Mendadak Istri

Mendadak Istri
(Ken Series) Gantian


Sesampainya di hotel, Ken dan Gitta langsung menuju kamarnya setelah mendapatkan keycard. Ken sempat berbincang-bincang sebentar dengan manager hotel, bu Hana sebelum akhirnya benar-benar menuju kamarnya.


Ken masih menggenggam tangan Gitta saat berjalan menuju lift yang akan membawa mereka sampai lantai kelima belas.


Ting.


Suara pintu lift terbuka. Ken dan Gitta segera melangkahkan kaki keluar dan menyusuri lorong hotel tersebut.


"Mas, beneran kita akan menginap disini?" Tanya Gitta.


"Iya. Kenapa? Kamu nggak suka ya?" Tanya Ken sambil menoleh menatap wajah sang istri.


Gitta menggelengkan kepalanya. "Bukan nggak suka Mas, tapi besok kan aku kuliah, sedangkan mas Ken juga harus ke kantor kan." Jawab Gitta.


"Kamu kuliah jam berapa?" Tanya Ken sambil mengeluarkan key card dari dalam sakunya.


"Siang sih." Jawab Gitta.


"Baguslah. Sekalian aku mengambil waktu izin. Kemarin aku sudah terlanjur bilang ke om Neo jika kemungkinan Senin aku masih izin." Kata Ken sambil membuka pintu kamar dengan key cardnya. "Ayo masuk." Lanjut Ken sambil menarik tangan Gitta dengan lembut.


Gitta mengikuti langkah kaki suaminya. Gitta sangat kagum dengan design kamar hotel tersebut, mewah. Itu yang ada dipikiran Gitta saat itu.


Sebuah tempat tidur berwarna putih yang ukuran besar ada di tengah-tengahnya. Sofa bed terletak di samping jendela yang luas dengan beberapa bantal kursi di atasnya. Kamar mandi dengan pembatas terbuat dari kaca ada di sana.


Glek.


Gitta menelan salivanya dengan keras saat melihat kamar mandi tersebut. Kamar mandi itu jelas akan memperlihatkan aktivitas pemakainya saat mandi, kecuali jika dia jongkok. Kaca buram di bagian bawahnya hingga sebatas pinggang orang dewasa sedikit menolong. Namun, tetap saja hal itu akan mengkespos tubuh bagian atas siapapun yang mandi di dalamnya.


Gitta berjalan masuk dan meletakkan dua buah paper bag yang berisi pakaian ganti untuk mereka di atas meja yang berada di seberang tempat tidur. Dia berjalan untuk menyibak tirai kamar hotel tersebut.


"Mandilah, aku akan menelepon daddy dulu." Kata Ken.


"Baiklah." Kata Gitta pasrah. Toh, cepat atau lambat pun hal itu akan tetap terjadi. Dia berjalan menuju kamar mandi sambil membawa sebuah paper bag yang berisi baju ganti untuknya.


Ken mencari nomor telepon daddynya dan segera menghubunginya. Ken berjalan ke arah balkon kamar untuk berbicara dengan sang daddy. Sekaligus menanyakan kabar Khanza.


Gitta cukup lega saat melihat sang suami berjalan ke arah balkon. Entah mengapa dia masih merasa malu jika kepada suaminya itu. Gitta buru-buru membersihkan diri sebelum Ken selesai berbicara dengan sang daddy. Namun, hingga Gitta selesai mandi pun, Ken masih sibuk dengan ponselnya. 


Setelah selesai mandi, Gitta meraih ponselnya untuk memesan makanan. Dia tahu jika Ken belum sempat makan siang tadi.


"Kok cepat sekali mandinya." Kata Ken sambil berjalan masuk kembali ke dalam kamar. Gitta mendongakkan kepalanya untuk melihat Ken.


"Mas Ken ih yang lama teleponnya. Bagaimana keadaan Khanza?" Tanya Gitta.


"Alhamdulillah sudah baik. Operasinya juga berjalan lancar. Kemungkinan besok atau lusa sudah boleh pulang." Kata Ken.


"Alhamdulillah." Jawab Gitta. "Mas mandi dulu gih. Aku sudah pesan makanan ini." Lanjut Gitta.


Ken segera mengangguk dan berjalan menuju kamar mandi. Sementara Gitta, dia segera berjalan menuju balkon untuk menikmati udara sore hari itu di Bandung. Beberapa saat kemudian, Ken terlihat sudah keluar kamar mandi. Dia berjalan menuju balkon sambil mengeringkan rambutnya yang basah.


"Mas, sudah selesai?" Tanya Gitta saat merasakan tangan sang suami memeluknya dari belakang.


"Hhhmmm." Jawab Ken sambil menggerakkan hidungnya di sekitar tengkuk Gitta. Sesekali dia meninggalkan jejak di sana.


"Iiihhh Mas, ini masih sore lho. Sebentar lagi makanan juga datang." Kata Gitta sambil berusaha melepaskan tangan suaminya. Dan benar saja. Terdengar suara petugas hotel mengantarkan pesanan makanan Gitta. Dia segera beranjak untuk membukakan pintu dan menerima makanan tersebut.


Gitta segera membawa makanan tersebut masuk dan meletakkannya di atas meja. Ken juga segera bergabung dengannya karena perutnya memang sudah sangat lapar. Mereka segera menyantap makanan itu. 


Beberapa saat kemudian, makanan itu sudah berpindah ke dalam perut masing-masing. Rasa kenyang pun langsung mereka rasakan. Gitta segera membersihkan sisa-sisa makanan mereka. Saat masih menunggu Gitta membersihkan makanan, Ken mendapat telepon dari daddynya. Dia harus menemui seseorang saat itu di lobi hotel. Ken segera pamit kepada Gitta untuk menemuinya sebentar.


Gitta menunggu sang suami sambil memainkan ponselnya. Dia saling berbalas pesan dengan sahabatnya, Vita yang sudah lumayan membaik. Kemungkinan besok sudah boleh pulang dari rumah sakit. Mungkin karena lelah, Gitta tertidur di kursi balkon hotel.


Ken kembali saat jam sudah menunjukkan pukul 19.10. Dia membuka pintu kamarnya dan tidak mendapati sang istri. Kamarnya pun juga masih gelap. Ken segera menyalakan lampu. Dilihatnya pintu menuju balkon dan jendela masih terbuka. Ken berjalan menuju balkon untuk mencari sang istri. 


Dan benar saja, Gitta tengah tertidur di sana sambil masih memegang ponsel di tangannya. Ken berjalan mendekat dan berjongkok di depan wajah sang istri. Dia mengamati wajah istrinya sambil tersenyum. Cantik. Gumamnya. Ken mendekatkan wajahnya pada wajah Gitta. 


Ken mendaratkan beberapa kecupan pada wajah Gitta. Karena merasa ada yang mengganggu, Gitta mengerjab-ngerjabkan matanya sambil menggeliat. Begitu matanya sudah terbuka sempurna, Gitta langsung tersenyum saat melihat wajah suaminya berada tepat di depan wajahnya.


"Mas, sudah pulang? Maaf aku ketiduran. Jam berapa ini?" Tanya Gitta sambil beranjak duduk.


"Sudah jam tujuh malam." Jawab Ken.


"Hhhaaahh? Lama sekali aku tertidur." Kata Gitta kaget.


"Nggak apa-apa, kamu pasti sangat capek. Atau mungkin mau aku ajari mengetik?" Jawab Ken sambil menaik turunkan alisnya.


Gitta langsung mengerucutkan bibirnya saat mendengar perkataan sang suami.


"Apaan sih Mas, masih saja ingat hal itu." Kata Gitta.


"Tentu saja masih ingat." Jawab Ken. "Aku bersih-bersih dulu." Kata Ken sambil berjalan menuju kamar mandi. Setelah selesai, gantian Gitta yang beranjak untuk membersihkan diri.


Pukul 21.15 malam, Gitta dan Ken sudah berada di tempat tidur sambil menonton televisi. Gitta merebahkan diri pada dada bidang suaminya sambil memeluknya posesif. Lengan kanan Ken melingkar pada bahu Gitta.


"Mas suka film action?" Tanya Gitta sambil masih fokus pada televisi di depannya.


"Lumayan, tapi aku lebih suka ini." Jawab Ken sambil mengeratkan pelukannya. Gitta hanya bisa pasrah menerima perbuatan sang suami.


Gitta masih fokus menonton televisi yang menampilkan film action. Dia sesekali menoleh menatap wajah Ken yang juga masih fokus pada film di televisi. Ken bukannya tidak menyadari hal itu, namun dia akan menunggu sampai Gitta membuka suaranya.


"Mas, apa perusahaan yang di akuisisi daddy itu benar-benar sudah tidak dibawah kendali paman?" tanya Gitta akhirnya memberanikan diri membuka suara.


Ken menoleh menatap wajah Gitta sebentar sebelum kembali fokus pada televisi di depannya.


"Tentu saja, sayang. Daddy sudah mengambil alih semuanya. Orang-orang yang berada di sana juga kebanyakan orang-orang daddy." Jawab Ken.


"Syukurlah."


Ken mengerutkan keningnya mendengar jawaban Gitta.


"Memangnya ada apa?" Tanya Ken.


"Ehm, aku cuma punya firasat tidak enak. Paman bukan tipe orang yang jujur. Aku cuma khawatir dia akan membocorkan rahasia perusahann kepada pihak lain." Jawab Gitta.


Ken mengerutkan keningnya bingung setelah mendengar penjelasan Gitta.


"Mengapa kamu ngomong begitu?" Tanya Ken.


"Dulu, saat ibu angkatku masih ada paman lah yang mengurus rumah makan di jalan Kusuma 2. Awalnya semua lancar, namun setelah memasuki tahun kedua semua tiba-tiba berubah. Pelanggan sepi dan laporan keuangan sangat hancur. Bahkan, rumah makan tersebut menanggung hutang yang tidak sedikit. Hingga ibu angkatku harus menjual tempat itu untuk menutupi hutangnya. Setelah di selidiki, ternyata paman lah dalangnya. Aku hanga khawatir Mas." kata Gitta.


"Sssttt, jangan khawatir. Daddy sudah menempatkan orang-orangnya di sana." Jawab Ken sambil mengeratkan pelukannya. Gitta juga membalas pelukan sang suami hingga dia tertidur dengan lelap.


.


.


.


.


.


\=\=\=\=\=


Jangan lupa dukungannya ya, like, comment dan vote


Thank you 🤗


Sorry, hari ini mungkin masih slow up. Mau berangkat ada acara, semoga cepat selesai dan bisa segera up.