Mendadak Istri

Mendadak Istri
Part 69


"Mereka tidak tahu siapa kamu Van," kata Dr. Yudith dengan lembut. "Lagi pula, mereka bekerja sesuai prosedur, maafkan ketidaktahuan mereka. Mereka bekerja untuk menghidupi keluarganya. Kita tidak tahu seberapa besar beban yang mereka pikul jika mereka kehilangan pekerjaan kan,"lanjut Dr. Yudith.


Vanno diam sejenak untuk berpikir. Dia mengangguk ketika bisa mengerti maksud perkataan Dr. Yudith.


Para petugas keamanan tersebut segera meminta maaf kepada Vanno setelah mendapat perintah dari Dr. Yudith. Mereka sama sekali tidak menyangka jika mereka telah berbuat sesuatu yang tidak menyenangkan kepada pemilik rumah sakit tempat mereka bekerja.


Vanno pun segera memaafkan kesalahan mereka setelah mendengar penjelasan dari Dr.Yudith.


Beberapa saat kemudian, Retta sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Vanno dan Dr.Yudith mengikutinya menuju ruang perawatan. Setelah Retta dipindahkan, Dr. Yudith segera mengambil alih pemeriksaan.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Dr.Yudith kepada Retta.


"Lumayan membaik Dok. Rasa nyerinya tidak seperti tadi" jawab Retta sambil tersenyum.


"Bagus. Jika kondisi kakimu sudah tidak membengkak, kamu bisa pulang besok lusa" kata Dr. Yudith.


Retta sedikit mengerutkan dahinya mendengar perkataan Dr. Yudith. Dia menoleh ke arah Vanno sambil mengerucutkan bibirnya.


Vanno yang merasa gemas melihatnya segera mendekat dan memberikan kecupan singkat pada bibir Retta. Hal itu sontak membuat Retta membulatkan matanya dengan lebar. Bagaimana mungkin Vanno bisa melakukan hal itu di depan Dr. Yudith. Apa dia kira Dr. Yudith itu patung yang tidak bisa melihat tingkahnya, batin Retta.


Tindakan Vanno yang spontan tadi membuat Retta malu. Dia yang awalnya ingin protes untuk meminta agar bisa segera pulang, justru malah dibuat malu.


Eheemmm.


Dr. Yudith berdehem untuk mencairkan situasi. 


" Dasar Vanno," gerutu Dr. Yudith. "Kamu ternyata memang benar-benar anak Evan ya, jiwa mesummu benar-benar sudah tidak tertolong lagi," lanjut Dr. Yudith sambil menggelengkan kepalanya.


Vanno yang mendengar perkataan Dr. Yudith segera menoleh dan tersenyum lebar.


"Tentu saja Dok," jawab Vanno sambil tersenyum bangga.


"Ck ck ck ck. Baru kali ini aku lihat orang yang sangat bangga dengan kemesumannya," kata Dr. Yudith sambil menggelengkan kepalanya.


Setelah memeriksa Retta, Dr. Yudith segera pamit untuk melanjutkan pekerjaannya. Begitu Dr. Yudith sudah tidak terlihat lagi, Retta segera mengalihkan pandangannya kepada Vanno. Dia mencubit pinggang Vanno dengan sangat keras.


Aauuww. Vanno meringis kesakitan.


"Aduuhhh. Apaan sih, Ta" kata Vanno sambil mengusap-usap bekas cubitan Retta.


"Lhah, kenapa juga mesti malu. Kita sudah sah Ta, kita sudah menikah" jawab Vanno tidak terima.


"Iya kita sudah sah, kita sudah menikah. Tapi melakukannya di hadapan orang lain itu tidak sopan Mas," geram Retta.


"Lalu bagaimana?"


"Ya jangan melakukannya jika ada orang lain, malu" kata Retta sambil mengerucutkan bibirnya lagi.


"Lalu, jika sudah tidak ada orang boleh?" goda Vanno.


"Iya," jawab Retta dengan cepat. Namun, dia segera menyesali perkataannya setelah melihat ekspresi mesum Vanno.


Vanno yang senang mendengar jawaban Retta segera mendekatkan wajahnya pada wajah Retta. Dia segera meraih tengkuk Retta dan segera membungkam mulut Retta dengan bibirnya. Sedangkan tangan kirinya tak lupa untuk mulai mencari squishy Retta dan segera melancarkan aksinya.


Eeuuhhmmmppphhhh. Retta berusaha melepaskan diri dari Vanno. Dia sedikit menggigit bibir bawah Vanno agar dia segera melepaskannya.


"Aaauwwhhh. Apa-apaan sih, Ta" gerutu Vanno sambil mengusap bibirnya yang terasa sakit.


"Mas Vanno yang apa-apaan. Bisa-bisanya melakukan itu di rumah sakit." 


"Memangnya kenapa?" tanya Vanno sambil masih menatap nanar Retta.


"Jika dilihat orang yang tiba-tiba masuk kesini bisa malu mas. Apalagi itu tangan sudah nyelonong masuk aja. Bisa-bisa aku sudah polos saja tanpa sadar," kata Retta. "Tutup dulu kek pintunya," lanjut Retta.


"Hhaaaa?"


.


.


.


.


.