Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 166 : Masa lalu Riadi


Pandangannya beralih menatap Pram. “Kamu sudah mengetahui kebenarannya?” tanya sang pengacara memastikan.


Pram menoleh. Menatap sang pengacara keheranan. “Bapak tahu sesuatu tentang masa lalu mertuaku?” Pram balik bertanya.


“Tentu saja aku tahu, aku menemaninya sejak masih menjadi menantu Wijaya, sejak aku masih belum menjadi pengacara.” Pengacara itu menjawab, tersenyum memamerkan deretan gigi putihnya.


“Apa yang kamu rasakan sewaktu tinggal bersama Riadi Dirgantara, itu juga dirasakannya saat tinggal bersama keluarga Wijaya. Apa yang kamu rasakan sewaktu menjadi menantu Riadi Dirgantara, itu juga dirasakannya saat menjadi menantu keluarga Wijaya. Hanya saja nasibmu jauh lebih baik, mertuamu sangat menyayangimu, berbeda dengannya.”


“Apa kamu pernah mendengar keluarga dari mertuamu? Tidak pernah kan?”


Pram menggeleng.


“Karena nasibnya kurang lebih sama dengan nasibmu. Hanya saja, kamu masih memiliki keluarga dan Riadi tidak punya siapa-siapa.”


Pram masih berusaha mencerna cerita yang baru diungkapkan teman baik mertuanya itu.


“Kamu tahu kenapa mertuamu memberi semua aset RD Group padamu bukan pada putrinya Kailla?”


Pram menggeleng.


“Ada banyak alasan, tetapi salah satu alasannya dia tidak ingin kamu merasakan apa yang dirasakannya.”


“Posisi dan statusnya menjadi menantu Wijaya setelah menikahi Anna, membuatnya tidak memiliki harga diri sebagai laki-laki. Anna dan Wijaya menginjak-injaknya, tidak menghargainya sebagai seorang suami. Bisa dimaklumi, Riadi dulu hanyalah laki-laki miskin yang tidak memiliki apa-apa. Hanya tangan kanan Wijaya, papanya Anna.”


“Riadi tidak ingin kamu mengalami nasib yang sama, makanya RD Group diserahkan padamu. Laki-laki itu harus memiliki kekuatan, memiliki power baru bisa menjadi nahkoda di rumah tangganya, salah satunya, harus mampu secara finansial. Setidaknya harus mampu menafkahi istri dan anak-anaknya, meskipun kata mampu itu relatif, setiap orang berbeda-beda.”


Pram terperanjat. Sedikit pun dia tidak menyangka. Memang diakui, Anna Wijaya yang dipanggilnya mami adalah putri orang kaya. Sifatnya tidak jauh berbeda dengan istrinya Kailla, manja dan seenaknya. Riadi dulu sangat takut dengan istrinya, semua harus atas persetujuan Anna, Riadi tidak bisa apa-apa. Sedikit berbeda dengannya, Kailla dia bawah kendalinya, istrinya selalu menurut. Bahkan sebelum menikah pun, Pram sudah mengantongi izin dari Riadi untuk mengatur Kailla.


“Memutuskan untuk menyerahkan Kailla padamu, bukan perkara mudah untuknya. Seringkali dia meminta pendapatku. Perbedaan umur kalian yang terlampau jauh, membuat Riadi ragu menjadikanmu suami Kailla,” jelas laki-laki itu.


“Dan masa lalumu membuat Riadi khawatir kalau Kailla bersamamu, tetapi pilihan menjadikan Kailla istrimu jauh lebih baik dibanding menjadikannya istri Dennis Wijaya.”


Deg—


Pram mengalihkan pandangannya, berusaha mencerna kembali kata-kata yang baru didengarnya.


“Kailla ... istri Dennis?” ucap Pram mengantung.


“Ya, tadinya Kailla dijodohkan dengan putra Andi Wijaya. Aku tidak tahu jelas kesepakatan antara Andi dan Riadi seperti apa, tetapi yang aku tahu sudah ada kesepakatan perjodohan itu untuk menyelesaikan masalah perebutan aset RD Group antara Andi dan Riadi.”


“Kailla akan dinikahkan dengan putra Andi Wijaya dan semua harta akan jatuh pada Dennis Wijaya, putra Andi,” jelas pak pengacara.


Mendengar cerita itu, Pram langsung mengepalkan tangan. Amarahnya mencuat, entah kepada siapa laki-laki itu harus menumpahkan kemarahannya, tetapi ada rasa tidak terima saat Kailla yang sekarang menjadi istrinya dijadikan barang, dijadikan tumbal untuk menyelesaikan masalah perebutan harta keluarga.


“Semuanya berubah, Riadi melanggar kesepakatan dan tiba-tiba menyodorkan Kailla padamu.”


Tatapan laki-laki itu menerawang. Mengingat bagaimana beban yang ditanggung Riadi saat itu. Lelaki tua yang bingung dengan masa depan putrinya. Yang selalu menjadi korban dari masa lalunya.


“Keduanya adalah pilihan yang tidak menguntungkan untuk Riadi. Menyerahkannya padamu atau Dennis sama-sama membuat nasib Kailla diujung tanduk, tetapi Riadi tidak punya pilihan. Akhirnya dia memilihmu. Dan dia tidak salah memilihmu untuk menjadi suami putrinya. Terbukti kamu masih menjaga Kailla dengan baik, disaat sudah mengetahui masa lalumu.” lanjut sang pengacara.


Pram terdiam.


“Apa yang terjadi di masa laluku?” Akhirnya Pram bersuara.


“Kenapa Riadi melakukan semua ini? Kenapa dia menghancurkan keluargaku?” tanya Pram lagi.


Pengacara itu menghembus napas kasar. Menatap Pram sambil tersenyum datar.


“Alasan yang sama denganmu. Kenapa setelah mengetahui semuanya, kamu masih tetap bertahan di sisi Kailla. Riadi juga melakukan semua kejahatannya karena itu.”


“Karena mencintai mami Anna? Apakah ini karena permintaan Mami Anna?” tanya Pram memastikan.


“Karena perusahaan keluarga mereka terancam bangkrut, sedangkan perusahaan papamu sedang berkembang pesat saat itu. Tidak punya jalan lain, mereka terpaksa menggunakan cara licik dan disaat papamu tahu semuanya, mereka panik. Dan lagi-lagi Riadi yang terkena getahnya.”


“Mertua Riadi itu benar-benar tidak berperasaan, menghalalkan segala cara. Tidak hanya menguasai perusahaan papamu, setelah mendapatkan apa yang diinginkannya, dia masih meminta Riadi melenyapkan keturunannya supaya tidak ada yang menuntut balas dendam di kemudian hari.”


“Melalui Anna, dia meminta Riadi melenyapkanmu yang saat itu baru berumur 11 bulan.


“Lalu apa yang terjadi?” tanya Pram penasaran.


“Bersama Andi Wijaya, Riadi melakukan penculikan dan pembunuhan. Mereka membuangmu di tempat pembuangan sampah. Hanya saja, Riadi cukup berperasaan, dia tidak benar-benar membunuhmu. Setelah membuangmu, beberapa jam kemudian, dia kembali. Mengirim orang untuk menjagamu setiap hari. Memastikan kalau kamu baik-baik saja selama hidup di jalanan.”


“Saat mertuanya meninggal, Riadi membawamu pulang ke rumahnya.”


“Kamu tidak heran, tiba-tiba konglomerat sekelas Riadi, yang hanya sekali bertemu seorang anak kecil berusia sepuluh tahun di jalanan, dibawa pulang, disekolahkan, diberi fasilitas mewah. Terdengar aneh bukan?”


Pram mengangguk.


Dia mengembalikan identitasmu. Kamu ingat nama Reynaldi Pratama siapa yang memberikannya padamu?” tanya sang pengacara.


“Daddy. Daddy yang memberikanku nama Reynaldi Pratama. Dia yang memanggilku Pram. Di saat orang lain memanggilku dengan sapaan lain.”


“Pram itu panggilan papamu.”


“Apa mami Anna tahu semua?” tanya Pram lagi.


“Tidak, sampai meninggal Anna tidak tahu apa-apa tentangmu. Riadi menyembunyikannya begitu rapat.”


“Riadi merebut kembali perusahaan mertuanya dengan cara yang sama, dengan kecurangan yang sama saat mereka merebutnya dari tangan papamu. Saat mertuanya meninggal, dia mengambil alih semua harta mertuanya sampai tak bersisa. Dan Andi Wijaya mengamuk.”


“Dan kamu tahu, begitu mengadopsimu. Riadi membuat wasiat, semua asetnya akan diserahkan padamu, dia ingin mengembalikan semua yang menjadi hakmu. Hanya saja, belakangan Kailla hadir di hidupnya, mau tidak mau dia harus membaginya dengan Kailla.”


Pram mengangguk pertanda kalau dia mengerti. Sejauh ini, dia mulai paham kebenarannya sambil merangkai kembali kejadian-kejadian yang dilewatinya.


“Baiklah Pram, aku tidak bisa berlama-lama. Titip salamku untuk Kailla, tolong jaga dia baik-baik.” Pengacara itu pamit setelah berbincang lama dan menyampaikan apa yang harusnya disampaikannya.


***


Sepeninggalan sahabat mertuanya, Pram segera membuka amplop coklat yang membuatnya penasaran sejak tadi. Sepucuk surat berisi guratan pena hitam, tulisan tangan Riadi terukir di atas kertas putih yang sudah menguning.


Teruntuk putraku, Reynaldi Pratama,


Maafkan daddy untuk semua dosa yang mungkin tidak bisa daddy ceritakan secara detail di sini.


Di ruang kerjaku, di brangkas, bergabung dengan dokumen pribadi milik Kailla, ada data-data masa lalumu. Cari tahu semuanya di sana. Kamu putra Citra Wijaya dan Pratama Indraguna.


Aku titip Kailla padamu. Sebisa mungkin rahasiakan masa lalu mamanya. Jangan cari tahu lagi keluarga Rania Sari. Biarkan Kailla tidak tahu apa-apa. Simpan semua untukmu sendiri.


Hal terpenting yang belum aku sampaikan padamu. Rania Sari itu orangnya Andi Wijaya, makanya aku menolak menikahinya. Rania, adalah j’alang yang dibayar untuk menjebakku. Dan menguasai semua asetku. Jangan pernah libatkan Kailla dengan keluarga Rania, aku curiga bukan hanya Rania yang terlibat, tetapi kakaknya Reino juga. Jauhkan Kailla dari keluarga mereka. Tutup fakta ini untukmu sendiri.


Mengenai Anita, aku minta maaf untukmu. Selama ini aku menutupi agar kamu tidak kecewa. Aku tidak tahu perempuan itu benar-benar mencintaimu atau tidak, tetapi dia terlibat dengan Andi Wijaya. Siapapun yang terlibat dengan Andi Wijaya, tidak akan kubiarkan mendekati keluargaku.


Aku rela menjadi orang yang disalahkan atas berakhirnya hubunganmu dan Anita, meninggalnya bayimu yang tidak berdosa, tetapi aku tidak bisa membuat Kailla terancam karena keberadaan Anita di dalam hidupmu.


Terakhir, sampaikan maafku untuk Kailla. Aku bersalah pada anak itu karena telah menelantarkannya selama ini. Seharusnya aku tahu, dia tidak bersalah sama sekali atas dosa mamanya. Aku terlambat menyadarinya.


Tolong jaga Kailla untukku, karena aku tahu saat surat ini sampai di tanganmu. Aku sudah terbujur kaku.


Daddy,


Riadi Dirgantara.


***


TBC