Ketika mereka masih memikirkan rencana untuk pergi dari tempat itu, pintu kamar tiba-tiba terbuka.


Seketika Retta dan Mitha panik. Bagaimana jika sang bos mengetahui rencana mereka yang hendak kabur dari tempat itu.


"Ikat tangan dan kakinya, cepat!" perintah Leo. "Aku akan menahan bos agar tidak segera naik ke sini" lanjutnya sambil berjalan keluar dengan tergesa-gesa.


Seketika Mitha dan Aris berlari mendekati Retta dan mengikat kedua kaki dan tangannya setelah sebelumnya meminta maaf. Mitha menyuruh Retta untuk pura-pura pingsan lagi yang segera dilakukan oleh Retta.


Setelah mengembalikan keadaan kamar seperti kondisi semula, Mitha dan Aris berjalan keluar ruangan. Mereka membuka pintu dan kemudian sedikit menutupnya. Retta bisa melihat dan mendengar percakapan yang ada di luar ruangan itu.


"Apa dia masih belum sadar?" tanya suara seoran laki-laki.


"Belum bos," jawab Aris. "Mungkin obat biusnya terlalu banyak bos, jadi efeknya juga lama" lanjutnya.


"Cih, kalian ini memang tidak becus!" bentaknya. "Buka pintunya!" perintah laki-laki itu.


Jantung Retta seakan ikut berperang. Gemuruhnya sampai terasa seolah-olah terdengar di telinganya. Dia merasakan keringat dingin keluar dari dahinya. Tengkuk lehernya terasa meremang. Dia merasa sangat takut.


Retta menyipitkan matanya untuk mengintip siapa sosok laki-laki yang telah merencanakan untuk menculiknya.


Suara langkah kaki berjalan mendekatinya. Suara langkah sepatu itu semakin mendekat. Retta yang meringkuk dengan posisi sedikit membelakangi pintu merasa kesulitan untuk mengetahui sosok laki-laki tersebut.


Ketika laki-laki itu sudah mendekati Retta, dia menendang kaki Retta dengan sangat keras. Hal itu langsung membuat Retta membuka mata sambil meringis kesakitan. Dia membuka mata dan menoleh ke arah laki-laki itu. Dan, betapa terkejutnya Retta ketika mengetahui laki-laki yang ada di depannya.


"Pa-pak Andi?!"


.


.


.


.


.