Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 163 : Pergi dengan ikhlas


“Iya, selamat siang,” sapa Pram dengan suara datarnya, fokus mendengarkan informasi yang disampaikan si penelepon dari seberang.


Sedetik kemudian, pandangan Pram membeku menatap istrinya. Raut wajah tenang itu berubah pucat, langsung memeluk istrinya yang tidak tahu apa-apa.


“Sayang ....”


Alunan sapaan manja Kailla mengalun lembut di telinga, menyiratkan kebingungan. Tanda tanya besar akan sikap aneh suaminya yang tiba-tiba mendekap dan mengusapnya lembut.


“Hmmmmm,” gumam Pram, merengkuh tubuh Kailla dalam pelukannya. Sejurus memandang ke arah mamanya seperti ada yang ingin disampaikannya.


“Kai, habiskan makananmu, setelah itu temani aku ke rumah sakit. Kita menjenguk daddy.”


Senyuman hangat terukir di wajah tampan Pram. Raut itu bisa bersikap tenang, tetapi pikiran dan otaknya sudah menerawang jauh. Merangkai kalimat di dalam diam, mencari penyampaian paling sederhana dan tidak menyakitkan.


Anggukan penuh keyakinan. Kailla begitu bersemangat, akan dipertemukan kembali dengan daddynya.


“Ada yang harus aku bicarakan dengan mama.” Sebuah kecupan ringan di pucuk kepala Kailla, seperti biasanya sebelum Pram bergegas ke kamar sang mama untuk berbagi cerita duka yang akan menumbangkan istrinya sebentar lagi.


***


Ma, mertuaku sudah tidak ada lagi.”


Ucapan bagai petir di siang bolong itu cukup menyentak perasaan Ibu Citra. Bagaimana tidak, baru beberapa hari yang lalu dia menemui musuh besarnya, untuk mengantarkan maaf dan sekarang lelaki itu pergi tanpa sepatah kata.


“Ya Tuhan ....”


“Aku harus bagaimana, Ma? Aku akan melihat Kailla hancur di depan mataku sendiri tanpa bisa berbuat apa-apa,” ucap Pram dengan nada kepasrahan. Dia tidak bisa berbuat banyak.


Pram mendekap mamanya sambil menangis, menumpahkan perasaan yang mengumpul sejak beberapa menit yang lalu. “Ini bukan akhir yang aku harapkan, Ma. Lebih tepatnya belum sekarang, di saat istriku butuh kekuatan dan rasa bahagia menyambut kelahiran anak-anak kami,” ucap Pram menahan isaknya.


“Tidak ada yang tahu, kapan semua itu akan terjadi di hidup kita. Kita tidak bisa memilih dan protes. Yang bisa kita lakukan hanya menghadapinya. Setidaknya mama lega, sudah menemuinya untuk mengirim kata maaf yang mungkin selama hidup sangat ditunggunya,” ucap wanita tua itu mengusap kepala Pram.


Lelaki itu bersimpuh memeluk pinggang ibunya, menangisi keadaan yang tidak berpihak padanya. Dia sedang belajar ikhlas. Kesakitan mertuanya memang sudah berakhir, tetapi kesakitan istrinya baru dimulai. Kalau bisa menjadi tidak egois, dia juga ingin mengantar Riadi ke peristirahatan terakhirnya dengan senyuman.


“Ma, aku harus bagaimana? Tolong menginap di tempatku sementara ini, sampai Kailla kuat. Tolong bantu istriku, Ma. Aku tahu ini pasti tidak mudah untuknya. Aku mohon ....”


Untaian kalimat menyayat hati itu meluncur lancar dari bibir kering Pram. Dia tidak punya jalan lain selain menemani Kailla menghadapi kenyataan tersulit di dalam hidupnya.


“Ya ... mama akan menemani Kailla sampai semua duka ini berakhir.”


***


Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Pram tidak sekali pun melepas pelukannya dari sang istri. Jemari-jemari itu senantiasa mengusap lembut pucuk kepala Kailla bergantian mengelus perut buncit yang tertutup gaun satin berwarna peach. Kecupan berkala dilabuhkan Pram demi menunjukan perasaan cintanya yang tak terbatas.


Ibu Citra yang duduk di samping Kailla hanya bisa mengulas senyum, melihat cinta luar biasa yang ditunjukan Pram pada istrinya.


Degup jantung semakin kencang kala langkah kaki kian mendekat. Ketika mata sudah disuguhkan pemandangan perawat berjalan cepat, kesana kemari dengan seragam putihnya, perasaan Pram tambah tidak karuan. Gengaman tangannya pun kian mengerat, memastikan istrinya adalah wanita yang kuat.


Begitu tertinggal beberapa langkah mendekat dengan ruangan yang selama empat tahun belakangan ini dihuni Ridi Dirgantara, deretan asisten sudah berdiri di depan pintu dengan wajah tertunduk. Di antara semua, terlihat Donny paling terpukul. Lelaki itu dengan wajah sembab, bersandar di dinding. Sam, Bayu dan Ricko lebih terlihat santai, meski raut kesedihan terlihat jelas.


Sampai sejauh ini, Kailla belum memiliki firasat apapun, terlihat dari wajah cerianya yang masih tercetak jelas, sesekali menggoda Sam yang tidak meladeninya.


“Sayang, kita tidak menemui perawat dulu?” tanya Kailla heran, menghentikan langkahnya. Tidak seperti biasa, sebelum masuk ke kamar Riadi, biasanya mereka harus mengabari dokter atau perawat jaga.


Hanya senyuman sebagai jawaban, Pram memilih merengkuh tubuh Kailla yang kebingungan. Mungkin sampai disini Kailla sudah mulai membaca kejanggalan, hal-hal kecil yang tidak biasa.


Begitu kamar itu terbuka, hanya senyap yang menyapa mereka. Suara denyut alat bantu medis yang biasanya menyambut mereka, sekarang sudah tidak ada lagi. Di dalam tampak dua orang perawat sedang merapikan alat-alat yang sebelumnya menempel di tubuh Riadi dan menyingkirkannya menjauh dari raga terbujur kaku di atas brankar rumah sakit.


Deg—


Kailla melepas genggaman tangan suaminya. Pikiran buruk itu sudah menyesak di pikirannya, tetapi hatinya masih belum mau menerima. Berlari kecil menahan tangis, jantung Kailla bergemuruh. Saat jarak hanya terpisah selembar kertas tipis, tangannya mengenggam tangan daddy yang tak bertenaga dan sedikit kaku.


“Sayang, daddy bangun? Sudah sembuh, kah?” tanya Kailla berbalik menatap Pram yang mengekor di belakangnya.


Wajah cantik itu berurai air mata tetapi bibirnya tersenyum. Pram tahu Kailla sudah tahu apa yang terjadi, hanya belum siap menerima kenyataan.


“Sayang, coba lihat. Daddy sudah tidak perlu mengenakan alat-alat ini, ternyata daddy bisa,” ucap Kailla, menarik tangan Pram, setengah menyeret suaminya mendekat.


Pram hanya menurut, tidak berani bersuara sedikit pun. Membiarkan Kailla menghadapi kenyataan dengan caranya sendiri.


“Dad, aku datang untuk menjemputmu pulang. Pasti daddy sudah bosan terlalu lama tidur di sini. Punggungmu sakit, kan?” ucap Kailla berbincang seperti biasa.


Suaranya bergetar, menahan rasa yang susah payah disembunyikan. Kedua telapak tangan mengusap kasar wajah yang berderai air mata. Sebagian make-upnya luntur terkena sapuan air yang luruh dari kelopak mata.


“Sudah aku katakan berulang kali, ayo kita pulang. Tulang punggungmu sudah tidak sanggup berbaring terlalu lama di ranjang keras ini. Daddy pasti rindu kasur empukmu, kan?”


“Ya kan, Sayang?” tanya Kailla, menatap suaminya meminta pembenaran.


“Ya, Sayang.” Pram mengangguk, menggigit bibirnya menahan rasa yang sama. Melihat Kailla seperti ini hatinya teriris-iris.


“Dad, ikan koi-mu sudah besar, sudah beranak cucu. Ayo kita pulang, Pram sudah merenovasi kamar daddy sekarang,” ajak Kailla, merengkuh tangan keriput yang kaku dan mulai mendingin dibanding sebelumnya.


“Kamar daddy yang sekarang nyaman sekali. Ayo, kita pulang. Aku akan menunjukannya padamu, Dad.”


Tangan Kailla kembali menggengam tangan daddynya dengan erat. Meletakan perlahan di perut besarnya.


“Dad, kamu bisa merasakan? Cucu kembarmu sedang memanggilmu dari dalam sini,” ucap Kailla lagi.


“Dad bisa mendengarnya kan. Suaranya kecil sekali,” lanjut Kailla, membuat Pram frutrasi sendiri mendengar ocehan istrinya.


“Sayang, sudah. Jangan begini,” ucap Pram, merengkuh pundak Kailla, berusaha menguatkan istrinya.


Tidak melihat respon apapun dari Riadi, kembali Kailla menguncang tubuh daddynya. Menghambur dan memeluk dengan tangis meraung di dada kurus, tulang berbalut kulit. Menumpahkan tangis yang ditahannya sejak tadi.


“Dad, jangan pergi dulu. Bagaimana denganku kalau daddy pergi. Aku belum membuat daddy bahagia,” ucapnya, di sela isakan. Tubuh itu melengkung, telungkup di dada kaku Riadi.


Tidak ada denyut jantung lagi disana, tidak ada tarikan nafas dan hembusannya. Kulit tubuh lemah tidak berdaya itu memucat sudah. Dengan bibir membiru mengulas senyum tipis tanpa arti. Ya, Riadi pergi dengan sudut bibir terangkat ke atas. Wajah damai penuh keikhlasan dan kerelaan.


***


TBC