Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 96 : Jeritan Kesakitan


Malam dingin yang menyelimuti kota Wina, semakin membuat hasrat dua anak manusia itu terbakar. Kailla yang memulai segalanya, tetapi pada akhirnya Pramlah yang mengendalikan permainan.


Lelaki itu sudah mengambil alih semuanya, tepat sesat setelah Kailla melempar jauh celana panjangnya membentur pintu. Dengan sigap, meraih tubuh istrinya dan menggulingkanya di atas ranjang.


“Ah.. Sayang,” seru Kailla dengan tawa hangat.


Pram tersenyum, menempelkan dahi mereka sembari menggesekan ujung hidungnya dengan hidung Kailla.


“Kamu tahu Kai, bertengkar denganmu sehari rasanya sewindu,” gombal Pram. Keduanya saling menatap, melempar ucapan lewatan pandangan mata.


“Sayang, aku mau baby twins.” Pram berbisik lembut dengan hembusan nafas kasar di telinga istrinya. Sesekali mengigit kecil daun telinga, sembari menggoda istrinya.


Dengan telunjuknya Pram memainkan lekuk wajah cantik sempurna yang tidak henti tersenyum cerah mendamba kelembutan demi kelembutan yang akan menjadi nyata sebentar lagi.


Jemari itu berhenti tepat di bibir penuh yang merona, mengusapnya perlahan sebelum melabuhkan kecupan ringan, hangat dan berakhir lebih menuntut.


Kailla yang saat ini berbaring di bawa kungkungan suaminya, dengan hati-hati mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya. Bersiap menyambut keindahan dunia yang akan dipersembahkan Pram untuknya.


“Lepaskan pakaianmu sekarang, Kai. Kamu curang. Aku sudah kedinginan di sini, kamu masih belum rela menghangatkanku.”


Tanpa menunggu respon istrinya Pram sudah melepas satu persatu pakaian yang melekat di tubuh indah Kailla. Senyum menyeringai saat mendapati tubuh polos tanpa sehelai benang terpampang nyata di depan matanya.


Dalam hitungan detik, dia sudah mencium bibir merona yang menantangnya sejak tadi, me”lumat tanpa memberi kesempatn Kailla protes. Sedikit gigitan kecil, membuat Kailla membuka bibirnya dan memberinya akses mengabsen satu persatu deretam gigi putih dan berakhir dengan saling membelit lidah ketika Kailla mulai larut dalam permainannya.


Puas mengeksplor disana, Pram beralih ke leher jenjang dengan kulit putih bak porselin, mengecup basah sesekali memberi tanda kepemilikan memerah tanpa jeda. Membuat si pemiliknya menggelinjang, menggigit bibirnya untuk menahan desah.


Jemari lentik dengan kuku panjang terawat itu sudah menelusup ke rambut bergelombang suaminya. Sesekali menarik pelan saat Pram, memanjakannya.


“Kenapa tidak mendesah seperti biasa, Kai?” tanya Pram, tiba-tiba menghentikan aktivitasnya.


“Aku takut mama mendengar. Kamar ini tidak berperedam suara,” sahut Kailla pelan, merona malu.


Pram tersenyum, kedua tangannya yang sejak tadi bersikap sopan mulai membandel. Siap membuat kekacauan dan keonaran. Dengan tatapan singa kelaparan, tangan itu mulai meremas dan megusap lembut aset kembar yang terpampang tanpa pengamanan.


Sesekali membuat tanda kepemilikan di gundukan kembar nan kenyal. Salah satu keajaiban dunia tersembunyi yang lupa didata dan dibukukan. Tangan kekar itu sudah siap bergerilya, menyusuri lekuk tubuh indah ala gitar spanyor versi Reynaldi Pratama.


Memberi kenikmatan yang memabukan, keindahan yang Pram harap akan diingat istrinya seumur hidup. Tepat saat tangan itu menyusuri lekuk pinggang dan bermain-main di perut rata, mulus menggoda. Perut yang beberapa tahu lalu sempat bertumbuh buah cinta mereka.


“Aku menginginkannya hadir disini, Kai,” bisik Pram pelan, mengecup lembut disana.


Beralih kembali mengecup bibir istrinya, ada getar hebat di dalam suara Pram.


“Aku harap dia datang malam ini, sendiri atau membawa serta saudaranya,” ucap Pram, dengan wajah menahaan tangis.


“Aku mencintaimu,” bisik Pram. Sembari mengecup seluruh tubuh polos dan indah itu tanpa tersisa, membuat Kailla benar-benar menggila. Mendesah pasrah di bawah kendali tubuh kekar.


“Aku mencintaimu, sangat mencintaimu,” ucap Pram mengulang lagi sebelum memulai ke permainan inti.


Tepat kedua tubuh itu menyatu, desahan tanpa ditahan keluar dari bibir Kailla, membuat Pram tersenyum puas.


“Kamu istriku, selamanya istriku. Hanya kamu yang akan mendapatkannya, tidak untuk wanita lain,” bisik Pram sembari menghentak pelan di bawah sana.


Hentakan demi hentakan diiringi bisikan cinta dari Pram. Mengingatkan Kailla pada malam pertama mereka. Disaat dia kesakitan, Pram melakukan hal yang sama. Berbisik lembut, menyairkan kata-kata cinta yang tanpa henti di telinganya. Sampai dia lupa segala kesakitan dan ketidakrelaannya.


Tepat hentakan semakin kasar, Pram melu”mat kembali bibir istrinya, keduan tangan kekar itu juga menautkan jemarinya pada jemari tangan Kailla yang tergeletak bebas di atas tempat tidur.


Puncaknya, saat benih-benih itu menyembur di rahim Kailla teriring doa penuh harap di dalam hati Pram, terdengar desahan memilukan istrinya. Desahan yang lebih mirip jeritan kesakitan. Desahan yang tidak biasanya.


Kailla sampai berurai air mata, menjerit tidak berkesudahan. Puncaknya dia menggigit bahu suaminya, saat tubuh polos suaminya itu ambruk menimpa tubuhnya.


“Sakit!!,” jerit Kailla kencang.


“Aww...! Kai, ada apa Sayang?” tanya Pram dengan nafas tersengal, mengusap bekas gigitan Kailla di pundaknya. Ada yang aneh dan tidak biasa dengan istrinya.


“Sayang, apa aku mainnya terlalu kasar?” Pram keheranan. Memikirkan pelepasan terakhirnya tadi, memang dia menghentaknya terlalu kasar dan dalam, berharap benih itu akan bertumbuh menjadi bayi.


“Kamu menekan tanganku, Sayang!” ucap Kailla berurai air mata, menahan sakit dan perih di tangannya.


“Maafkan aku, Sayang. Apakah sakit?” tanya Pram meniup perlahan di bekas luka istrinya.


“Sakit..!” rengek Kailla dengan manjanya.


Baru saja Pram hendak bangkit mengambil salep untuk mengoleskan kembali, terdengar ketukan kasar dan teriakan panik dari balik pintu.


“Pram!! Buka pintunya. Kailla kenapa?” teriak Ibu Citra menggedor kasar pintu kamar tidur putranya.


Baik Kailla maupun Pram terkejut, salimg memandang tubuh mereka yang polos tanpa benang. Kailla sudah akan bangun dan berdiri, tetapi Pram menahannya. Meminta Kailla tetap berbaring.


“Jangan-jangan. Tiduran dulu, nanti anakku salah jalan. Bukannya masuk malah keluar jalan-jalan,” ucap Pram asal.


Teriakan Ibu Citra semakin menjadi, tidak terkontrol dan penuh kemarahan.


“Pram! Kamu memukul istrimu? Buka pintunya. Kenapa Kailla menjerit kesakitan. Jangan gila Pram!” teriak Ibu Citra mengomel panjang lebar.


“PRAM!! Kalau tidak mau membuka pintunya sekarang, mama akan meminta Bayu mendobraknya!” ancam Ibu Citra setelah menunggu tidak kunjung ada jawaban dari dalam.


“Bay, dobrak pintunya! Menantuku bisa mati di tangannya,” ucap Ibu Citra, sudah berpikiran buruk. Pram berlaku kasar pada istrinya.


Dia melihat sendiri bagaimana Pram yang sering emosional dengan asisten-asistennya. Wanita itu takut, Pram melakukannya juga pada istrinya.


Apalagi mendengar jerit kesakitan Kailla yang begitu memilukan, ditambah Pram yang tidak kunjung menjawab atau membuka pintu kamarnya.


Bayu baru saja akan menendang pintu kamar majikannya. Tetapi daun pintu kayu itu terbuka dari dalam. Dia tadi keluar karena mendengar teriakan Kailla yang kencang. Khawatir terjadi sesuatu yang tidak-tidak dengan majikannya itu.


Bayu dan Ibu Citra terkejut dan menahan malu saat pintu kamar itu terbuka sempurna. Pram hanya mengenakan celana panjang, bertelanjang dada. Dan Kailla hanya mengenakan kaos kebesaran milik Pram, berdiri di belakang Pram, menunduk.


“Shitt!! Lagi-lagi!” gerutu Bayu dalam hati.


Asisten itu langsung melangkah pergi, setelah melihat pemandangan di depan matanya. Belum lagi tadi sempat melirik isi di dalam kamar, pakaian berserakan di lantai, termasuk pakaian dalam nyonya majikannya.


“Kerjaan Ibu Citra, aku selalu tertimpa sial. Apes benar, harusnya dia tidak menyeretku ikut-ikutan menggedor pintu,” gumam Bayu, kesal.


***


“Ada apa Kai?” tanya Ibu Citra, menunggu jawaban. Membuang rasa malunya. Sudah terlanjur menggedor, tidak mungkin mundur.


“Tanganku sakit. Nih!” Kailla mengulurkan tangannya, menunjukkan pada mama mertuanya.


Ibu Citra terbelalak, kenapa bisa begini?” tanya Ibu Citra heran.


“Pram menekannya sampai luka ini pecah mengeluarkan air,” ucap Kailla mengadu dengan manjanya.


Ibu Citra menggeleng, menatap tajam putranya.


“Tidur dengan mama saja,” ucapnya sembari menarik tangan Kailla keluar dari kamarnya.


***


To be continued


Love You all


Terima kasih.


****


Hai..hai,. Readernya Om Pram dan Kailla, hanya berbagi informasi sedikit.


Novel Om Pram dan Kailla ini genrenya komedi romantis, konfliknya juga tidak berat sekali. Hanya salah paham, salah ngomong dan salah asuhan. Tidak ada alur yang mengharu biru layaknya sinetron ikan terbang, yang menyayat hati atau pun mengiris perasaan. Ada konflik tapi cepat selesai kok.


Dan yang terpenting aku tidak bisa mengubah alur yang sudah ada. Disini alurnya lambat, selambat siput lagi ikut kompetisi memasak yang di pandu chef Juna. (Ah ini chef favoritku, sayangnya Kailla sudah nikah sama Pram🤭)