
Bayu masih saja mengetuk pintu kamar majikannya. Sedikit sungkan, tapi mengingat perintah Pram, dia tidak punya waktu lain lagi. Peringatan Pram yang mengatakan paling telat malam ini, memaksanya mengetuk pintu berulang kali.
Ceklek! Pintu kamar dibuka.
Muncul Pram dengan bertelanjang dada dan rambut acak-acakan. Hanya melihat tampilan sekilas pun, Bayu tahu nyawanya yang hanya tinggal segaris nyaris diujung tanduk.
Dia sudah menganggu kesenangan majikannya yang sedang menikmati waktu berdua dengan istrinya.
“Lain kali, mengetuk cukup tiga kali! Lebih dari tiga kali kalau tidak dibukakan artinya tahu sendiri,” omel Pram, merapikan rambutnya berantakan dengan jemarinya. Dengan cekatan mengenakan kaosnya kembali.
“Maaf Bos,” sahut Bayu tertunduk. Mengekor di belakang langkah kaki Pram yang lebar-lebar. Saat tiba di ruang keluarga, terlihat Sam dan Ricko sedang menonton acara televisi.
“Pak..” Keduanya menyapa hampir bersamaan. Bukannya mendapat jawaban, tetapi keduanya menerima tatapan sinis dari majikannya.
“Tamat riwayatmu, Bay. Kita bantu doa saja!” bisik Sam saat Bayu melewatinya.
***
Pram sudah masuk ke dalam ruang kerjanya. Bayu pun sudah siap dengan segala informasi yang berhasil dikumpulkannya.
“Ditya Halim Hadinata, belum pernah menikah. Tidak ada riwayat pacaran atau dekat dengan siapapun. Belum lama menetap di Indonesia.” Bayu memulai informasi saat melihat Pram sudah duduk di kursi kebesarannya.
“Menjadi direktur di salah satu anak perusahaan Halim Group,” lanjut Bayu.
“Saat ini menghuni salah satu penthouse di Keraton Private Residence,” cerita Bayu.
Pram mengangguk. Tidak terkejut lagi, kalau salah satu keturunan Halim Group itu menghuni apartemen puluhan miliar di pusat kota Jakarta. Salah satu lokasi strategis di dekat mal-mal besar, surganya Kailla setiap berbelanja barang-barang branded.
“Apalagi yang kamu dapatkan?” tanya Pram.
Bayu menggeleng. Ada banyak informasi yang tidak bisa diakses tentang pangeran Halim Group. Selain gaya hidup mewah, tidak ada lagi informasi lainnya.
“Stella sudah membuat janji bertemu dengannya besok. Tapi aku belum mendapat info lagi. Persiapkan dirimu!” ucap Pram.
“Oh ya Bay, besok Kailla akan membeli syal untuk mamaku. Minta Sam yang menemaninya.” ucap Pram, sebelum melangkah keluar dari ruang kerjanya.
***
Mobil sport hitam kesayangan Pram berhenti di halaman sebuah restoran di pusat kota. Tidak terlalu ramai, melihat restorannya sudah pasti hanya kaum-kaum tertentu saja yang berani masuk ke sini. Tidak jauh dari mobilnya terparkir, ada beberapa mobil mewah yang ikut mengisi lahan parkir.
Di depan pintu, Pram yang ditemani Bayu dan Doni, disambut dua orang security. Tidak butuh waktu lama, mereka bisa melenggang masuk tanpa kendala.
Begitu masuk ke dalam restoran, aura kemewahan semakin terpampang nyata. Pram mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Berusaha mencari orang yang ingin ditemuinya siang ini.
Tiba-tiba dari arah dalam muncul lelaki muda, tepatnya lebih muda dari Pram dengan setelan jas rapi menghampiri ketiganya.
Siang Pak Reynaldi Pratama. Kenalkan saya Matt, asisten Pak Ditya Halim. Silakan ikut denganku,” ucapnya, memandang ke arah Bayu dan Doni bergantian.
“Mereka asistenku,” kenal Pram. Dia cukup paham dengan kebimbangan asisten si tuan muda kaya itu.
Matt mengangguk. Cukup mengerti dengan tamu majikannya yang bisa dibilang bukan dari golongan biasa.
Terlihat Bayu menyerahkan shopping bag yang sejak tadi ditentengnya kepada Matt.
“Ini?” Matt kebingungan mencuri isi di dalamnya. Dia ingat jelas, Ditya memintanya membeli barang-barang di dalam shopping bag, tapi kenapa sekarang dikembalikan kepada bosnya lagi.
“Kembalikan kepada bosmu!” jelas Pram.
Matt mengangguk, tidak mau memperpanjang masalah yang akan membuang waktu dan membuat Ditya menunggu.
Pram mengekor, mengikuti langkah lelaki yang mengaku bernama Matt membawanya ke sebuah ruangan. Di dalam sudah menunggu Ditya dengan setelan hitamnya duduk disebuah meja bulat dengan makanan yang sudah tertata rapi.
Bayu dan Doni yang baru akan melangkah masuk dihadang oleh asisten Matt, yang meminta mereka menunggu di luar. Sempat terjadi percekcokan ringan, tapi akhirnya Pram mengangguk dan meminta asistennya menurut dan tidak membuat keributan.
“Bos!” Matt meletakan shopping bag ke atas meja, sebelum melangkah keluar bergabung dengan Bayu dan Doni.
“Selamat siang, Reynaldi Pratama,” sapa Ditya. Berdiri menyambut tamunya, sembari mengulurkan tangan. Senyum kaku disunggingkan Ditya.
“Pram, panggil aku Pram,” pinta Pram, menyambut uluran tangan Ditya.
“Silahkan duduk.” Ditya mempersilahkan.
Pram menengok ke belakang, kedua asistennya tidak mengikut dan pintu sudah tertutup rapat.
“Apa yang mau Pak Pram sampaikan?” tanya Ditya, bersikap santai. Tangannya dengan cekatan menuang red wine ke dalam gelas kosong yang diperuntukan untuk tamunya.
Pram masih berdiri, mengamati gerak gerik lelaki di hadapannya.
“Silahkan,” ucap Ditya mendorong gelas kristal itu maju ke arah kursi yang disediakan untuk Pram.
“Aku datang ke sini hanya untuk mengembalikan barang-barang ini ke pemiliknya,” jelas Pram, mendorong shopping bag ke arah Ditya.
Seulas senyuman kembali muncul di bibir Ditya. Tanpa melihat, dia sudah tahu apa isinya.
”Aku sudah memberinya kepada Kailla dan ibu mertuanya. Sekarang bukan milikku lagi.” Ditya berkata, sontak mengejutkan Pram.
“Kamu sudah tahu kalau Kailla sudah menikah?” tanya Pram memastikan.
“Baru saja mengetahuinya. Maafkan aku.” Ditya berkata.
“Tolong jangan ganggu istriku!” Pram berkata dengan nada tegas.
“Hahahaha..”
Tawa Ditya yang tiba-tiba terdengar aneh. Terlihat dia meraih gelas dan memutar-mutar red wine di dalamnya.
Lama keduanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Saling menatap tanpa berbicara.
“Aku menyukai istrimu, Kailla.” Ditya berkata dengan tegas dan tanpa malu-malu. Menyesap anggur merah itu dengan ujung bibirnya.
“Kurang ajar!” Emosi Pram langsung terpancing hanya dengan satu kalimat. Dengan tangan terkepal, dia langsung berdiri.
“Apa yang kamu inginkan?” tanya Pram lagi. Dia sudah bersiap melayangkan tinjunya ke wajah tampan lelaki di depannya.
“Tidak ada. Aku hanya menyukainya.”
Ditya tetap tenang, tidak terpancing sedikit pun.
“Jangan pernah dekati Kailla. Sekali lagi, aku akan membunuhmu!” ancam Pram.
Ditya tetaplah Ditya, emosinya tidak terpancing sama sekali. Lelaki itu tenang tetapi menghanyutkan.
“Aku tidak berjanji. Kalau aku tanpa sengaja bertemu dengan istrimu, masa kamu harus menyalahkanku,” sahut Ditya.
Brakkkkkkk!!
Pram menggebrak meja karena kesal. Baru saja dia akan mencekal Ditya, tetapi tiba-tiba Matt muncul dari pintu. Menahan tangan Pram untuk melindungi atasannya.
Bersamaan dengan itu, Bayu dan Doni pun merangsek masuk. Berusaha menjaga majikannya juga. Kalau tidak waspada, semuanya akan berantakan.
“Jauhi istriku! Lelaki terhormat tidak akan merampas milik orang lain!” ucap Pram dengan tegas.
“Jaga baik-baik istrimu! Kalau bukan aku, akan ada lelaki lain yang mungkin mencurinya darimu!” ucap Ditya terkekeh.
***
Next :
Kailla baru saja keluar dari sebuah outlet di Pl’aza Indonesia. Mengekor di belakangnya Sam yang menenteng banyak barang bawaan. Setelah sekian lama puasa berbelanja, dia bisa menghambur-hamburkan uang suaminya lagi.
Dengan alasan mencari syal untuk mertuanya, Kailla bisa terbebas dengan aturan suaminya sementara.
“Sam, langsung pulang saja,” ucapnya pada sang asisten. Masih dengan berdiri di depan lift, menunggu pintu terbuka yang akan mengantar mereka ke parkiran basement.
Tiba-tiba...
“Kamu..?” Kailla terkejut.
***
To be continued
Love You all
Terima kasih.