Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 65 : Bawa Istrimu Ke Hotel


Bayu tertunduk. Tidak berani mengangkat kepala saat berhadapan dengan majikannya. Tidak jauh dari tempatnya berdiri, tampak Kinar terlihat sedih.


“Ma, aku janji tidak akan mencari masalah dengan Kailla lagi. Biarkan aku tetap disini merawatmu,” pinta Kinar, memohon dengan penuh kesungguhan. Tidak jelas apa maksud dan tujuannya untuk tetap bertahan di rumah sakit, padahal dia mendengar sendiri Pram sudah mengusirnya secara halus.


Ibu Citra tertegun. Tidak sanggup membuka suara atau membantah semua permintaan putranya. Dia juga menginginkan Kinar bersamanya. Selama ini hanya Kinar yang paling mengerti dan merawatnya dengan setulus hati.


Tetapi dia juga tidak berdaya. Saat ini dia tidak memiliki kekuasaan apa-apa, ditambah sejak beberapa hari yang lalu dia sudah melihat sendiri bagaimana ikatan antara orang tua dan anak yang biasanya dipakai untuk menekan putranya sudah tidak bisa diandalkan. Pram memberontak sudah. Tidak sesantun sebelumnya.


“Nak, istirarahat di rumah saja. Besok pagi baru ke sini lagi,” pinta Ibu Citra, tersenyum.


Kinar menurut, bergegas mengemasi barang-barang pribadinya. Memasukannya ke dalam tas, kemudian melangkah keluar. Tetapi tangannya baru meraih gagang pintu, suara berat Pram mengejutkan semua yang ada di dalam kamar perawatan.


“Urusan kita belum selesai!” tegas Pram. Masih dengan Kailla yang tidak rela melepas pelukannya, laki-laki itu berbalik.


Kinar mematung, menggenggam erat tas ditangannya.


“Apa tujuanmu menceritakan hal tidak penting itu pada istriku?” tanya Pram, geram.


“Maaf Mas, aku tidak memiliki tujuan apa-apa. Hanya takut Kailla salah paham,” Kinar memberanikan diri menjawab.


Pram terbahak, suara tawanya terdengar begitu mengerikan. Bahkan Kailla yang sedang memeluk pinggang suaminya menciut. Mengeratkan pelukannya, sembari menatap wajah kaku Pram yang memancarkan kemarahan.


“Sayang....,” bisik Kailla pelan sekali. Khawatir kalau dramanya ketahuan, bukan hanya Kinar bahkan dirinya pun akan kena semprotan suaminya.


“Bersyukurlah kamu terlahir sebagai perempuan, kalau tidak aku akan memukulmu saat ini juga.”


“Maaf Mas.” Kinar tertunduk, sesal tapi terlambat. Harusnya dia berpikir dua kali sebelum mengerjai Kailla tadi. Tetapi dia terlanjur terpancing emosi, akal sehatnya menghilang seketika.


Hanya kata maaf yang bisa keluar dari bibirnya. Lidahnya kelu, bahkan otaknya berhenti berpikir saat mendengar suara kemarahan Pram.


“Aku tidak mau melihatmu. Pastikan kamu tidak muncul di depanku atau istriku, setiap aku menemui mama!” titah Pram.


“Pram...!” Ibu Citra yang tidak mengerti duduk permasalahannya ikut menyela. Masih berusaha membela Kinar.


“Mama pilih aku atau dia?” tanya Pram, telunjuknya terarah tegas pada Kinar.


“Aku tidak masalah dia tinggal dengan mama, aku akan tetap membiayai hidupnya sebagai balas jasa sudah merawat mama selama ini. Aku hanya tidak mau dia berkeliaran di depan mataku.” jelas Pram, mengarahkan pandangannya pada sang mama.


Ibu Citra terisak. Kata-kata Pram menghantam lubuk hati terdalamnya. Baginya Kinar memiliki tempat tersendiri.


“Atau dia mau pergi. Aku akan memberi apapun yang dimintanya sebagai imbalan jasanya selama ini!” tawar Pram.


“Maaf Mas,” ucap Kinar menangis. Dengan keberanian yang entah muncul dari mana, dia menghampiri Pram, meraih tangan lelaki itu dan meminta maaf.


“Lepaskan aku. Melihatmu saja aku tidak mau. Berani sekali menyentuhku!” ucap Pram, menghempaskan tangan Kinar.


“Bay! Beri pelajaran perempuan ini!” teriak Pram.


“Seret dia keluar, kamu tahu apa yang harus dilakukan!” perintah Pram.


Bayu menurut, membawa Kinar keluar secepatnya. Kalau tidak menyingkirkannya, amarah Pram akan semakin menjadi.


Ibu Citra terus menangis. Tidak tega melihat, Kinar diperlakukan kasar oleh putranya sendiri. Sesekali dia mengusap dadanya yang terasa sesak.


“Kamu juga. Sudah kukatakan jangan pergi ke rumah sakit tanpa seizinku. Tetapi, tetap saja kamu membantah. Lihat kekacauan yang kamu buat, Kai,” ucap Pram tiba-tiba, melepaskan diri dari pelukan sang istri.


“Dan hukumanmu,” tegas Pram tertuju untuk istrinya.


“Kamu harus menggantikan tugas Kinar, menjaga mama mulai dari sekarang!” tegas Pram, menunjuk ke arah mamanya yang menangis hebat.


Kailla terkejut, ikut menatap ke arah mama mertuanya. Tidak berani membantah, tapi tidak menerima dengan sukarela pula. Kalau sebelumnya dia berniat menjaga mertuanya karena tidak rela Kinar melakukannya. Tapi sekarang begitu tugas itu benar-benar diserahkan padanya, ada rasa berat di dalam hatinya.


“Mau menolak?” tanya Pram berpura-pura serius. Melihat ekspresi wajah istrinya, dia sudah ingin tertawa.



“Tidak, aku tidak menolak,” sahut Kailla.




“Anak nakal! Pembuat masalah! Kamu pikir aku tidak tahu dramamu tadi,” bisik Pram, mendekatkan bibir di telinga istrinya.


Kailla menutup mulutnya. Bergegas menghampiri mama mertuanya yang menangis. Tidak mau mencari masalah dengan suaminya.


“Ma, jangan menangis lagi,” bujuk Kailla, meraih tisu di atas nakas, menghapus jejak air mata yang mengalir di pipi keriput itu. Sesekali ujung matanya melirik ke arah Pram. Suaminya sedang duduk bersandar di sofa, memejamkan mata seraya memijat pelipisnya.


“Minum, Ma,” tawar Kailla. Meraih gelas berisi air putih lengkap dengan sedotan dan meletakan diujung bibir mertuanya. Dengan tangan lain mengusap lembut punggung mertuanya.


Tidak lama, Ibu Citra mulai tenang. Kailla memilih menghampiri Pram. Suaminya sedang berbaring di sofa, masih lengkap dengan setelan kerja dan sepatu mengkilapnya. Dengan kedua tangan terlipat di dada, hampir tertidur saat Kailla menyapanya.


“Sayang, kamu sudah makan siang?” tanya Kailla.


“Aku membelikanmu bakmi goreng tadi di perjalanan ke rumah sakit,” lanjutnya lagi.


“Mmmmm,” gumam Pram, masih dengan mata terpejam.


“Mau aku siapkan?” tawar Kailla. Berdiri di sisi sofa, menunggu jawaban.


Pram tiba-tiba menarik tangan istrinya, membuat Kailla terjerembab menimpa tubuhnya yang sedang berbaring. Kedua tangannya segera mengunci pinggang istrinya supaya tidak bisa pergi menjauh.


“Dia menyakitimu tadi?” bisik Pram, menunjukan perhatian yang sejak tadi disembunyikannya. Matanya sedang mengabsen lekuk wajah Kailla, mencari tanda-tanda penyiksaan yang mungkin saja dilakukan Kinar pada istrinya.


“Ada mama,” bisik Kailla menahan malu, melirik ke arah Ibu Citra yang sedang menonton acara televisi.


“Biarkan saja. Mama pernah muda,” sahut Pram santai. Bahkan dia tidak peduli dengan keberadaan mamanya diantara mereka.


“Dia memukulmu?” tanya Pram lagi, menunggu jawaban.


“Tidak, dia menjambakku, aku juga melakukan hal yang sama. Tadi aku sempat menendang kakinya,” adu Kailla dengan bangganya.


Pram menggelengkan kepala.


“Kamu tahu, aku sangat mengkhawatirkanmu. Aku takut kamu melakukan hal gila, seperti memukulnya atau bahkan menusuknya dengan pisau buah itu,” jelas Pram menatap pisau buah yang tergeletak di lantai.


“Aku tidak sebodoh itu,” gerutu Kailla, dengan bibir mengerucut seperti biasanya.


“Aku tidak mau kamu terlihat salah di mata mama. Kalau harus memukul, biarkan aku yang melakukannya. Aku tidak mau tangan mulus ini menyakiti orang lain. Aku tidak mau orang-orang menyalahkanmu,” bisik Pram, tersenyum sembari mengecup kening istrinya.


Keduanya terdiam, saling menatap. Tetapi tiba-tiba, Kailla memukul dada Pram dengan kencang.


Buk!!!


“Aduh Kailla!! Ini sakit,” teriak Pram, mencekal kepalan tangan Kailla yang ingin mengulang kembali pukulan di dadanya.


“Aku belum membuat perhitungan denganmu. Beraninya kamu memeluk perempuan lain di belakangku,” omel Kailla, menatap tajam pada suaminya.


Suara teriakan Pram yang mengejutkan, mengalihkan konsentrasi Ibu Citra. Pandangannya beralih dari televisi ke arah Pram dan Kailla.


Wanita tua itu menggelengkan kepala melihat kelakuan anak dan menantunya, tumpang tindih di sofa sambil berbisik-bisik.


“Pram!!” panggil Ibu Citra.


“Mmmmm,” gumam Pram, tidak mengalihkan pandangannya sedikit pun dari sang istri.


“Kalau sudah tidak tahan, bawa istrimu ke hotel. Aku tidak mau menanggung malu, saat perawat masuk melihat kegilaan kalian berdua,” omel Ibu Citra.


Kailla menggigit bibirnya, wajah merona malu mendengar ucapan Ibu Citra. Respon berbeda ditunjukan Pram. Lelaki itu langsung berdiri merapikan jasnya, dengan menarik tangan istrinya dia berkata.


“Aku pamit Ma, mau ambil kamar dulu.” Pram tersenyum usil, mengedipkan sebelah matanya.


To be continued


Love You all


Terima kasih.