Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 91


Vanno merebahkan tubuhnya di samping Retta yang tengah ngos-ngosan mengatur napasnya. Retta melirik suaminya yang juga tengah mengatur napas di sampingnya.


"Mas, itu si Vj belum tidur, mau aku bantu nidurin?" tanya Retta sambil menghadapkan tubuhnya pada Vanno.


Vanno yang masih mengatur napas segera menoleh menatap Retta. "Tidak usah, kamu istirahat saja. Masih capek?" tanya Vanno.


Retta memandangi wajah suaminya dengan mata berkaca-kaca. Vanno yang melihatnya menjadi semakin bingung. Dia beringsut mendekati Retta dan menarik tubuh Retta agar berada dalam dekapannya.


"Ada apa?" tanya Vanno sambil mengusap rambut Retta dengan lembut. "Apa kau kesakitan? apa aku terlalu kasar, hmm?" tanya Vanno.


Retta hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya. Dia tidak menjawab pertanyaan Vanno, tapi malah mengeratkan pelukannya pada tubuh Vanno.


"Maaf jika aku menyusahkan mas Vanno. Maaf jika permintaanku membuat mas Vanno kesulitan," kata Retta sambil terisak di dada Vanno.


Vanno yang melihat Retta tiba-tiba menangis sesenggukan hanya bisa mengusap rambutnya dengan lembut. Selama kurang lebih dua bulan ini, dia sudah sedikit bisa memahami suasana hati Retta yang sangat cepat berubah-ubah, dari sedih menjadi senang atau sebaliknya, dari senang tiba-tiba merasa sedih.


"Hei sayang, jangan menangis," kata Vanno sambil mengangkat wajah Retta. "Jangan meminta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahanmu. Apa yang kamu alami ini karena hormon kehamilan sayang, jadi jangan pernah merasa bersalah dan sedih seperti ini," kata Vanno sambil mengusap air mata Retta yang membasahi pipinya.


Retta memandangi wajah Vanno dengan bibir yang masih menyunggingkan senyumannya. Dia bisa melihat ada kebahagiaan yang terpancar di sana. 


"Mas Vanno tidak marah?" tanya Retta sambil mengusap air matanya yang mulai menggenang di ujung matanya.


Vanno mengecup bibir Retta sekilas sebelum menjawab pertanyaannya. "Kenapa aku harus marah, justru aku sangat bahagia dan berterima kasih karena kamu sudah mau menjadi istri dan mengandung anakku. Aku bahagia, sangat bahagia sayang," kata Vanno sambil membenamkan tubuh Retta pada dadanya dan memberikan kecupan pada kepala Retta.


Retta merasakan hangat di dadanya setelah mendengar perkataan Vanno. Dia mendongak untuk menatap wajah Vanno dan memberikan kecupan singkat pada bibirnya.


"Terima kasih, I love you Daddy Vanno" kata Retta sambil tersenyum memandang wajah Vanno.


Mendengar ucapan Retta, Vanno memberikan kecupan di dahinya. "I love you more mommy Retta," kata Vanno. Tak berapa lama kemudian, mereka terlelap setelahnya.


Usia kehamilan Retta sudah memasuki dua puluh sembilan minggu. Retta dan Vanno juga sudah mengetahui jenis kelamin bayi yang tengah berada dalam kandungan Retta. Hari itu, mommy ingin mengajak Retta berbelanja kebutuhan baby. Sejak pagi, mommy sudah ribut menyiapkan pakaian yang akan Retta pakai untuk pergi belanja. Retta sudah terbiasa dengan perlakuan mommy kepadanya.


"Aku ikut ya Mom," rengek Vanno.


Mommy mendelik memandang Vanno sambil bertolak pinggang. "Bukannya kamu ada jadwal kuliah hari ini?" tanya mommy.


Vanno mencebik sambil mengangguk. "Iya, tapi aku bisa bolos kok Mom," kata Vanno.


Mendengar jawaban Vanno, mommy langsung menjewer telinga Vanno. "Enak saja kamu bilang bolos. Mau kasih contoh yang tidak baik buat cucu mommy hah!" kata mommy.


Vanno yang kesakitan hanya bisa meringis sambil berusaha melepaskan tangan mommy dari telinganya. Dia segera pergi setelah mommy melepaskan tangannya dari telinga Vanno.


Hari itu, Vanno berangkat kuliah bersamaan dengan mommy dan Retta yang juga berangkat belanja dengan diantar sopir. Retta dan mommy segera pergi menuju toko "Moms and Kids" yang menjual berbagai keperluan bayi. Mommy dan Retta terlihat menikmati acara belanjanya hari itu.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Maaf lama upnya, ini sekalian up agak banyak biar segera selesai