
Hari berganti petang, malam pun siap menyambut, memeluk dalam kegelapan. Kailla baru saja selesai membantu mertuanya menghabiskan makan malam ketika Pram masuk dengan wajah lelahnya. Tiada hari Pram pulang tanpa kelelahan yang menghiasi ketampanannya di usia tidak muda lagi.
Pakaian casual yang tadi sore terlihat rapi sekarang tampak acak-acakan, menyimpang dari standar kerapian nasional. Dengan langkah gontai memeluk istrinya yang terkejut sembari memegang piring kosong di tangan.
“Kamu, kenapa?” tanya Kailla heran, tidak bisa membalas pelukan dikarenakan kedua tangannya masih memegang piring dan mangkok bekas makan malam Ibu Citra.
“Aku lelah,” bisik Pram pelan, tepat di daun telinga Kailla. Bibir berbisik itu mengecup area telinga istrinya. Kecupan lembut dan ringan, dengan kepala disandarkan di pundak istrinya.
“Ada masalah di kantor?” tanya Kailla masih dengan kebingungannya.
Ibu Citra yang terlihat semakin sehat ikut keheranan dengan tingkah laku putra kesayangannya . Putra semata wayang dan satu-satunya. Kalau kata Sam, the one and only. Tiba-tiba Pram masuk, mencari dan langsung memeluk istrinya.
“Tidak, aku hanya lelah saja,” sahut Pram, masih menyandarkan setengah tubuhnya pada Kailla.
“Lalu kenapa kamu tiba-tiba jadi manja begini,” tanya Kailla, mengulum senyuman.
Pram menarik nafas panjang, menghembuskannya. Mengulangnya beberapa kali, sebelum membuka suara dan mulai terlihat seperti Pram biasanya.
“Luangkan waktu seminggu, Kai. Ada sedikit masalah dengan perusahaan di Austria. Kita akan kesana setelah mama diizinkan pulang ke rumah,” jelas Pram.
“Masalah apa?” tanya Kailla.
”Kalau hanya seminggu, tidak masalah kamu berangkat sendiri ke Austria,” lanjut Kailla.
Pram mundur selangkah, memperlebar jaraknya berdiri supaya lebih leluasa menatap wajah istrinya.
Bagai simbiosis mutualisme, keduanya saling bergantung di ranah yang berbeda. Dalam kehidupan rumah tangga mereka, Kailla sangat bergantung pada Pram.
Sebaliknya Pram juga membutuhkan Kailla. Ada situasi dimana dia hanya bisa berbagi dan menjadi orang berbeda hanya saat bersama istrinya. Dia tidak akan bisa tenang meninggalkan Kailla sendirian. Dia membutuhkan kehadiran Kailla disaat-saat tertentu.
“Tidak, aku akan pergi, kalau kamu juga ikut bersamaku,” jelas Pram, kembali menunggu kalimat persetujuan seperti biasanya.
Tapi tidak lebih dari seminggu kan?” tanya Kailla memastikan.
Sebuah anggukan dari suaminya, membuat Kailla tersenyum menyiratkan persetujuan.
“Aku lapar sekarang, ada makan malam apa?” tanya Pram.
Kailla menggeleng. “Kita makan dibawah saja, bagaimana?”
“Baiklah, sekalian kita pacaran,” goda Pram, sudah menggandeng mesra tangan istrinya.
Keduanya berpamitan, setelah memastikan Ibu Citra tidak membutuhkan apa-apa lagi. Meninggalkan Ibu Citra bersama dengan Ibu Ida yang sekarang ditugaskan Pram untuk menjaga mamanya apabila Kailla ada keperluan lain.
Baru saja mereka keluar dari ruangan, tampak dari arah berlawanan si tampan titisan dewa Yunani versi Kailla sedang duduk di kursi roda, didorong perawat menuju kamarnya. Tidak terlihat sanak saudara yang mendampingi. Ketika jarak semakin dekat, terlihat lelaki tampan itu menyunggingkan senyuman.
Pram yang tidak tahu menahu mengenai pertemuan istrinya dengan pasien kamar sebelah tidak menaruh curiga sama sekali. Bahkan lelaki itu, tidak menanggapi senyuman yang dipersembahkan untuk mereka. Pram menatap lurus ke depan, sesekali melirik istrinya yang senyum -senyum sendiri.
Menyelesaikan makan malam di restoran yang terletak di lantai satu rumah sakit, pasangan suami istri kembali ke kamar mereka.
Pram menghempaskan tubuhnya di sofa, setelah menurunkan sandaran kursi. Bersiap meluruskan tubuhnya yang penat karena seharian bekerja. Belum juga matanya terpejam sempurna, teriakan kekesalan Kailla sudah membuat rasa kantuknya terbang ke udara.
“Sayang, kenapa?” tanya Pram, membuka mata. Senyum terukir saat sebuah celana jeans biru melayang tepat menimpa tubuhnya.
“Sayang, apa-apaan ini?” omel Kailla saat melihat isi koper.
Kemeja kerja Pram yang tadinya sudah tersusun rapi di bagian atas, sekarang berantakan di lantai. Bahkan ****** ***** Pram terlempar sampai ke depan pintu kamar mandi. Mungkin karena terlalu ringan, lemparan Kailla yang tidak berperasaan membuat pakaian pribadi suaminya itu terlempar paling jauh di antara pakaian yang lain.
Pram baru saja menurunkan kakinya, tapi matanya tertuju pada lingerie merah transparan yang dibelikannya untuk Kailla bulan lalu teronggok tidak jauh dari kemeja putihnya.
“Ada apa Kai?” tanya Pram, heran. Mendadak istrinya berganti mood.
“Siapa yang menyiapkan pakaianku? Siapa yang memerintahkan membawa lingerie-lingerie ini?” tanya Kailla kesal.
“Aku memerintah Sam, supaya meminta Ibu Ida menyiapkan pakaian kita. Tetapi aku tidak meminta membawa lingerie,” jelas Pram, dengan tangan kiri tertumpu di pinggang. Kepalanya pusing mendadak, melihat kekacauan yang diciptakan istrinya. Isi koper berantakan di lantai, berhamburan seperti Nagasaki dan Hiroshima sesaat selesai di bom.
“Sudahlah Kai. Kamu bisa memakai salah satu kemejaku,” tawar Pram, mencoba memberi solusi. Kepalanya sakit mendengar ocehan istrinya.
“Sam benar-benar kelewatan. Apa maksudnya coba membawa lingerie ke rumah sakit,” dengus Kailla semakin kesal melihat lingerie berbagai model yang masih tersusun rapi di dalam koper.
Di dalam koper hanya ada dua potong dres sederhana yang biasa dipakainya keluar dan lingerie saja. Tidak ada baju tidur atau kaos longgar yang bisa digunakan untuk tidur. Sam mengerjainya.
Pram tertawa, memeluk Kailla dari belakang. Ikut memandang ke arah yang sama.
“Kamu tidak perlu memakai lingerie itu, aku lebih suka kamu tidak memakai apa-apa,” bisik Pram, tangan nakalnya sudah menarik turun retsleting di sisi belakang dress hitam Kailla. Dalam hitungan detik, punggung mulus dengan ikatan bra hitam terpampang nyata di depan mata,
“Ah... !” desah bercampur kesal lolos dari bibir Kailla.
“Sudah, aku mau ganti pakaian dulu!” ucap Kailla dengan nafas terengah-engah.
Bagaimana tidak, tangan Pram tidak hanya mengerayanginya, tapi bibir suaminya itu sudah mengecup tengkuk dan lehernya. Bahkan lelaki itu sudah memnbuat kuncir kuda pada rambut panjangnya supaya tidak mengganggu aktivitasnya.
“Sayang, kita ke hotel ya?” tawar Pram, sudah tidak sabar melampiaskan hasratnya.
“Aku menginginkanmu, tapi tidak mungkin kita main disini,” jelas Pram dengan suara serak dan berat.
“Huh! Kalau memang ke hotel untuk apa kita menginap kesini. Tujuan kita disini untuk menjaga mama,” dengus Kailla kesal.
“Mama baik-baik saja. Dia pasti mengerti. Sekarang ini, aku yang tidak baik-baik saja,” jelas Pram, dengan suara serak.
Suaranya kian berat. Terus menerus menelusupkan wajahnya di tengkuk Kailla. Kedua tangannya pun terus bergerilya, berusaha membujuk Kailla dengan cara yang berbeda.
“Ayo Kai, kita ke hotel,” bujuk Pram kembali. Nafas Pram semakin berat, berusaha menahan hasrat yang sebentar lagi mencapai puncak.
“Disini saja.” Akhirnya Kailla mengalah. Mengizinkan Pram menguasainya di kamar rumah sakit.
Mendapat izin dari istrinya, Pram menggila. Bergegas mengunci pintu kamar dan menarik istrinya ke atas ranjang rumah sakit. Untuk keamanan bersama, Pram masih sempat menarik gorden untuk menutupi area brankar.
Keinginan terpendamnya sejak siang tadi tersalurkan. Bahkan masalah yang mengisi pikirannya untuk sementara terlupakan. Dia sedang menikmati detik-detik terindah dengan Kailla.
Penyatuan indah itu, berakhir dengan sebuah kecupan manis di kening istrinya. Kailla sudah melemas, tidak bertenaga. Pram tidak pernah puas, sebelum melihat Kailla menyerah.
“Sayang, kenakan ini!” Pram menyodorkan kemeja putihnya di atas tubuh telanjang istrinya.
“Tahu begini, mendingan ke hotel saja.” Kailla mengeluh, pinggangnya terasa sakit.
“Sudah aku sarankan ke hotel, kamu masih membantah!” sahut Pram.
“Tapi, tidak apa-apa. Kapan lagi kita punya kesempatan menikmati indahnya menyatu di kamar rumah sakit. Lagipula, harga kamar ini setara harga kamar di hotel bintang lima,” lanjut Pram usil.
“Huh! Aku tidak mau lagi. Cukup ini yang pertama dan terakhir. Pinggangku hampir patah!” Kailla kembali mengeluh.
“Tapi, terimakasih Sayang,” bisik Pram, sudah berpakaian kembali. Mengunci tubuh Kailla yang tergolek lemas di atas brankar. Kecupan manis, dilabuhkan hampir diseluruh wajah istrinya.
Kamu mau tidur disini atau bersamaku di sofa?” tanya Pram, telunjuknya mengarah ke sofa putih yang siap ditiduri.
Kailla bangkit, segera mengenakan kemeja putih milik Pram. Dengan sigap mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, meminta gendong seperti biasa.
***
Malam berakhir, pagi pun menjelang datang. Pram yang terjaga lebih dulu, tampak membangunkan Kailla. Dia harus meminta istrinya melakukan pengecekan, memastikan bayi meraka sudah tumbuh atau belum di rahim Kailla.
“Sayang.. Sayang..,” bisik Pram. Mengguncang tubuh Kailla pelan.
Kailla mengerjap beberapa kali. Belum sadar sepenuhnya saat Pram menyeretnya ke kamar mandi. Menyerahkan bungkusan berisi test pack dan penadah urine yang dibelikan Bayu kemarin siang.
“Kenapa tidak besok-besok saja. Saat memang sudah benar -benar terlambat!” gerutu Kailla, tapi akhirnya dia menurut.
Dengan mata yang masih terpejam, Kailla mengikuti perintah Pram. Suaminya itu menunggu di luar pintu kamar mandi, setelah Kailla mengusirnya paksa.
“Masa mau melihat aku pipis!” gerutu Kailla, dengan mata mengantuknya.
Membuka kasar bungkusan test pack, membuangnya ke dalam tempat sampah di bawah wastafel. Tidak butuh waktu lama, Kailla sudah keluar dengan langkah gontai meninggalkan Pram yang berdiri dengan harap-harap cemas di depan kamar mandi.
“Bagaimana hasilnya, Kai?” tanya Pram, matanya membuntuti pergerakan istrinya yang sudah kembali berbaring di sofa.
“Di dalam!” sahut Kailla, melanjutkan tidurnya kembali.
Pram menurut, masuk ke dalam kamar mandi untuk mencari tahu. Matanya tertuju pada benda asing yang baru kali ini dilihatnya. Benda pipih memanjang yang dicelupkan dalam wadah kecil berisi cairan, diletakan di atas meja wastafel.
“Bagaimana cara melihat hasilnya ini,” ucap Pram membeku di tempat, mengangkat wadah berisi cairan itu perlahan, takut tertumpah.
***
To be continued
Love You All
Terimakasih,