
"Sam!!" teriak Pram, masih dengan memeluk istrinya.
Sam buru-buru berdiri di depan Pram, ikut menatap punggung Kailla yang sedang memeluk suaminya sambil menangis.
"Lama-lama nyawaku tinggal segaris kalau momongin Non Kailla tiap hari. Harusnya sedari rumah mertuanya sudah boleh menangis seperti ini, jadi aku tidak mungkin membawanya bertemu Pak Pram. Kalau sudah begini, kan aku lagi yang kena semprot!" gerutu Sam dalam hati.
Apa yang terjadi?" tanya Pram, menatap tajam asisten istrinya. Nada bicaranya sedikit melemah, tidak sekeras sebelumnya.
Otaknya kembali waras, tersadar mereka sedang di parkiran apartemen.
"Ma-af, a-aku tidak tahu jelas Pak. A-aku hanya me.."
"Sayang, aku mau tidur," ucap Kailla di sela isak tangisnya. Masih dengan wajah yang dibenamkan di dada kekar suaminya.
Dengan terpaksa dia menghentikan kalimat Sam, dia tidak mau Sam mengadu ke suaminya.
Salahnya juga datang ke rumah mamanya Pram. Pikirannya kembali, semua akan menjadi panjang kalau sampai suaminya tahu. Padahal, Pram sudah mengatakan dengan jelas, untuk tidak mendatangi atau saling bersilahturami dengan mamanya saat ini.
Pram heran, tangis Kailla tiba-tiba berhenti. Saat ini dia bisa menatap jelas pipi memerah istrinya, bekas tamparan tangan.
"Ayo, kita menginap disini saja malam ini," ajak Pram. Kedua tangannya sedang merapikan jaket yang membalut baju tidur satin istrinya.
"Kenapa keluar dengan baju tipis seperti ini," keluh Pram, merapikan rambut berantakan yang menutupi wajah istrinya.
Tangannya sudah menggengam jemari Kailla, mengajaknya masuk ke dalam gedung apartemen.
Kailla berbalik, menatap Sam dan memberi kode supaya asistennya itu tutup mulut. Tidak menceritakan apapun pada suaminya.
Sam mengangguk dalam diam, mengangkat jempol pertanda paham maksud majikannya.
"Sayang, katakan padaku apa yang terjadi?" tanya Pram, ketika mereka sudah berada di dalam lift.
Bayu dan Sam memilih bediri di belakang, tidak mau mengganggu keduanya.
Kailla menggeleng, menolak menjawab. Dalam hati kecilnya sudah ingin mengadu dan berteriak, tapi dia ragu. Bagaimanapun setelah ini pasti hubungan ibu dan putranya akan pecah berantakan dengan sepotong kalimat yang keluar dari bibirnya. Dia tahu seberapa pentingnya hubungan Pram dengan mamanya.
"Tidak mau bercerita padaku?" tanya Pram lagi, masih terus merayu dengan lembut. Membiarkan Kailla yang sekarang memeluk erat pinggangnya.
"Aku terjatuh dari tangga," ucap Kailla singkat.
"Ah, bagaimana bisa?" tanya Pram heran, menyentuh pelipis yang mulai membiru.
"Itu karena si Sam mengagetkanku," adu Kailla.
"Sam, kamu mengerjai istriku lagi?" tanya Pram, mengelus pipi Kailla yang memerah. Pandangannnya tidak beralih sedikitpun dari wajah istrinya.
"Ti-tidak Pak." Sam menjawab dengan terbata.
"Setelah ini kita harus bicara Sam. Aku harus mengobati luka Kailla dulu," pinta Pram, sesaat sebelum keluar dari lift.
***
Pram mengajak Kailla masuk ke kamar. Sudah hampir empat tahun apartemen ini tidak ditinggali lagi. Pram membiarkannya kosong tanpa penghuni. Bahkan dia tidak menyewakannya seperti apartemennya yang lain.
Ada banyak kenangan mereka disini. Awal pernikahan mereka disini. Dia tidak mungkin membagi tempat penting ini dengan orang lain.
"Jujur padaku, apa yang terjadi? Siapa yang memukulmu?" tanya Pram, berjongkok di depan Kailla yang duduk di sisi ranjang.
Baru saja dia selesai mengoles obat di wajah istrinya.
"Tidak ada. Sam yang bertanggung jawab untuk semua luka di wajahku. Dia yang tidak bisa menjagaku dengan baik," ucap Kailla melempar kesalahan pada Sam.
"Aku tidak percaya padamu," ucap Pram membuka satu per satu kancing kemejanya. Melempar asal pakaiannya hingga tertinggal kaos dalam saja.
Masih berusaha tersenyum, membuat istrinya nyaman dan mau terbuka, berbagi cerita dengannya.
"Aku juga mau tidur saja," ucap Kailla, ikut melempar jaketnya. Mengalihkan pembicaraan. Dia sudah berbaring memeluk guling.
"Baiklah, aku menemui Sam dulu!" ucap Pram santai, berbalik ke arah pintu.
Deg--
"Sayang, temani aku tidur saja ya," bujuk Kailla. Bergegas memeluk Pram dari belakang. Tangannya sudah menyusup masuk dibalik kaos Pram, mengusap dada bidang dengan sentuhan jarinya.
"Jangan menggodaku Kai," tolak Pram, memukul lembut tangan Kailla yang mulai nakal.
"Ayolah, temani aku tidur," bujuk Kailla. Bagaimana pun untuk saat ini dia harus menyembunyikannya dari Pram.
Kalau sampai suaminya tahu, dia hanya akan disuruh duduk manis di rumah seperti biasanya. Kali ini dia akan menghadapi mertuanya langsung. Masalah sebenarnya bukan di hubungannya dengan Pram tapi berhubungan dengan daddy. Itu berarti menjadi urusannya juga.
"Hanya tidur, tidak untuk yang lain," ucap Pram lagi.
"Ayo, kemarilah," ajak Kailla menyeret Pram ikut berbaring padanya.
"Sayang, jangan memarahi Sam ya," pinta Kailla, memeluk suaminya.
"Dia tidak sengaja membuatku jatuh dari tangga," lanjut Kailla lagi.
"Ini termasuk tidak parah. Aku jatuh dari lantai dua menggelinding ke lantai satu," sahut Kailla melebih-lebihkan.
"Bayangkan saja, harusnya aku sudah menghadap Yang Kuasa," lanjut Kailla.
"Kenapa bicara seperti itu?" tanya Pram heran.
"Tidak, aku hanya bercerita seberapa mengerikannya peristiwa tadi. Untung ada Sam. Kamu jangan memarahinya ya."
"Lagipula ini karenamu, aku jadi sendirian di rumah. Kalau malam, di luar kamar itu mengerikan Sayang," lanjut Kailla.
"Ya Sudah, maafkan aku. Ada masalah di proyek," jelas Pram. Mengusap lembut punggung Kailla hingga istrinya tertidur.
***
Setelah memastikan istrinya tertidur, Pram mengendap- endap keluar kamar menemui Sam. Dia tidak yakin dengan ucapan Kailla. Pasti ada yang disembunyikan istrinya itu.
"Sam!" panggil Pram.
Asisten Kailla itu sedang terlelap di sofa. Tidak jauh dari Sam, tampak Bayu juga sedang tidur dengan posisi duduk.
"Sam!!" panggil Pram sekali lagi dengan suara lebih keras dari sebelumnya.
"A..a..a-ada apa Pak?" sahut Sam tergagap, terbangun tiba-tiba sembari mengumpul nyawa yang sedang berhamburan kemana-mana.
"Apa yang terjadi dengan istriku?" tanya Pram. Sudah bertolak pinggang, menatap tajam pada Sam.
Sam sedang berdiri dengan sempoyongan. Jangankan untuk menjawab pertanyaan Pram, untuk berdiri tegar pun dia masih butuh waktu.
"Aku tidak tahu Pak. Aku juga baru tahu kalau wajah Non Kailla penuh luka," sahut Sam, sembari mengucek mata.
"Apa kerjaanmu seharian ini? Istriku sudah babak belur begitu, kamu masih mengatakan kalau kamu tidak tahu!" omel Pram.
"Aduh bagaimana mengatakannya. Aku bersumpah, aku tidak tahu. Sungguh Pak," sahut Sam lagi.
"JADI APA TUGASMU!" teriak Pram mulai kesal.
Sam sudah berdiri gemetaran. Bingung harus menjawab apa.
"Sepulang dari kantor istriku pergi kemana saja?" tanya Pram lagi.
"Ti-tidak kemana-mana Pak," sahut Sam berbohong demi Kailla.
"BAY!!" teriak Pram, mengagetkan Bayu yang masih terlelap.
"I-iya Bos!" sahut Bayu tergagap, berdiri menunduk di samping Sam.
"Pergi ke unit David, minta dia cek mobil Kailla kemana saja seharian ini!" perintah Pram, membuat kedua asistennya menciut.
"Aku tanya sekali lagi, jawab yang jujur. Siapa yang menampar istriku?" tanya Pram. Berdiri tepat di depan Sam. Menepuk kencang pundak asisten Kailla itu, hingga mundur beberapa langkah.
Bayu sudah berlari keluar menuju unit David yang berada di apartemen yang sama. Dia juga sama takutnya dengan Sam. Melihat kondisu Kailla yang bonyok, tidak mungkin Pram melepaskan Sam semudah itu. Kalau dia salah sedikit saja, bisa ikut kena getahnya.
"Sa-saya serius tidak tahu apa-apa Pak."
Plakk!!
Sebuah tamparan mendarat di wajah Sam. Tepat di pipi kirinya. Jawaban tidak tahu yang keluar dari bibir Sam, seketika memancing emosi.
"Siapa yang memukul istriku?" tanya Pram mengulang kembali.
Sam benar-benar bingung, dia sendiri memang tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah Ibu Citra. Kalau dia tahu, dia akan memilih menjawab jujur saja saat ini.
"Saya bersumpah, saya tidak tahu Pak. Serius ini.. saya tidak bohong," sahut Sam ketakutan, mengancungkan tangan dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.
"Jawab lagi tidak tahu!" gertak Pram dengan tangan mengepal. Garis rahangnya mengeras. Urat-urat di leher, keluar dan menonjol menunjukan kemarahannya.
Pram sudah bersiap kembali melayangkan tamparan kedua, tapi Sam mencegahnya.
"Tung- tunggu Pak. Bisa gantian yang sebelah kanan saja Pak. Yang kiri masih berasa sakitnya," ucap Sam, menangkup pipi kiri dengan tangannya.
"SAM! aku tidak sedang main-main!" ucap Pram dengan serius.
"Maaf Pak, aku tadi membawa Non Kailla ke tempat Ibu Citra," sahut Sam tertunduk.
Pram menghela nafas kasar. Masih dengan menatap tajam ke arah Sam, mengeluarkan ponsel pintar di tangannya. Mengecek cctv yang terhubung dengan kediaman Ibu Citra.
***
to be continued
Love You all
Terima kasih
Maaf ya, beberapa hari ini pekerjaanku di dunia nyata menumpuk. Jadi jadwal tidak seperti biasanya. Tapi aku usahakan up paling gak 1 bab sehari.