Istri Sang Presdir

Istri Sang Presdir
Bab 88 : Suami pilihan daddy


Ketiganya, Pram, Ibu Citra dan Kailla sudah duduk di meja makan, minus Bayu. Lelaki itu memilih makan di restoran yang terletak di bawah apartemen. Bayu sudah berpengalaman, dia tidak mau merusak cita rasa lidahnya dengan memakan masakan Kailla.


Cukup Pram dan Sam saja. Dia tidak sanggup berkorban sebesar itu hanya untuk menghabiskan masakan Kailla tanpa protes.


“Sayang, ini nasi goreng pertamamu,” ucap Pram sebelum memasukan sesendok penuh ke dalam mulutnya.


“Bagaimana Sayang?” tanya Kailla. Dia bukannya makan, tetapi menatap suami yang duduk di sebelahnya dengan seksama. Tatapan penuh kepenasaranan akan hasil racikan tangannya.


Pram menguyah dalam diam. Dengan susah payah menelan masakan Kailla kali ini. Benar-benar, tidak bisa disandingkan dengan telur ceplok. Telur mata sapi jauh lebih nikmat dan memanjakan lidahnya.


Jadi memang tidak perlu dipertanyakan lagi, kenapa Pram selama ini menjadikan telur ceplok istrinya sebagai menu favorit. Tiada lain dan tiada bukan karena hanya itu saja yang bisa diterima lidahnya yang hampir mati rasa karena cita rasa Kailla setiap memasak begitu tinggi.


Kailla bukannya tidak pernah memasak menu lain, tetapi Pram lebih memilih istrinya itu mencepolok telur saja. Lebih efektif dan efisien. Tidak membuang waktu dan tenaga.


“Bagaimana Sayang?” Kailla mengulang pertanyaan yang sama, setelah menunggu dengan antusias, Pram tidak kunjung memberi penilaian.


“Luma..” Pram tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kailla tiba-tiba sudah memotong.


“Aku merasa kurang yakin dengan rasanya. Malahan lidahku tidak bisa merasakan apa-apa. Hambar!” cerocos Kailla.


“Tetapi, menurut mama, rasanya sudah pas. Ya sudah, aku menurut saja. Lidahku memang tidak sehebat lidah orang lain, Sayang,” lanjut Kailla.


Ucapan Kailla yang begitu terus terang, sontak membuat Ibu Citra tersedak. Sejak tadi dia sudah mengerahkan segenap jiwa raganya untuk bisa menghabiskan sepiring besar nasi goreng tanpa rasa itu, tidak berani protes. Malu dengan kemampuannya sendiri.


Dia cukup bahagia, saat Pram menyuapkan sesendok demi sesendok tanpa banyak komentar. Tetapi sebaliknya, sang menantu menampar wajahnya secara tidak langsung. Mempermalukannya di depan putranya sendiri.


“Kurang ajar bocah ini. Licik sekali dia!” gerutu Ibu Citra dalam hati.


“Oh, rasanya lumayan. Selera mama tidak bisa dibandingkan dengan selera kita, Sayang. Mama sudah berumur, tidak boleh makan dengan terlalu banyak rasa,” jelas Pram, berusaha bersikap netral.


“Mama sudah tidak boleh mengkonsumsi makanan yang terlalu asin, manis,” lanjut Pram. Berusaha menjaga muka kedua wanita di dekatnya.


Setelah mendengar penjelasan Pram, ketiganya makan dengan tenang. Tidak banyak bicara, hanya tenggelam dengan pikiran masing-masing.


“Sayang, aku harus ke kantor hari ini. Kamu di rumah saja, menemani mama.” Pram berkata


“Bayu akan ikut bersamaku. Tidak masalah kan?” tanya Pram, menyuapkan sendok terakhirnya ke dalam mulut.


Kailla mengangguk. Melirik mertuanya dengan senyum penuh arti. Ada banyak rencana melayang-layang di otaknya. Dia sudah tidak sabar menunggu Pram keluar dari apartemen.


“Aku akan pulang cepat. Setelah itu kita bisa....” Pram memainkan alisnya sedemikan rupa, berusaha menggoda sang istri.


“Ah! Memalukan. Kamu membuatku mengingatnya lagi,” omel Kailla, mencubit pinggang suaminya.


“Hahahaha... !” tawa lelaki itu pecah , menatap istrinya yang merona malu ketika aktivitas intim mereka di bahas di depan sang mertua.


“Baiklah, aku pergi sekarang. Jangan nakal dirumah. Atau aku akan menggigitmu nanti malam. Ingat itu!” ancam Pram, mengecup bibir Kailla seadanya.


Ada sang mama duduk di depan, mereka tidak bisa leluasa berpelukan atau berciuman seperti biasanya.


“Ma, aku pamit ya,” ucap Pram, menghampiri Ibu Citra, menghadiahkan kecupan di pipi keriput mamanya.


Menantu dan mertua itu masih sama-sama diam. Tetapi begitu bunyi pintu apartemen tertutup, Kailla langsung tersenyum.


“Ma, Gucci, Prada, Channel, LV atau Hermes?” tanya Kailla tiba-tiba. Menyebutkan satu persatu merek-merek tas yang memenuhi lemari kamarnya.


“Serius, Kai?” tanya Ibu Citra, memastikan. Matanya membulat, nyaris tidak percaya begitu indra pendengarannya menangkap berbagai tas mahal yang diabsen menantunya.


“Serius Ma. Tetapi tidak mungkin sehari kita bisa mengelilingi semua toko. Kita harus kembali ke apartemen, sebelum Pram pulanh dari kantor.”


“Kita pergi sekarang saja, Kai. Mama sudah tidak sabar.”


Ibu Citra terlihat antusias sekali. Selama ini dia hanya bisa mendengar dan melihat dari ponsel saja. Tidak berkesempatan melihat langsung. Koleksi tas branded yang dimilikinya selama ini, tidak lain pemberian dari Pram semua. Putranya yang membelikan untuknya.


“Ayo, kita bersiap,” ajak Kailla tidak kalah bersemangatnya.


Keduanya lupa dengan dendam yang masih membara sewaktu-waktu, lupa dengan konflik-konflik kecil yang kadang tercipta tanpa sengaja.


***


Kailla mendekap erat lengan mertuanya sepanjang perjalanan dari apartemen ke toko-toko tas branded yang berjajar rapi di salah satu ruas jalan utama. Sengaja mereka berjalan kaki, karena jarak yang tidak terlalu jauh. Sesekali memastikan wanita tua itu baik-baik saja di udara dingin Kota Wina. Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu pada mertuanya. Pasti Pram akan memarahinya.


“Mama baik-baik saja kan?” tanya Kailla, setelah mendengar tarikan nafas yang sedikit berat dari biasanya keluar dari mulut Ibu Citra.


“Iya Kai, mama baik-baik saja. Masih jauh?” Ibu Citra balik bertanya. Ini adalah pengalaman pertamanya berbelanja kembali setelah perusahaan keluarga mereka bangkrut 40an tahun yang lalu. Dia benar-benar menikmati dan sangat antusias.


“Ini sudah sampai, Ma.” Kailla mengajak mertuanya masuk ke dalam sebuah toko setelah menunjuk merek yang terpajang di atasnya.


“Ya Tuhan, Kai. Aku menginginkan semuanya,”.bisik Ibu Citra menatap satu per satu tas yang terpajang.


Kalau dirupiahkan, harga tas yang dipajang disana mungkin kisaran puluhan juta sampai miliaran rupiah, tergantung tipe-tipenya.


“Mama mau yang mana? Ambil saja. Nanti putramu yang akan membayarnya,” ucap Kailla, mengeluarkan kartu kredit miliknya yang bisa digunakan di luar negri.


“Bagaimana kita membelinya Kai, bahkan aku tidak mengerti apa yang dibicarakan,” ucap Ibu Citra lagi.


“Mama tenang saja, sebagian dari mereka bisa berbahasa Inggris. Tetapi kalau sampai tidak bisa, mereka paham bahasa tubuh,” celetuk Kailla tertawa.


“Anak nakal!”


Ibu Citra tidak melanjutkan ucapannya lagi, tiba-tiba ekor matanya menangkap sebuah tas yang menarik perhatiannya. Lama tertegun, memperhatikan dari berbagai sisi, akhirnya dia memberanikan diri membuka suara.


“Kai, mama mau yang itu,” ucapnya ragu, menunjuk dengan telunjuk tas yang dimaksud.


Kailla tersenyum, meminta karyawan toko langsung membawanya. Seketika membuat Ibu Citra terkejut. Menantunya begitu tidak perhitungan atau memang harga tas itu tidak terlalu mahal.


“Kai, berapa harganya?” tanyanya penasaran.


Terlihat Kailla menghitung dengan jarinya sambil komat kamit. Kemampuan berhitungnya yang dibawah rata-rata membuat dia kesulitan menghitung harga tas dalam jumlah rupiah. Lama berpikir akhirnya dia bersuara.


“Sekitar empat lima ratus mungkin, Ma,” sahutnya tidak mau pusing. Toh, semuanya akan ditagihkan pada Pram.


“Ribu?” tanya Ibu Citra polos. Mau menyebut juta rasanya tidak masuk akal Kailla akan sesantai ini.


“Ya Tuhan. Mama ini asli bukan kw!” gerutu Kailla kesal.


Ibu Citra jadi meragu, khawatir Pram akan meradang. Mereka menghabiskan uang begitu besar nominalnya hanya untuk sebuah tas.


“Suamiku tidak akan marah,” ucap Kailla seolah paham apa yang dipikirkan mertuanya.


Mendengar ucapan Kailla, Ibu Citra bisa menangkap satu hal. Pram pasti sangat mencintai istrinya.


“Kai, putraku begitu mencintaimu. Aku heran, bagaimana kalian bisa menikah?” tanya Ibu Citra tiba-tiba. Mengalihkan topik pembicaraan.


Mencari jawaban dari pertanyaan yang selama ini berputar di otaknya. Dia tidak berani bertanya langsung pada putranya.


“Dijodohkan daddy.” Kailla menjawab singkat. Tetapi, kemudian dia tersadar.


“Maaf Ma, aku tidak bermaksud membuat mama mengingat semuanya,” ucap Kailla, merasa bersalah. Menyebut daddy di depan mertuanya, sama saja mengungkit dendam masa lalu.


“Kai, apakah kamu mencintai putraku?” tanya Ibu Citra, pembahasan ini membuatnya melupakan tas mahalnya.


Kailla hanya mengangguk. Tetapi anggukan itu tidak bisa membuat Ibu Citra puas.


“Kamu yakin. Perbedaan usia kalian terlampau jauh, menikah pun karena dijodohkan, bukan karena benar-benar cinta,” ucap Ibu Citra.


Tampak Kailla menghela nafas, menatap tajam ke manik mata mertuanya.


“Putramu itu merawatku sejak lahir. Bahkan saat aku lahir ke dunia, dialah orang pertama yang memelukku. Tidak ada daddy disana. Mamaku meninggal saat aku lahir.” Kailla bercerita.


Tetapi bukan karena itu aku bertahan disisi Pram selama ini. Bukan hanya karena aku mencintai Pram. Seberat apapun rumah tangga yang kami lewati, pertengkaran, perselisihan, aku tetap berusaha bertahan. Alasanku tetap bertahan disamping Pram karena dia adalah suami pilihan daddy.”


Ibu Citra terbelalak. Penasarannya selama ini terjawab sudah.


“Meninggalkan Pram berarti aku harus siap meninggalkan daddy. Dan aku tidak bisa meninggalkan daddy,” ucap Kailla berlinang airmata. Mengingat daddynya yang koma hampir 3,5 tahun.


“Aku bisa meninggalkan semua kemewahan, semua uang, semua hal. Tetapi aku tidak bisa meninggalkan daddy.”


“Aku bisa hidup susah, tapi aku tidak bisa hidup tanpa daddy,” lanjut Kailla, menumpahkan isi hatinya.


Ibu Citra memijat pelipisnya. Kelelahan ditambah kata daddy yang diucapkan Kailla berulang-ulang membuatnya kesulitan bernafas. Kepalanya pusing, kehilangan keseimbangan. Tiba-tiba Ibu Citra ambruk di tempat, membuat semua orang panik.


“Ma..!”


***


To be continued


Love You all


Terimakasih.